IHSG turun 1,11 persen ke level 6.313,56 pada penutupan perdagangan sesi pertama Selasa, 22 September 2026. Pelemahan itu terjadi setelah Indeks Harga Saham Gabungan sempat bergerak di zona hijau pada awal perdagangan, tetapi kemudian berbalik arah ketika tekanan jual meluas ke sebagian besar sektor.
Data perdagangan hingga jeda siang menunjukkan pergerakan indeks cukup tajam. IHSG sempat menyentuh 6.423,83 pada awal sesi, lalu bergerak turun ke area 6.300. Volume transaksi mencapai sekitar 20,63 miliar saham dengan nilai Rp7,98 triliun, sedangkan frekuensi perdagangan tercatat sekitar 1,35 juta kali.
IHSG Turun Setelah Tekanan Menyebar ke Banyak Sektor
Pelemahan bukan hanya datang dari satu atau dua saham. Sekitar pukul 10.45 WIB, data pasar mencatat 546 saham melemah, 137 saham menguat, dan 280 saham tidak bergerak. Komposisi tersebut memperlihatkan tekanan jual berlangsung cukup merata, bukan sekadar koreksi pada segelintir emiten berkapitalisasi besar.
Sektor energi mencatat penurunan paling dalam, mendekati 2 persen. Setelah itu, tekanan terlihat pada sektor utilitas, properti, konsumen nonprimer, bahan baku, industri, finansial, konsumen primer, dan kesehatan. Koreksi lintas sektor membuat ruang bagi indeks untuk bertahan di zona hijau semakin sempit.
Saham berkapitalisasi besar ikut memperberat indeks. BBRI menjadi kontributor negatif terbesar dengan tekanan sekitar 14,6 poin. BYAN menyusul dengan kontribusi negatif sekitar 7,74 poin. BRMS, TLKM, BMRI, BBCA, BUMI, DSSA, IMPC, dan BBNI juga tercatat mengurangi poin indeks.
Masuknya beberapa bank besar dalam daftar pemberat menjelaskan mengapa sektor finansial ikut tertekan. BBRI, BMRI, dan BBNI merupakan bank milik negara dengan bobot berarti dalam indeks. Ketika ketiganya melemah bersamaan, dampaknya terhadap indeks komposit lebih terlihat daripada pergerakan saham berkapitalisasi kecil.
Dari Pembukaan Hijau ke Area 6.300
Perubahan arah pasar terlihat dari rentang geraknya. Indeks dibuka sekitar 6.392,34 dan sempat naik, tetapi kemudian turun hingga sekitar 6.300,11 atau melemah 1,33 persen pada pertengahan sesi. Menjelang jeda siang, sebagian tekanan mereda sehingga penurunan tercatat 1,11 persen pada 6.313,56.
Perbedaan angka intraday dan penutupan sesi I penting diperhatikan karena keduanya menggambarkan waktu pencatatan berbeda. Level 6.300,11 merupakan potret sekitar pukul 10.45 WIB, sedangkan 6.313,56 adalah posisi akhir sesi pertama. Angka tersebut bukan posisi penutupan perdagangan sehari penuh.
Di tengah koreksi luas, beberapa emiten masih memberi kontribusi positif. AMMN menjadi salah satu penahan indeks dengan tambahan sekitar 2,11 poin. MEDC dan ISAT juga bergerak positif, meski kontribusinya belum cukup mengimbangi tekanan dari bank besar dan saham energi.
Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia
Pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan suku bunga dijadwalkan diumumkan Rabu, 23 September 2026. Konsensus pasar memperkirakan BI Rate dipertahankan pada 5,75 persen, dengan suku bunga deposit facility 4,75 persen dan lending facility 6,5 persen.
Ekspektasi suku bunga berpengaruh terhadap valuasi saham, biaya pendanaan perusahaan, pergerakan rupiah, dan minat investor pada instrumen pendapatan tetap. Karena itu, saham perbankan kerap sensitif menjelang keputusan bank sentral. Namun, pergerakan satu sesi tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja karena arus dana, harga komoditas, dan sentimen global bergerak bersamaan.
Pelemahan domestik terjadi ketika sebagian besar bursa Asia justru menguat. KOSPI Korea Selatan dan Nikkei 225 Jepang naik, disusul sejumlah indeks di Taiwan, Malaysia, China, Thailand, Singapura, dan Hong Kong. Divergensi ini menunjukkan tekanan pada IHSG saat itu lebih berat daripada kecenderungan regional.
Investor masih mencermati harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan biaya energi berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi arah suku bunga. Di pasar Indonesia, faktor global tersebut bertemu dengan penantian keputusan BI dan tekanan pada saham berkapitalisasi besar.
Apa Artinya bagi Investor?
Koreksi tajam dalam satu sesi tidak otomatis menentukan arah pasar lebih panjang. Data intraday perlu dibaca bersama nilai transaksi, keluasan pasar, arus dana asing, keputusan suku bunga, dan fundamental masing-masing emiten. Investor juga perlu membedakan pergerakan indeks dengan kondisi setiap perusahaan karena saham dapat bergerak berbeda dari IHSG.
Perubahan aturan pasar juga layak dipantau. Bursa sebelumnya mengumumkan batas harga saham Rp1 dan perubahan ARA-ARB, sementara OJK menerbitkan kerangka demutualisasi BEI serta batas kepemilikan saham bursa. Keduanya bukan pemicu langsung koreksi sesi ini, tetapi menjadi bagian perubahan struktur pasar modal.
Konteks sebelumnya juga terlihat saat IHSG ditutup turun 1,69 persen pada periode perdagangan lain. Meski sama-sama koreksi, penyebab, keluasan tekanan, dan posisi akhirnya harus dinilai berdasarkan data pada hari masing-masing.
Hingga akhir sesi pertama, gambaran utamanya adalah tekanan jual luas, pelemahan saham bank BUMN, dan sektor energi sebagai pemberat. Posisi akhir perdagangan sehari penuh masih dapat berubah pada sesi kedua. Angka sesi I sebaiknya diperlakukan sebagai potret sementara, bukan dasar tunggal untuk mengambil keputusan beli atau jual.

