Teknologi & AI

RUPSLB Indosat Kunci Vikram Sinha Jadi CEO: Pacu AI North Star dan Fiber 86 Ribu Kilometer

Vikram Sinha Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison pimpin akselerasi AI North Star

Bacotan Online – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk resmi mengesahkan perpanjangan masa jabatan Vikram Sinha sebagai Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO). Keputusan strategis yang disepakati oleh para pemegang saham pada penghujung September 2026 ini memberikan kepastian kepemimpinan sekaligus mengunci arah transformasi perseroan dari operator telekomunikasi seluler konvensional menjadi entitas teknologi berdaya komputasi tinggi atau AI TechCo di kawasan Asia Tenggara.

Keputusan perpanjangan masa dinas eksekutif ini sejatinya telah diumumkan pertama kali pada Juli 2026 dan kini memperoleh mandat legal penuh dari pemegang saham. Bersamaan dengan pengukuhan posisi Vikram Sinha, RUPSLB turut meratifikasi perubahan struktur Dewan Komisaris menyusul pengunduran diri Seppalga Ahmad dari kursi komisaris perseroan. Konsolidasi kepemimpinan ini dirancang khusus guna menjaga stabilitas manajerial dan mempercepat realisasi peta jalan jangka panjang yang bertumpu pada inisiatif strategis bernama AI North Star.

Transformasi Radikal Telco to TechCo Melalui AI North Star

Kepemimpinan berkelanjutan Vikram Sinha dipandang krusial oleh para analis pasar modal di tengah dinamika persaingan industri telekomunikasi nasional yang makin ketat. Model bisnis tradisional operator telekomunikasi yang hanya mengandalkan penjualan paket kuota data murni dinilai telah mencapai titik jenuh, dengan margin keuntungan yang kian tertekan oleh tingginya biaya pemeliharaan jaringan spektrum.

Melalui cetak biru AI North Star, Indosat berupaya merombak struktur bisnisnya dengan membangun ekosistem kecerdasan buatan terpadu dari hulu ke hilir. Strategi menyeluruh ini tidak hanya memprioritaskan pembangunan komputasi fisik di lapisan bawah, melainkan juga mengintegrasikan komputasi awan (cloud computing), platform perangkat lunak, serta portofolio solusi korporasi (enterprise digital solutions) yang siap pakai bagi berbagai sektor industri, mulai dari perbankan hingga manufaktur.

Corporate Secretary sekaligus Director and Chief Legal & Regulatory Officer Indosat, Reski Damayanti, menegaskan bahwa perseroan tengah menapak babak baru dalam ekspansi komersialnya. Fondasi kokoh yang telah diletakkan pasca-merger historis kini mulai diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah nyata (real value creation) bagi perekonomian nasional.

“Kami menyambut babak baru bagi Indosat dengan momentum pertumbuhan yang sangat kuat serta peluang ekspansi yang kian terbuka lebar. Berbekal fondasi yang telah kami bangun secara disiplin, kami siap memperluas implementasi strategi AI North Star, memperkuat komitmen Customer Love, serta terus mengembangkan kapabilitas teknologi untuk menciptakan masa depan digital Indonesia yang lebih inklusif dan berdaya saing global,” tutur Reski dalam keterangan resminya.

Dua Mesin Pertumbuhan: Pasokan 200 MW dan RAIA Grid 86.000 Km

Untuk mengeksekusi ambisi menjadi episentrum komputasi kecerdasan buatan, Indosat mengandalkan dua motor infrastruktur berskala masif yang beroperasi secara simultan. Mesin pertumbuhan pertama berfokus pada penguatan kapasitas komputasi data melalui kemitraan strategis pusat data Zankore dengan kontrak kapasitas jangka panjang berdaya 200 Megawatt (MW). Pasokan daya sebesar ini dialokasikan untuk menyalakan fasilitas pabrik kecerdasan buatan atau AI Factory yang memerlukan suplai daya stabil dan pendinginan presisi tinggi guna memproses beban komputasi model bahasa besar (large language model).

