Opini & Wawasan

Badai Nolo Mengancam Hawaii dengan Banjir Katastrofis: Siklon Keempat di Musim El Niño Terganas 2026

Warga Hawaii memandang laut berawan menjelang datangnya Badai Nolo

Bacotan Online – Hawaii kembali bersiaga menghadapi ancaman alam mematikan. Badai Nolo, yang pada Jumat (26/9) pagi berada sekitar 200 mil di selatan Big Island, diproyeksikan membawa curah hujan hingga 35 inci dan banjir yang oleh National Hurricane Center (NHC) disebut berpotensi “katastrofis dan mengancam nyawa.” Ini menandai kali keempat dalam satu musim Hawaii diterjang siklon tropis — rekor yang belum pernah terjadi dalam sejarah meteorologi kepulauan tersebut.

Gubernur Josh Green telah mendeklarasikan darurat untuk seluruh negara bagian, mengaktifkan lebih dari 230 personel Hawaii National Guard, dan menutup seluruh sekolah menjelang kedatangan puncak badai. Permintaan penetapan federal emergency declaration untuk empat county sudah dikirim ke Washington, tetapi hingga Jumat malam belum memperoleh persetujuan dari Presiden Donald Trump.

Jalur Badai dan Proyeksi NHC

Berdasarkan buletin resmi NHC, Badai Nolo bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 9 mph dan bertekanan pusat minimum 1.002 milibar. Angin maksimum berkelanjutan tercatat 45 mph, namun prakiraan menunjukkan Nolo akan menguat menjadi major hurricane — Kategori 3 atau lebih tinggi — menjelang akhir pekan.

NHC memperingatkan tiga ancaman utama secara simultan:

  • Banjir dan longsor: Curah hujan diproyeksikan mencapai 15–20 inci di Big Island dengan puncak 35 inci di lereng pegunungan. Maui berpotensi menerima hingga 15 inci, sementara pulau-pulau lain dapat mencapai 6 inci.
  • Angin perusak: Tropical-storm-force winds (39 mph atau lebih) diprediksi menyapu bagian selatan Big Island, dengan kemungkinan hembusan hurricane-force tergantung seberapa dekat pusat badai melintas.
  • Storm surge dan gelombang tinggi: Gelombang besar diprediksi menghantam pesisir, disertai storm surge setinggi 1–3 kaki di sekitar Big Island.

Komunitas Masih Pulih dari Badai Lala

Yang membuat situasi semakin genting adalah kondisi lapangan. Nolo diperkirakan membawa hujan terberat justru ke wilayah yang paling parah diterjang Hurricane Lala pada Agustus lalu. Lala, badai Kategori 1 yang menghantam langsung Big Island, tercatat sebagai siklon terbasah ketiga dalam sejarah Hawaii dan yang paling merusak sejak Hurricane Iniki pada 1992.

Sebagian warga masih mengungsi setelah rumah hancur, jalan terputus, dan listrik baru beberapa pekan dipulihkan. “Kami baru mulai membangun kembali, tapi sekarang seolah badai ini akan menghancurkan kami lagi,” kata Troy Gacayan, seorang guru SMA dan pendeta di Big Island, kepada Honolulu Civil Beat. Tanah yang masih jenuh air dari tiga siklon sebelumnya membuat risiko banjir bandang dan longsor berlipat ganda.

Musim Badai Pasifik 2026 Cetak Rekor Bersejarah

Nolo bukan insiden tunggal, melainkan puncak dari musim badai Pasifik 2026 yang diakui para ahli meteorologi sebagai salah satu yang paling aktif dalam catatan modern. Musim ini telah melahirkan 16 badai tropis bernama, di mana 6 menguat menjadi hurricane dan 4 di antaranya mencapai major hurricane (Kategori 3 ke atas). Yang paling dahsyat, Hurricane Lowell, sempat mengganas hingga Kategori 5 dengan angin 160 mph sebelum melemah dan menghantam pulau-pulau barat Hawaii dengan angin kencang dan gelombang besar.

Kronologi empat siklon yang menyerang Hawaii dalam satu musim:

  • Agustus 2026 — Hurricane Lala: Badai Kategori 1, mata badai menyerempet selatan Big Island. Menyebabkan banjir hebat, longsor, dan pemadaman listrik masif. Badai paling merusak di Hawaii sejak Hurricane Iniki 1992.
  • Agustus–September — Tropical Storm Moke: Melintas lebih jauh ke selatan, tetapi pinggiran badai tetap membawa hujan dan angin. Banjir terjadi karena tanah masih jenuh dari Lala.
  • September — Hurricane Lowell: Menguat hingga Kategori 5 (angin 160 mph, tekanan 932 mbar), melemah sebelum mendekat, namun tetap menghantam pulau-pulau barat dengan intensitas tinggi.
  • September — Hurricane Nolo: Awalnya terbentuk lalu melemah, kemudian re-intensify — dijuluki “zombie storm” — kini mengancam Big Island sebagai major hurricane.

