Tren & Pop Culture

Jia Zhangke Siapkan Road Movie Mamma Dunhuang: Tolak Keterlibatan AI dalam Produksi Sinema

Sutradara Jia Zhangke berbicara mengenai proyek film Mamma Dunhuang dan sikapnya terhadap AI

Bacotan Online – Sutradara kenamaan asal Tiongkok, Jia Zhangke, resmi bersiap memulai proses pencarian lokasi (location scouting) dan perancangan produksi (production design) untuk film panjang terbarunya bertajuk Mamma Dunhuang. Menariknya, di tengah tren agresif industri hiburan global yang berlomba-lomba mengintegrasikan kecerdasan buatan, peraih penghargaan Golden Lion Festival Film Venesia ini mengambil sikap tegas dan tanpa kompromi: menolak keterlibatan artificial intelligence dalam seluruh tahapan teknis pembuatan filmnya.

Proyek sinema bergenre road movie ini kembali menempatkan aktris kawakan Zhao Tao—pemenang David di Donatello Award lewat film Shun Li and the Poet sekaligus kolaborator kreatif jangka panjang Jia—sebagai pemeran sentral. Plot naratifnya berpusat pada sosok wanita rumahan yang memutuskan berkendara melintasi daratan dari barat menuju garis pantai timur dengan bantuan teknologi asisten AI. Namun, meski premis ceritanya bersentuhan langsung dengan dinamika komputasi cerdas, Jia menegaskan garis demarkasi yang sangat jelas antara fiksi yang diceritakan di layar dan medium yang digunakan untuk menciptakannya di dunia nyata.

Batas Tegas: AI sebagai Subjek Narasi, Bukan Alat Eksekusi Sinema

Langkah Jia Zhangke menjadi antitesis yang sangat kontras di tengah gelombang digitalisasi studio film modern. Belakangan ini, berbagai rumah produksi di Hollywood maupun Asia mulai mengandalkan piranti generative AI untuk mempercepat pembuatan storyboard, menulis draf skenario, menyusun efek visual sintetis, hingga melakukan pemindaian wajah aktor. Bagi Jia, menyerahkan aspek kreatif tersebut kepada mesin otomatis berarti mengorbankan jiwa dan keaslian ekspresi artistik.

Dalam pernyataannya, sutradara berusia 56 tahun tersebut menggarisbawahi bahwa AI semata-mata berfungsi sebagai perangkat naratif bagi sang karakter utama di dalam alur cerita, bukan instrumen di balik meja kerja produksi. Ketegasan ini mencerminkan perdebatan etika yang lebih luas di dunia kesenian global, serupa dengan fenomena kontroversi integritas karya berbasis AI yang sempat mengguncang panggung sastra internasional karena mengaburkan batasan orisinalitas buah pikiran manusia.

Sebagai seorang auteur yang konsisten memotret metamorfosis sosial Tiongkok selama tiga dekade terakhir, Jia memandang kecerdasan buatan sebagai fenomena sosial yang patut diobservasi dampaknya terhadap psikologi manusia, bukan sebagai jalan pintas untuk memotong ongkos produksi atau mengikis keahlian para pekerja kreatif di lapangan.

Ekspedisi dari Oasis Dunhuang Menuju Garis Pantai Samudra

Secara geografis dan kultural, pemilihan Dunhuang sebagai titik awal perjalanan menyimpan makna historis yang mendalam. Terletak di tepi Gurun Gobi, Provinsi Gansu, Dunhuang selama berabad-abad merupakan persimpangan vital Jalur Sutra kuno yang menghubungkan peradaban timur dengan barat hingga ke Romawi. Wilayah ini terisolasi ribuan kilometer dari lautan luas.

“Saya sangat mencintai wilayah barat Tiongkok, dan saya cukup sering berkunjung ke Dunhuang. Dunhuang adalah pusat transit vital di Jalur Sutra kuno; jika Anda terus menuju ke barat, Anda akan sampai di Roma. Namun, tempat itu sangat jauh dari samudra,” ungkap Jia. “Maka film ini adalah sebuah narasi kontinental yang berawal di Dunhuang dan mengarungi daratan dari barat hingga ke garis pantai timur—dia terus menyetir sampai permukaan laut tampak di hadapannya.”

Keputusan untuk memulai pengambilan gambar pada awal musim dingin menghadirkan tantangan sinematik yang nyata. Format road movie menuntut kepekaan terhadap tekstur bentang alam, pergantian cuaca ekstrem, dan interaksi organik antarkarakter di sepanjang perjalanan darat. Lanskap dingin gurun pasir, pos pemberhentian terpencil, hingga transisi menuju kota metropolitan pesisir menuntut keaslian lensa fisik kamera yang merekam debu dan cahaya alami—sebuah pengalaman visual imersif yang mustahil ditiru secara meyakinkan oleh algoritma sintetis berbasis teks prompt.

