Bacotan Online – Aksi jual bersih pemodal asing tercatat mencapai Rp166,22 miliar di seluruh pasar reguler pada penutupan sesi I perdagangan awal pekan, Senin (12/10/2026). Gelombang pelepasan portofolio tersebut menekan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga terkoreksi 1,93 persen atau 61,44 poin ke posisi 5.975,78, setelah pada awal sesi sempat menguat ke level 6.109,32.
Pelepasan Saham Berkapitalisasi Besar dan Distribusi Sektoral
Berdasarkan rekapitulasi data transaksi Bursa Efek Indonesia, total nilai transaksi pemodal asing sepanjang paruh pertama hari perdagangan tercatat sebesar Rp3,33 triliun. Angka tersebut terdiri atas transaksi beli sebesar Rp1,58 triliun berbanding nilai penjualan yang menembus Rp1,75 triliun, sehingga menciptakan selisih arus modal keluar bersih atau net foreign sell yang cukup dominan.
Tekanan jual paling signifikan dialami oleh saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan akumulasi pelepasan pemodal asing mencapai Rp44,40 miliar. Di sektor perbankan, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turut dilepas pemodal luar negeri senilai Rp38,65 miliar, disusul oleh PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) sebesar Rp23,93 miliar dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) senilai Rp19,34 miliar.
Koreksi indeks secara sektoral paling dalam menimpa kelompok saham infrastruktur yang turun 6,70 persen, diikuti sektor energi yang melemah 3,65 persen, dan sektor bahan baku yang terkoreksi 2,82 persen. Kondisi tersebut membebani pergerakan indeks komposit secara luas, kendati sejumlah saham berbasis kebutuhan konsumen masih mencatatkan aksi beli selektif dari pemodal domestik.
Sentimen Makroekonomi Global dan Sikap Kehati-hatian Pemodal
Pelemahan indeks bursa domestik berlangsung sejalan dengan sikap kehati-hatian investor di kawasan regional Asia. Pelaku pasar keuangan internasional tengah mencermati rilis indikator inflasi Amerika Serikat dan Tiongkok yang dijadwalkan terbit pada pertengahan pekan ini, di samping rangkaian pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) serta Bank Dunia di Bangkok.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas rantai pasok energi global turut meningkatkan premi risiko pada pasar berkembang atau emerging market. Dalam jangka pendek, para pelaku pasar institusional cenderung mengutamakan manajemen likuiditas sembari menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga acuan global pada kuartal penutup tahun ini.

