Bacotan Online – Entitas bisnis Shein di Britania Raya membukukan nilai penjualan sebesar £2,58 miliar atau sekitar Rp52,8 triliun sepanjang tahun buku 2026. Berdasarkan laporan keuangan resmi yang didaftarkan ke Companies House London pada awal Oktober 2026, capaian platform perdagangan lintas batas asal Tiongkok ini melonjak 26 persen secara tahunan, melampaui kinerja peritel busana lokal seperti Asos.
Laba sebelum pajak Shein Inggris dilaporkan tumbuh 18 persen menjadi £45,2 juta, dengan kontribusi pajak penghasilan badan mencapai £11,2 juta. Pertumbuhan pendapatan ini ditopang oleh efisiensi rantai pasok berbasis data serta struktur operasional ramping yang hanya mempekerjakan 113 karyawan di Inggris. Model operasional tersebut mengandalkan pengiriman langsung dari pusat manufaktur di Guangdong ke konsumen akhir melalui kargo udara cepat, sehingga menekan biaya penyimpanan persediaan.
Sorotan atas Fasilitas Bebas Bea Masuk Impor
Kinerja ekspansif Shein memicu desakan dari asosiasi pengusaha ritel domestik Inggris terkait evaluasi kebijakan kepabeanan. Saat ini, Inggris menerapkan ambang batas fasilitas de minimis sebesar £135, yang membebaskan paket belanja daring kiriman luar negeri dari kewajiban bea masuk impor.
Pelaku industri ritel lokal menilai ketentuan tersebut menciptakan ketimpangan persaingan usaha. Pelaku usaha fisik dan distributor domestik tetap dibebani tarif impor menyeluruh, pajak pertambahan nilai, serta pungutan pajak properti komersial (business rates). Sejumlah pimpinan industri kini meminta pemerintah Inggris mempercepat rencana peninjauan klausul pembebasan bea masuk tersebut guna menjaga kesetaraan iklim usaha.
Evaluasi Regulasi Perdagangan Lintas Batas
Wacana pembatasan fasilitas bebas bea masuk bagi perdagangan elektronik lintas batas juga bergulir di kawasan lain. Amerika Serikat sebelumnya telah mencabut ambang batas bebas bea de minimis senilai 800 dolar AS untuk produk kiriman asal Tiongkok. Sementara itu, Uni Eropa mulai menerapkan pungutan cukai tetap pada paket bernilai rendah sebagai langkah penataan arus barang impor.
Kementerian Keuangan Inggris kini menempatkan revisi ambang batas kepabeanan sebagai ruang lingkup evaluasi kebijakan fiskal. Otoritas terkait berfokus menyeimbangkan perlindungan bagi daya saing industri ritel dalam negeri dengan kepastian penerimaan kas negara, seiring pemantauan terhadap dinamika belanja masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

