Bacotan Online – Bank Indonesia (BI) mencatat arus aliran dana modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik secara neto telah menembus angka Rp131 triliun hingga penutupan 28 September 2026. Angka akumulasi neto ini menjadi bantalan penting bagi ketahanan eksternal ekonomi nasional di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih diwarnai ketidakpastian suku bunga global dan fluktuasi geopolitik.
Kinerja positif aliran modal asing atau capital inflow tersebut ditopang kuat oleh instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang membukukan nilai masuk fantastis mencapai Rp165,59 triliun. Pada periode yang sama, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) turut menyumbang inflow sebesar Rp27,51 triliun. Akumulasi aliran dana di kedua instrumen berpenghasilan tetap tersebut berhasil mengimbangi dan menutup tekanan keluar modal asing atau capital outflow dari pasar saham domestik yang hingga akhir bulan masih mencatatkan nilai jual bersih asing sebesar Rp62,10 triliun.
Dinamika Portofolio: SRBI dan SBN Jadi Penahan Tekanan Pasar Saham
Perbedaan arah arus dana asing antara instrumen moneter dan pasar ekuitas mencerminkan pergeseran preferensi investor global. Pelaku pasar institusi global cenderung menaruh dana pada instrumen jangka pendek dengan profil risiko yang terukur serta likuiditas tinggi. Kehadiran SRBI sejak diluncurkan telah bertransformasi menjadi jangkar utama penyerapan likuiditas valuta asing sekaligus instrumen stabilisasi nilai tukar rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa derasnya aliran modal masuk ini memberikan keleluasaan bagi bank sentral dalam menjaga kecukupan likuiditas perbankan serta meredam volatilitas nilai tukar secara berkesinambungan. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan strategi terpadu bank sentral dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan pengelolaan likuiditas ini juga berkaitan erat dengan manuver moneter sebelumnya di mana BI agresif borong surat utang Rp300 triliun guna memastikan transmisi likuiditas perbankan tetap berjalan mulus ke sektor riil tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi.
Kalibrasi Bertahap: Yield SRBI Dipangkas Mendekati 100 Basis Poin
Seiring membaiknya persepsi risiko dan derasnya likuiditas yang masuk, Bank Indonesia mulai menjalankan langkah kalibrasi secara bertahap atau gradual calibration terhadap instrumen SRBI. Kalibrasi dilakukan pada dua sisi krusial: tingkat imbal hasil (yield) dan volume likuiditas yang dikelola.
Dari sisi imbal hasil, lelang SRBI sebelumnya sempat menawarkan bunga kompetitif di level 7,74 persen guna menarik dana segar pada fase pengetatan moneter global. Namun, dalam lelang terakhir menjelang akhir September 2026, tingkat yield SRBI telah melandai ke posisi 6,76 persen.
“Sudah hampir 100 basis point kita kalibrasi,” ungkap Erwin dalam sesi paparan kepada awak media di Jakarta. Penurunan imbal hasil sebesar 98 basis point ini mencerminkan bahwa premi risiko investasi di Indonesia dinilai membaik oleh investor asing, sehingga bank sentral tidak perlu lagi membayar biaya dana (cost of fund) setinggi sebelumnya untuk menarik likuiditas eksternal.
Sementara itu dari sisi volume, total penerbitan SRBI yang beredar di pasar uang sempat menyentuh rekor tertinggi di kisaran Rp1.050 triliun. Posisi saldo beredar terkini berada di level Rp1.028 triliun. Penurunan volume secara terkendali ini membuktikan bahwa bank sentral melakukan normalisasi secara terukur agar likuiditas di sistem perbankan tidak terserap berlebihan ke instrumen moneter dan tetap mengalir membiayai aktivitas ekonomi.
Tiga Fungsi Strategis SRBI di Sistem Keuangan Nasional
Dalam penjelasannya, Erwin menekankan bahwa SRBI dirancang bukan semata sebagai alat penyerapan dana darurat, melainkan memiliki tiga fungsi struktural yang saling melengkapi:
- Instrumen Pengendalian Likuiditas Moneter: Membantu bank sentral mengatur ketersediaan uang beredar di pasar uang antarbank agar suku bunga jangka pendek tetap berada dalam koridor target kebijakan.
- Magnet Penarik Aliran Modal Asing: Menyediakan wadah investasi jangka pendek berdenominasi rupiah dengan imbal hasil menarik yang didukung jaminan portofolio surat berharga milik bank sentral sebagai underlying asset.
- Pendorong Pendalaman Pasar Keuangan: Menghidupkan transaksi di pasar sekunder (secondary market) antarpelaku pasar, sehingga likuiditas pasar modal dan pasar uang domestik menjadi lebih dalam dan tahan terhadap guncangan eksternal.
Pendalaman pasar keuangan ini menjadi kian penting ketika struktur pasar modal domestik tengah bersiap menghadapi dinamika kepemilikan baru, seperti wacana strategis di mana Danantara incar 5-10% saham Bursa Efek Indonesia dalam rangka penguatan ekosistem investasi nasional.
Analisis Spread Imbal Hasil: Daya Tarik SBN terhadap US Treasury Tetap Terjaga
Faktor fundamental lain yang menopang derasnya capital inflow adalah daya saing selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat. Erwin memaparkan bahwa selisih atau spread antara imbal hasil SBN tenor 10 tahun dengan obligasi US Treasury 10 tahun saat ini masih berada di kisaran 186 basis point.
Rentang spread di level 186 basis point tersebut dinilai masih cukup lebar untuk memberikan kompensasi risiko yang memadai bagi manajer investasi global. Selama spread terjaga di atas batas psikologis investor, aset keuangan rupiah tetap kompetitif dibandingkan aset negara berkembang lainnya di kawasan Asia.
“Nah, dan kalau kita lihat bagaimana impact-nya terhadap aliran modal, aliran modal kita so far masih cukup bagus,” tegas Erwin.
Dampak Nyata bagi Pelaku Usaha dan Konsumen
Derasnya aliran dana asing senilai Rp131 triliun ini membawa dampak langsung yang dapat dirasakan oleh perekonomian domestik:
- Stabilitas Kurs Rupiah: Pasokan valuta asing yang memadai menahan tekanan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga membatasi kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation) seperti bahan baku manufaktur dan pangan.
- Ruang Pelonggaran Biaya Kredit: Penurunan yield SRBI sebesar 100 basis point membuka ruang bagi perbankan nasional untuk menurunkan suku bunga deposito secara bertahap, yang pada gilirannya akan menekan suku bunga kredit modal kerja dan kredit konsumsi bagi masyarakat luas.
- Cadangan Devisa Menguat: Masuknya dana valas ke instrumen moneter memperkuat posisi cadangan devisa nasional, memberikan perlindungan bagi neraca pembayaran Indonesia dalam mengantisipasi potensi gejolak pasar global di kuartal akhir 2026.
Dengan kalibrasi imbal hasil yang kian matang dan volume yang terjaga di atas Rp1.000 triliun, Bank Indonesia berhasil mempertahankan keseimbangan antara menjaga daya tarik aset domestik bagi pemodal asing dan mendorong transmisi likuiditas ke roda ekonomi riil.

