Bacotan Online – PT Saka Energi Indonesia (SAKA) resmi memulai babak baru eksplorasi migas domestik. Subholding hulu dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ini telah melakukan penajakan (spud-in) sumur eksplorasi Saka Manpatu-1 (SM-1) di Wilayah Kerja (WK) Pekawai, lepas pantai Kalimantan Timur. Manuver hulu ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat cadangan gas nasional di koridor penopang kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Potensi Cadangan: 109 BCF Gas dan 22 MMBOE Minyak
Berdasarkan perhitungan model reservoir geologis, struktur SM-1 diestimasikan memiliki potensi sumber daya in-place (P50) mencapai 109 BCF (Billion Cubic Feet) gas bumi serta 22 MMBOE (Million Barrels of Oil Equivalent) kondensat. Meski volumenya tidak sebesar lapangan deepwater raksasa seperti Blok Masela, penemuan pada skala ratusan BCF sangat krusial guna menahan laju penurunan alamiah (natural depletion rate) dari lapangan-lapangan eksisting di Indonesia.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA, Fuji Koesumadewi, menegaskan bahwa pengeboran SM-1 menjadi pembuktian empiris atas pemodelan geofisika seismik sebelumnya. “WK Pekawai memiliki prospek eksplorasi yang sangat menjanjikan. Pengeboran ini merupakan langkah verifikasi komersial dan teknis atas akumulasi hidrokarbon subsurface,” paparnya saat peresmian tajak sumur.
Efisiensi Operasional Lewat Teknologi Casing While Drilling (CWD)
Dalam industri hulu migas berbiaya modal tinggi, efisiensi waktu operasi sebanding dengan penurunan beban sewa drilling rig harian. Untuk sumur SM-1, Saka Energi menerapkan metode pengeboran mutakhir Casing While Drilling (CWD), menggantikan metode konvensional.
Teknologi CWD memungkinkan proses pengeboran formasi batuan sekaligus pemasangan pipa selubung (casing) dalam satu rangkaian terintegrasi tanpa perlu mencabut rangkaian pipa bor (tripping). Selain memangkas rig time secara drastis, teknik ini meminimalkan risiko geologis seperti instabilitas dinding lubang bor dan rembesan gas liar (gas kick). Sebelumnya, efisiensi metode ini telah teruji sukses pada pemboran sumur SID-5 milik SAKA di WK Pangkah, Jawa Timur.
Derisking Eksplorasi: Analogi Geologi Lapangan Manpatu
Melakukan pengeboran eksplorasi perintis (wildcat well) selalu membawa risiko ketidakpastian geologis yang tinggi. Namun, proyek SM-1 memiliki basis data teknis yang matang karena berada pada tren geologi yang bersinggungan langsung dengan struktur Lapangan Manpatu yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).
Sekitar 10 hingga 24 persen tutupan struktur geologi Manpatu teridentifikasi melampar ke dalam blok WK Pekawai. Dengan status Lapangan Manpatu yang telah mengantongi persetujuan Plan of Development (POD) dari SKK Migas, probabilitas keberhasilan geologis (geological chance of success) di SM-1 dinilai sangat menjanjikan berkat kesamaan sistem perangkap, porositas batuan reservoar, dan kematangan hidrokarbon.
Implikasi Strategis terhadap Pasokan Gas Regional
Sumur SM-1 diproyeksikan menembus kedalaman akhir hingga 12.400 ftMD (sekitar 3,7 kilometer di bawah permukaan laut). Jika program uji kandung lapisan (well testing) membuktikan adanya commercial discovery, temuan ini akan menjadi pasokan energi yang sangat vital bagi Kalimantan Timur.
Seiring pesatnya pembangunan kluster industri ramah lingkungan dan megaproyek IKN, kepastian pasokan gas bumi (feed gas) yang kompetitif menjadi pilar penopang utama. Pasokan ini tidak hanya menjamin keandalan sistem pembangkit listrik regional, melainkan juga mengamankan bahan baku esensial bagi industri pupuk dan manufaktur petrokimia di koridor timur Nusantara.