Mesin pertumbuhan kedua bertumpu pada konektivitas jaringan serat optik melalui RAIA Grid yang saat ini telah merentang sepanjang 86.000 kilometer melintasi jalur-jalur ekonomi strategis di Indonesia. Jaringan kabel optik berkapasitas terabita ini dirancang untuk menghadirkan koneksi berlatensi sangat rendah (ultra-low latency), sehingga kekuatan pemrosesan AI di pusat data dapat diakses seketika oleh pelaku usaha rintisan, kalangan peneliti kampus, maupun instansi pemerintah di berbagai pelosok daerah.

Pembangunan infrastruktur AI lokal berskala raksasa ini menjadi benteng pertahanan krusial bagi kedaulatan data nasional. Di tengah persaingan teknologi yang kian ketat, seperti yang terjadi pada persaingan ketat talenta industri AI global, kepemilikan infrastruktur mandiri menjadi kunci penting agar data strategis dalam negeri tidak sepenuhnya bergantung pada server asing.

Uji Coba AI-RAN Tekan Konsumsi Energi Menara hingga 20 Persen

Di samping membangun infrastruktur komputasi data, Indosat juga menerapkan inovasi pada lapisan jaringan radio seluler melalui uji coba AI-RAN (Artificial Intelligence Radio Access Network). Teknologi mutakhir ini menanamkan algoritma cerdas langsung ke stasiun pemancar pangkalan (BTS) guna menganalisis pola trafik data secara real-time dan secara otomatis menidurkan frekuensi radio saat beban lalu lintas seluler menurun.

Hasil pengujian teknis membuktikan bahwa arsitektur AI-RAN mampu mereduksi konsumsi energi listrik pada menara seluler hingga 20% jika dibandingkan dengan stasiun pemancar konvensional. Efisiensi daya yang signifikan ini tidak hanya menekan beban biaya operasional (operational expenditure), melainkan juga menjadi kontribusi nyata perseroan dalam menekan emisi karbon di sektor teknologi informasi dan komunikasi.

Manuver inovatif ini sekaligus mempertegas keunggulan kompetitif Indosat di tengah panasnya kompetisi jaringan domestik. Saat operator telekomunikasi lain gencar melakukan akuisisi pasar melalui penetrasi paket broadband FMC kecepatan tinggi, Indosat memilih memperkuat diferensiasi layanannya dengan menyodorkan ekosistem komputasi cerdas yang terintegrasi langsung dengan jaringan seluler generasi terbaru.

Mencetak 2 Juta Talenta Digital Menuju Visi Indonesia Emas 2030

Kecanggihan infrastruktur komputasi keras tidak akan memberikan dampak optimal tanpa kesiapan sumber daya manusia yang mumpuni. Menyadari tantangan kesenjangan kompetensi tersebut, Indosat memasang target ambisius untuk memberdayakan hingga 2 juta talenta digital berkualifikasi AI hingga tahun 2030 mendatang.

Program pemberdayaan talenta ini dijalankan melalui kolaborasi terstruktur bersama jajaran perguruan tinggi terkemuka di tanah air, kementerian terkait, serta vendor teknologi global. Kurikulum yang diajarkan berfokus pada penguasaan keahlian terapan, mulai dari rekayasa data, pembelajaran mesin (machine learning), hingga penerapan etika kecerdasan buatan pada dunia bisnis nyata.

Melalui perpanjangan kepemimpinan Vikram Sinha dan implementasi terukur program AI North Star, Indosat berupaya menegaskan posisinya bukan lagi sekadar operator pembawa sinyal nirkabel, melainkan arsitek utama transformasi digital yang siap membawa industri Indonesia bersaing di pentas teknologi global.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

data center AI Meta bakteri
Teknologi & AI

Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Data center yang terkait Meta diduga mencemari saluran air Cheyenne dengan bakteri langka. Pemerintah kota memperketat pembuangan limbah fasilitas.
sungai tertua di dunia Finke
Teknologi & AI

Sungai Tertua di Dunia Diduga Sudah Ada Sebelum Pangaea

Finke River di Australia diduga berusia 300–400 juta tahun dan sudah mengalir sebelum Pangaea. Simak bukti geologi dan cara usianya