Bacotan Online – Saham PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) menyentuh batas auto rejection atas (ARA) pada sesi perdagangan Senin (12/10/2026). Pergerakan positif emiten ini terjadi setelah manajemen menyampaikan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait perampungan akuisisi kepemilikan saham pada entitas tambang batu bara di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Realisasi Transaksi Kepemilikan Konsesi Tambang di Kutai Kartanegara
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi perseroan, BIKE merampungkan pengambilalihan 45 persen saham PT Sumber Bara Abadi. Transaksi strategis ini dijalankan melalui anak usaha perseroan, yakni PT Prambanan Nusantara Energi (PNE). Langkah korporasi tersebut ditujukan untuk memperluas diversifikasi usaha sekaligus memperkuat pengelolaan rantai pasok bahan baku energi.
PT Sumber Bara Abadi memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi dengan area konsesi seluas 4.909 hektare yang tersebar di Kecamatan Sebulu dan Muara Kaman. Berdasarkan data registri mineral dan batu bara, estimasi cadangan batu bara pada area tersebut mencapai 86 juta metrik ton. Akuisisi ini juga mencakup kepemilikan fasilitas pelabuhan, sarana conveyor belt, serta infrastruktur pendukung tambang guna mengoptimalkan laju pengapalan komoditas.
Dinamika Perdagangan Bursa dan Rencana Pengembangan Operasional
Data perdagangan BEI mencatat saham BIKE terkunci di level batas atas Rp2.670 per lembar saham, menguat 24,77 persen atau naik 530 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp2.140. Sepanjang sesi transaksi harian, saham BIKE membukukan volume perdagangan sebanyak 75,92 ribu lot dengan nilai transaksi mencapai Rp17,98 miliar pada harga rata-rata Rp2.368 per lembar. Posisi tersebut memperpanjang tren apresiasi perseroan yang telah melambung signifikan dibanding harga saat penawaran umum perdana saham (initial public offering) di level Rp170 per lembar pada Maret 2022.
Manajemen memproyeksikan target produksi awal dari konsesi tersebut mencapai 2 juta metrik ton per tahun, dengan potensi pendapatan sekitar 84 juta dolar AS. Langkah ini menjadi aksi anorganik lanjutan setelah perseroan sebelumnya mengakuisisi 72 persen saham PT Berau Usaha Mandiri di Berau. Manajemen bersama komite audit kini memfokuskan perhatian pada pemenuhan aspek kepatuhan lingkungan serta penyesuaian tata kelola operasional penambangan sebelum memulai aktivitas produksi komersial secara terpadu.