Menurut Scientific American, Hawaii belum pernah memiliki tiga hurricane melintas dalam jarak 50 mil dalam satu tahun. Nolo berpotensi mencatatkan yang keempat — sebuah anomali yang belum terukur dalam basis data badai NOAA.

Faktor El Niño: Mesin Pemicu Super di Balik Rekor

Para klimatolog menunjuk satu variabel utama: El Niño super yang sedang berlangsung sejak Juni 2026. Fenomena penghangatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah ini menurunkan wind shear — musuh alami pembentukan badai — sekaligus memasok energi panas berlebih yang menjadi bahan bakar siklon tropis.

NOAA telah memprediksi sejak awal musim bahwa ada 70 persen kemungkinan musim badai di Pasifik tengah akan berada di atas normal. Kenyataannya, musim ini melampaui proyeksi terburuk. Senator Hawaii Brian Schatz, dalam pidatonya di Kongres pekan ini, menegaskan korelasi antara krisis iklim dan intensitas badai bertubi-tubi: “Ada alasan mengapa bencana destruktif ini menumpuk satu demi satu — planet yang memanas.”

Perspektif Sejarah: Terakhir Kali 67 Tahun Lalu

Basis data badai NOAA mencatat bahwa hanya satu major hurricane lain yang pernah melintas dalam radius 150 mil dari Big Island, yaitu Hurricane Dot pada Agustus 1959, yang kemudian menghantam Kauai. Jika Nolo benar-benar menguat menjadi Kategori 3 atau lebih dan mempertahankan lintasan saat ini, ini akan menjadi dampak badai terkuat bagi Big Island dalam 67 tahun — menambah rekaman sejarah iklim Pasifik yang semakin mengkhawatirkan.

Menariknya, Nolo sendiri memiliki kisah unik. Badai ini awalnya terbentuk sebagai Tropical Depression Fifteen-E pada 13 September, lalu melemah dan hampir lenyap akibat wind shear tinggi. Namun saat bergerak ke barat menuju perairan dengan shear lebih rendah, badai ini bangkit kembali — sebuah fenomena yang dijuluki “zombie storm” dalam terminologi meteorologi.

Apa yang Harus Diwaspadai

Badan manajemen darurat Hawaii menginstruksikan warga dan wisatawan untuk meninjau rencana evakuasi, menyiapkan persediaan darurat, memastikan properti terlindungi dari banjir, dan mempertimbangkan evakuasi ke wilayah lebih aman. Daniel Compton, seorang wisatawan dari Seattle yang tengah berada di Big Island, mengakui kekhawatirannya: “Apakah kami bisa keluar dari sini atau tidak — tapi soal cuaca, ya sudah begitulah adanya.”

Model cuaca terbaru menunjukkan sedikit pergeseran lintasan ke selatan, yang bisa membuat pusat badai tidak menghantam langsung Big Island. Namun para ahli memperingatkan agar tidak terlena: dampak hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi akan terasa jauh melampaui zona inti badai, terlepas dari apakah Nolo mendarat langsung atau tidak. Pelajaran dari Hurricane Lowell beberapa pekan lalu, yang berbelok mendadak ke arah daratan saat melintas paling dekat, menjadi pengingat bahwa badai tropis selalu menyimpan kejutan.

Hawaii kini menghadapi pertanyaan yang lebih besar dari sekadar satu badai: apakah infrastruktur dan ketahanan komunitasnya cukup untuk menahan pola bencana beruntun yang semakin terhubung dengan dinamika iklim global yang terus bergeser. Bagi lebih dari satu juta penduduk kepulauan ini, jawaban atas pertanyaan itu bukan lagi soal kapan, melainkan seberapa siap.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Benua Afrika terbelah
Opini & Wawasan

Afrika Perlahan Terbelah, Lautan Baru Bisa Muncul Jutaan Tahun Lagi

Afrika Timur perlahan terbelah akibat proses geologi. Penelitian menjelaskan bagaimana lautan baru dapat terbentuk jutaan tahun mendatang.
spektrum 700 MHz Komdigi
Opini & Wawasan

Nasib Sisa Spektrum 700 MHz Terungkap, Komdigi Siapkan untuk Pertahanan

Komdigi mengusulkan sisa spektrum 700 MHz untuk telekomunikasi pertahanan. Simak pembagian frekuensi dan dampaknya bagi jaringan seluler.