Kurasi Ramping Pingyao ke-10: Melawan Saturasi Industri

Pengumuman proyek Mamma Dunhuang ini dilakukan bertepatan dengan momentum penutupan edisi ke-10 Pingyao Crouching Tiger Hidden Dragon International Film Festival (PYIFF). Festival yang didirikan Jia pada 2017 ini bertempat di dalam benteng kuno Pingyao, Provinsi Shanxi, sebuah kawasan bersejarah yang dilindungi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Di saat mayoritas festival film internasional terkemuka di dunia memadati jadwal mereka dengan ratusan judul film, Jia justru mengambil arah berlawanan. Pingyao secara konsisten menerapkan kurasi yang sangat ramping dan selektif—hanya memutar 51 film pilihan berkualitas tinggi pada program resmi tahun ini. Filosofi ini dirancang agar setiap karya yang lolos seleksi mendapatkan panggung apresiasi yang utuh dan sorotan terfokus dari kalangan pembeli industri, penonton, maupun kritikus.

Pendekatan kurasi butik yang berani membatasi volume ini menjadi benteng penting bagi para sineas independen, terutama di tengah kejenuhan industri komersial arus utama yang kerap didominasi oleh formula waralaba dan sekuel daur ulang tanpa jiwa. Situasi serupa juga terlihat di sektor hiburan interaktif, di mana audiens mulai berpaling dari kelesuan produksi raksasa demi mencari karya alternatif independen yang menawarkan kesegaran gagasan serta keberanian eksplorasi estetika.

Animo Sinefil dan Diplomasi Budaya Unknown Pleasures

Kendati kapasitas fisik bioskop di dalam benteng kota kuno Pingyao terbatas pada kisaran beberapa ratus kursi, minat masyarakat terhadap festival ini meledak secara signifikan. Sistem reservasi tiket daring Pingyao tahun ini mencatatkan lebih dari 70 juta kunjungan penonton yang berebut akses penayangan.

Tingginya antusiasme tersebut memperlihatkan dinamika budaya yang menarik di kalangan masyarakat perkotaan dan generasi muda Tiongkok. Kehadiran bioskop alternatif dan festival seni menjadi ruang jeda penting untuk berkontemplasi di tengah akselerasi modernisasi yang luar biasa cepat, mencerminkan pergeseran sosiologis yang mendalam sebagaimana terlihat pada pencarian makna generasi muda di tengah tekanan kompetisi hidup dan tuntutan rutinitas perkotaan.

Untuk menjembatani kebutuhan apresiasi tersebut, Jia Zhangke bersama perusahaannya, Unknown Pleasures—sebuah label distribusi film art-house yang namanya diambil dari film arahannya pada tahun 2002—kini tengah menuntaskan kesepakatan lisensi bagi film-film terkemuka dari Festival Film Cannes. Di antaranya adalah proyek Minotaur karya sutradara ternama Rusia Andrey Zvyagintsev serta debut fitur sinematografer Prancis Marine Atlan bertajuk La Gradiva, yang dijadwalkan diputar secara eksklusif bagi publik Pingyao.

Menjaga Marwah Kemanusiaan dalam Ruang Sinematik

Meski bersikap sangat hati-hati dan memastikan tidak ada satu pun film seleksi resmi festival Pingyao yang diproduksi menggunakan kecerdasan buatan generatif, Jia tetap membuka ruang dialog inklusif. Melalui kolaborasi proyek eksperimental seperti AI-IF bersama seniman visual Xu Bing, ruang diskusi terhadap perkembangan teknologi tetap difasilitasi dalam format pameran khusus, bukan kompetisi sinema utama.

Bagi Jia Zhangke, kemajuan teknologi bukanlah ancaman yang harus ditakuti secara membuta, melainkan instrumen yang posisinya harus diletakkan secara proporsional. Keputusan memproduksi Mamma Dunhuang secara murni mengandalkan tenaga manusia membuktikan bahwa sinema esensial tetap bersandar pada kontak fisik, debu jalanan, tatapan mata aktor yang nyata, dan kepekaan rasa yang tidak dapat digantikan oleh deretan kode komputasi manapun.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Timnas eFootball Indonesia di Asian Games 2026
Tren & Pop Culture

Timnas eFootball Indonesia Lolos Perempat Final Asian Games 2026

Timnas eFootball Indonesia memastikan tiket perempat final Asian Games 2026 setelah menang atas Kirgistan dan Hong Kong di fase grup.
Robert Pattinson sebagai Batman dalam dunia Gotham garapan Matt Reeves
Tren & Pop Culture

The Batman Part II Disebut Ambisius, Apa Arti “Belok Tajam” Versi Robert Pattinson?

Robert Pattinson menyebut The Batman: Part II sebagai proyek ambisius yang mengambil “belok tajam” dari film pertama. Ini fakta terverifikasi,