Bacotan Online – Protokol liquid restaking terkemuka di jaringan Ethereum, KelpDAO, secara resmi melayangkan gugatan hukum perdata terhadap penyedia infrastruktur interoperabilitas multirantai LayerZero dan salah satu pendirinya, Bryan Pellegrino. Langkah hukum tersebut diambil menyusul insiden eksploitasi keamanan jembatan lintas-rantai (cross-chain universal bridge) senilai USD 292 juta (setara lebih dari Rp 4,7 triliun) yang tercatat sebagai kasus pembobolan terbesar di sektor keuangan terdesentralisasi (decentralized finance/DeFi) sepanjang tahun 2026.
Gugatan perdata tersebut diajukan melalui entitas pengelola KelpDAO, Evercrest, di Mahkamah British Columbia, Vancouver, Kanada. Gugatan ini menuding LayerZero gagal menyampaikan secara transparan kerentanan laten yang tertanam pada teknologi jembatan universal miliknya, serta dinilai lalai dalam melindungi arsitektur keamanan dasar protokol dari infiltrasi pihak luar. Kelalaian sistematis tersebut dituding menjadi penyebab utama yang membuka pintu bagi para peretas untuk menguras cadangan likuiditas dalam jumlah fantastis.
Kronologi Peretasan Jembatan rsETH dan Tudingan Celah Protokol
Pangkal sengketa ini bermula dari peristiwa peretasan berskala besar yang menimpa jembatan lintas-rantai KelpDAO pada 22 April 2026. Dalam serangan yang berlangsung kilat melalui eksekusi serangkaian smart contract berbahaya, pelaku berhasil menyedot sebanyak 116.500 rsETH. Jumlah token yang dirampok tersebut setara dengan hampir seperlima atau 20 persen dari keseluruhan pasokan beredar (circulating supply) token liquid restaking KelpDAO pada waktu itu.
Investigasi forensik on-chain mengindikasikan bahwa serangan siber canggih tersebut dilakukan oleh kelompok peretas yang terafiliasi dengan sindikat kejahatan siber internasional dari Korea Utara. Peretas memanfaatkan celah verifikasi pesan lintas jaringan pada infrastruktur LayerZero untuk memvalidasi transaksi pencairan palsu tanpa melewati otorisasi validator yang semestinya.
Dalam pernyataan resminya, perwakilan KelpDAO menegaskan bahwa eksploitasi fatal tersebut merupakan akibat langsung dari kegagalan desain internal LayerZero. Alih-alih mengakui kelemahan protokol dan bekerja sama memulihkan keadaan, LayerZero dan Bryan Pellegrino selama beberapa bulan terakhir justru dituding melempar tanggung jawab ke publik dan menyalahkan tata kelola internal KelpDAO. Situasi ini dinilai kian mencederai kepercayaan komunitas serta menimbulkan kerugian material maupun reputasi yang masif bagi ekosistem liquid restaking secara luas.
Efek Domino ke Ekosistem DeFi dan Pinjaman Darurat Aave
Insiden pembobolan ratusan juta dolar tersebut tidak hanya memukul KelpDAO, melainkan juga memicu efek domino yang mengguncang pasar kripto global. Terjadinya kepanikan massal memicu aksi penarikan likuiditas berskala besar (bank run) di berbagai protokol simpan pinjam terdesentralisasi. Para investor yang mengkhawatirkan depeg nilai rsETH berbondong-bondong menarik simpanan mereka dari berbagai instrumen pasar uang terdesentralisasi.
Krisis likuiditas tersebut memaksa Aave, protokol lending pool terbesar di industri DeFi, mengambil langkah luar biasa dengan mengajukan pinjaman darurat senilai USD 300 juta demi memenuhi lonjakan tajam permintaan penarikan aset pengguna. Tanpa intervensi likuiditas darurat tersebut, sistem peminjaman otomatis berisiko mengalami gagal bayar berantai akibat kekurangan kas likuid di dalam pool penampungan.
Hanya dalam hitungan hari pasca-eksploitasi, total nilai aset yang terkunci (total value locked/TVL) di seluruh sektor DeFi tergerus lebih dari USD 20 miliar. Penurunan drastis ini mempertegas betapa rawannya interkoneksi antarsistem di tengah ketidakpastian pasar finansial global yang saat ini juga sedang menghadapi tekanan sentimen makro.
Respons Keras Bryan Pellegrino dan Pertarungan Hukum di Kanada
Menanggapi gugatan perdata yang dilayangkan ke pengadilan di Vancouver, salah satu pendiri LayerZero, Bryan Pellegrino, langsung merespons secara terbuka lewat platform X (sebelumnya Twitter). Pellegrino menegaskan bahwa tuduhan yang dialamatkan oleh Evercrest dan KelpDAO sama sekali tidak berdasar (meritless) serta mengaburkan fakta teknis sebenarnya mengenai arsitektur jembatan.
Pellegrino menyatakan siap menghadapi KelpDAO di pengadilan Kanada untuk membela diri serta membersihkan reputasi LayerZero. Menurut kubu LayerZero, implementasi konfigurasi modul keamanan pada integrasi jembatan tersebut merupakan otoritas serta tanggung jawab penuh dari pihak KelpDAO selaku pemilik aplikasi terdesentralisasi, bukan kesalahan mendasar pada protokol komunikasi dasar LayerZero.
Pertarungan yurisdiksi ini menandai babak baru dalam sejarah sengketa hukum industri Web3. Di tengah dinamika di mana lembaga pengawas internasional memperketat pengawasan, seperti halnya dinamika regulasi aset digital dan masa depan Web3 pasca-perubahan struktur otoritas keuangan di Amerika Serikat, persidangan di British Columbia ini berpotensi menjadi acuan yuridis penting mengenai batasan tanggung jawab hukum perdata antara penyedia protokol dasar (infrastructure layer) dengan pengembang aplikasi desentralisasi (application layer).
Kerapuhan Infrastruktur Lintas Rantai dan Mitigasi Keamanan ke Depan
Laporan analisis dari perbankan multinasional JPMorgan turut menyoroti insiden pembobolan rsETH ini sebagai bukti nyata bahwa risiko struktural interoperabilitas lintas-rantai masih menjadi titik terlemah di dunia desentralisasi. Karakteristik sistem terbuka yang memungkinkan berbagai smart contract saling berinteraksi secara otomatis (composability) terbukti menyimpan risiko penularan sistemik yang sangat cepat ketika satu rantai komunikasi terputus atau dieksploitasi penyerang.
Kasus sengketa ini juga mencerminkan urgensi transparansi audit teknis, serupa dengan ketatnya gugatan hukum terkait pelanggaran tata kelola keuangan digital yang menuntut perlindungan maksimal bagi dana pemodal publik.
Pihak KelpDAO mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan migrasi jembatan rsETH ke arsitektur standar keamanan lintas-rantai yang baru dengan lapisan verifikasi berlapis (multi-proof verification) demi menjamin keamanan aset pengguna yang tersisa. Kendati demikian, resolusi sengketa ganti rugi ratusan juta dolar ini diperkirakan bakal memakan waktu panjang di ruang sidang, sekaligus menjadi ujian krusial bagi masa depan tata kelola dan akuntabilitas hukum proyek-proyek berbasis blockchain.

