Bacotan Online – Pemandangan di sebuah auditorium di Singapura baru-baru ini memperlihatkan antrean panjang ratusan pemuda yang sabar menunggu giliran berfoto dan meminta tanda tangan. Di era digital saat ini, pemandangan semacam itu lumrah terjadi untuk bintang pop atau selebritas media sosial. Namun sosok yang mereka eluk-elukan dengan antusiasme tinggi tersebut adalah Profesor Biao Xiang, seorang akademisi antropologi sosial berusia 54 tahun yang memimpin Max Planck Institute for Social Anthropology di Jerman.
Fenomena ini bukan peristiwa tunggal. Di berbagai kampus terkemuka Tiongkok, termasuk almamaternya di Universitas Peking, kuliah umum yang dibawakan Biao Xiang selalu dipadati mahasiswa hingga panitia terpaksa menyiarkannya secara langsung lewat siaran digital karena kapasitas ruangan tidak lagi memadai. Di platform media sosial lokal seperti Xiaohongshu atau RedNote, kutipan-kutipan sang profesor berseliweran dibagikan jutaan kali. Sebuah adagium baru bahkan lahir di kalangan generasi muda: jika sedang bingung memandang masa depan, tanyakan kepada Biao Xiang.
Anatomi Kecemasan di Tengah Perlambatan Ekonomi
Daya tarik Biao Xiang terletak pada keberanian dan ketajamannya membedah akar kecemasan yang tengah melanda generasi muda. Tiongkok telah mencatatkan lompatan ekonomi dan teknologi spektakuler selama empat dekade terakhir, namun generasi yang tumbuh dewasa saat ini menghadapi kenyataan yang sangat berbeda dari generasi orang tua mereka. Rumus lama bahwa kerja keras dan ijazah sarjana otomatis menghasilkan stabilitas ekonomi kini tidak lagi menjamin kepastian hidup.
Sebelum otoritas setempat menghentikan pembaruan rilis publikasinya pada pertengahan 2023, angka pengangguran usia muda di perkotaan Tiongkok sempat menyentuh rekor 21,3 persen. Di saat yang sama, lebih dari 11 juta lulusan perguruan tinggi baru membanjiri pasar kerja setiap tahunnya. Fenomena ini menciptakan ketegangan struktural antara ekspektasi mobilitas sosial dan daya serap industri yang kian mengetat. Di tengah pergeseran ekonomi regional serta dinamika domestik dan tantangan ekonomi di Negeri Tirai Bambu, generasi muda terjepit di antara tuntutan tradisi dan kenyataan pasar kerja yang tak lagi ramah.
Bahkan bagi mereka yang berhasil mendapatkan posisi bergengsi di korporasi teknologi atau instansi resmi, ancaman burnout dan kekhawatiran massal tetap membayangi. Budaya kerja lembur yang melelahkan serta diskriminasi umur terselubung yang dikenal luas sebagai curse of 35—batasan usia tak tertulis di mana perusahaan enggan mempekerjakan karyawan baru di atas 35 tahun—membuat para pekerja muda terus hidup dalam kewaspadaan ekstrem.
Terjebak dalam Perlombaan ‘Involution’ dan Pelarian ‘Lying Flat’
Dalam analisis antropologisnya, Biao Xiang menyoroti bagaimana masyarakat terjebak dalam apa yang disebut sebagai involution atau neijuan. Istilah sosiologis ini menggambarkan kompetisi yang luar biasa sengit dan menguras energi, namun hanya menghasilkan nilai tambah yang sangat minim atau jalan di tempat. Setiap orang dipaksa berlari lebih kencang sekadar untuk mempertahankan posisi yang sama dalam sebuah arena perlombaan yang kian sesak.
“Ketika 1,4 miliar orang berlari di lintasan perlombaan yang sama persis, itulah involution,” tutur Biao Xiang dalam salah satu diskusinya. Persaingan ini dipicu oleh dua pilar utama: ledakan pendaftaran perguruan tinggi yang memicu inflasi gelar, serta pasar properti yang mengikat standar harga diri dan kesuksesan keluarga pada kepemilikan hunian.
Tekanan tiada henti ini melahirkan respons perlawanan pasif di kalangan pemuda, mulai dari gerakan lying flat atau tang ping—menolak berpartisipasi dalam rat race korporat—hingga konsep floating. Biao Xiang mengibaratkan kondisi pekerja muda seperti burung kolibri: terus mengepakkan sayap sekuat tenaga hanya untuk tetap melayang di udara tanpa pernah benar-benar memiliki pijakan yang kokoh.
Menghidupkan Kembali ‘The Nearby’ sebagai Jangkar Kemanusiaan
Salah satu gagasan Biao Xiang yang paling menyentuh generasi muda adalah konsep the nearby atau ruang sekitar. Menurutnya, manusia modern terlalu terobsesi dengan hal-hal yang sangat dekat, yaitu ambisi pribadi dan ego individu, serta hal-hal yang sangat jauh, seperti perdebatan geopolitik abstrak atau isu global di jagat maya. Akibatnya, ruang fisik di antara keduanya—interaksi dengan tetangga, obrolan dengan pedagang pasar, dan solidaritas komunitas lokal—terabaikan hingga memicu rasa keterasingan yang mendalam.
Biao Xiang mendorong generasi muda untuk tidak menggantungkan seluruh harga diri mereka pada pengakuan sistem formal, baik itu peringkat ujian maupun jenjang karier kantor. Menghidupkan kembali empati di lingkungan terdekat menjadi langkah awal untuk memulihkan kesehatan mental dan menemukan makna eksistensial, sebagaimana manusia modern yang berjuang mencari jangkar batin dalam pencarian makna eksistensial manusia di tengah disrupsi modernitas.
Fenomena ini juga berkaitan erat dengan perubahan nilai fundamental dalam membangun relasi. Tekanan ekonomi dan ketidakpastian karier telah mengubah cara pandang generasi muda terhadap komitmen hidup, sebagaimana terlihat dalam tren global mengenai pergeseran dinamika sosial dan kalkulasi ekonomi generasi muda dalam mempertahankan institusi rumah tangga.
Refleksi Global: Mengapa Pesan Ini Bergema Luas
Meskipun Biao Xiang memusatkan risetnya pada masyarakat Tiongkok dan Asia Timur, resonansi pesan ini terasa sangat universal. Generasi muda di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, menghadapi keresahan yang serupa: ketidakpastian upah riil, harga hunian yang kian tak terjangkau, serta kelelahan mental akibat tuntutan produktivitas tanpa jeda.
Popularitas seorang antropolog di tengah budaya populer menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu mencari hiburan instan untuk melarikan diri dari realitas. Mereka membutuhkan pisau bedah sosial yang mampu menjelaskan mengapa hidup terasa begitu menekan, tanpa perlu dihakimi oleh klise motivasi kosong. Ketika ada akademisi yang bersedia turun dari menara gading dan mendengarkan luka batin sebuah generasi, di sanalah ia menemukan panggung kehormatannya.

