Bacotan Online – Jaringan pengeras suara masjid di sejumlah wilayah Indonesia mulai diuji coba sebagai infrastruktur peringatan dini gempa bumi (early warning system). Program riset terpadu ini ditujukan untuk memperluas jangkauan penyampaian informasi bahaya seismik ke permukiman padat dan kawasan pelosok yang kerap mengalami gangguan jaringan telekomunikasi seluler saat bencana alam melanda.
Inisiatif teknologi mitigasi bencana ini dikembangkan melalui kemitraan riset antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Disaster Prevention Research Institute dari Kyoto University, Jepang. Gagasan ini berakar dari kajian kebencanaan pascagempa Sumatra Barat 2009, saat keterlambatan diseminasi peringatan sebelum gelombang getaran tiba memperbesar risiko keselamatan warga di permukiman.
Tim peneliti menilai ratusan ribu fasilitas pengeras suara rumah ibadah di Indonesia yang selama ini dirawat swadaya oleh masyarakat memiliki potensi strategis sebagai simpul sirene darurat. Mengingat infrastruktur menara pemancar seluler kerap terdampak kerusakan fisik saat guncangan awal terjadi, transmisi sinyal audio langsung ke pengeras suara komunitas dinilai menjadi instrumen penyelamatan alternatif yang lebih tangguh di lapangan.
Mekanisme Otomasi Sinyal dan Deteksi Gelombang Primer
Dalam skema uji coba percontohan, modul pemancar audio pada menara pengeras suara dihubungkan langsung dengan sensor seismograf berkecepatan tinggi. Ketika sensor mendeteksi kedatangan gelombang primer (P-wave) yang merambat mendahului gelombang sekunder (S-wave) perusak, sistem secara otomatis mengaktifkan transmisi sinyal peringatan tanpa menunggu instruksi manual dari petugas posko kebencanaan.
Integrasi sinyal otomatis ini dirancang untuk menyediakan jeda waktu evakuasi mandiri antara lima hingga sepuluh detik bagi warga dalam radius 50 kilometer dari pusat gempa bumi. Rentang waktu singkat tersebut menjadi ruang krusial bagi warga untuk segera berlindung dari struktur bangunan rentan atau menuju titik kumpul evakuasi sebelum getaran permukaan tiba.
Ruang Lingkup Evaluasi Perangkat dan Rencana Jangka Panjang
Program riset kolaboratif ini dijadwalkan berjalan hingga 2030 sebagai bagian dari pengujian menyeluruh terhadap ketahanan perangkat elektronik di iklim tropis, tingkat sensitivitas sensor, serta respons komunitas lokal. Tim peneliti memfokuskan evaluasi pada kestabilan daya cadangan baterai agar pengeras suara tetap berfungsi ketika pasokan listrik utama terputus.
Selain jaringan rumah ibadah, BRIN dan mitra peneliti berencana memperluas integrasi sistem peringatan dini otomatis ini ke pengeras suara fasilitas pendidikan dan frekuensi radio komunitas. Langkah lanjutan ini diarahkan untuk memperkuat arsitektur mitigasi bencana berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan pedoman kesiapsiagaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

