Bacotan Online – Eskalasi pertempuran di Yaman memasuki babak baru yang sangat menentukan konstelasi keamanan jalur pelayaran dunia. Pasukan sekutu yang loyal kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dengan dukungan penuh serangan udara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, berhasil merebut kembali sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb dari cengkeraman milisi Houthi pada awal pekan ini.
Pejabat militer Yaman mengonfirmasi bahwa pasukan darat yang diperkuat armada tank telah mengamankan kendali atas kota Dhubab, sebuah titik pertahanan krusial yang terletak persis di sebelah utara selat. Selain Dhubab, operasi ofensif gabungan ini juga sukses menguasai wilayah kota Bab dan Hadeid. Keberhasilan perebutan kawasan pesisir barat daya ini menjadi respons langsung terhadap manuver kelompok Houthi yang sebelumnya sempat merangsek maju dan menguasai kantong-kantong penting di garis pantai Laut Merah.
Operasi Skala Penuh di Bawah Payung Udara 100 Jet Tempur
Juru bicara koalisi militer, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengungkapkan bahwa operasi pembebasan wilayah maritim ini didukung oleh pengerahan sedikitnya 100 jet tempur modern. Armada udara tersebut memberikan perlindungan langsung (air cover) bagi gerak maju pasukan darat sekaligus melancarkan serangan presisi yang menghancurkan ratusan target instalasi senjata milisi.
Langkah militer ini diambil guna memastikan ruang udara dan koridor laut Selat Bab el-Mandeb terbebas dari ancaman baterai rudal pantai serta peluncur pesawat nirawak (drone). Pemerintah koalisi menargetkan pemulihan kendali teritorial secara menyeluruh di sepanjang koridor maritim barat guna mencegah milisi memutus rute navigasi internasional yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Terusan Suez.
Menanggapi perkembangan medan tempur tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa tindakan pemerintah Yaman dan koalisi merupakan langkah pertahanan diri yang sah setelah menghadapi gelombang serangan milisi secara beruntun. Rubio menggarisbawahi adanya kesepakatan kerja sama pertahanan strategis antara Washington dan Riyadh untuk menjaga keamanan navigasi bebas di perairan internasional.
Dinamika Sengit di Front Darat Taiz dan Balasan Jarak Jauh
Meski koalisi mencatatkan kemenangan di koridor pesisir selat, dinamika pertempuran di wilayah pedalaman barat daya Yaman justru berlangsung sengit dan berdarah. Sebelum serangan koalisi dilancarkan, milisi Houthi sempat melancarkan serangan kilat dengan merebut kota Turbah di provinsi Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman.
Berdasarkan laporan aparat keamanan setempat, kelompok milisi juga berhasil memutus rute logistik utama di kawasan al-Safiya yang menghubungkan Taiz dengan ibu kota sementara pemerintah di Aden. Pertempuran sengit selama 24 jam terakhir di perbatasan Taiz dan Lahj dilaporkan merenggut sedikitnya 70 korban jiwa dari kedua belah pihak, dengan 34 tentara pemerintah dan 39 personel milisi tewas dalam kontak tembak jarak dekat.
Sebagai respons balasan atas puluhan gempuran udara koalisi, juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengklaim telah meluncurkan rentetan rudal balistik dan drone bunuh diri ke fasilitas kilang minyak milik korporasi raksasa Saudi Aramco di Riyadh dan kawasan Khurais. Ancaman asimetris ini memperlihatkan bahwa perebutan teritorial darat di Yaman secara langsung terhubung dengan kerentanan infrastruktur energi di Semenanjung Arab.
Signifikansi Geostrategis Bab el-Mandeb bagi Rantai Pasok Dunia
Selat Bab el-Mandeb bukan sekadar titik geografis di peta Yaman, melainkan salah satu titik sempit maritim (chokepoint) paling vital di planet bumi. Sebagai pintu gerbang penghubung antara Teluk Aden dan Laut Merah, selat ini dilintasi oleh sekitar 12 hingga 15 persen dari total volume perdagangan maritim dunia serta menyalurkan 4 hingga 6 juta barel minyak mentah per hari.
Gangguan keamanan yang berkepanjangan di kawasan perairan ini berdampak langsung pada dinamika harga minyak mentah dan energi global. Ketika kapal tanker dan kontainer komersial terancam serangan roket, perusahaan pelayaran raksasa dunia terpaksa mengalihkan rute melewati Tanjung Harapan di ujung selatan benua Afrika. Pengalihan rute tersebut menambah jarak tempuh ribuan mil laut, memperpanjang waktu transit selama 10 hingga 14 hari, dan memicu lonjakan tarif kargo (freight rate) serta premi asuransi perang yang luar biasa tinggi.
Sama halnya dengan tantangan menjaga stabilitas geopolitik kawasan di berbagai belahan dunia lainnya, benturan militer di Bab el-Mandeb memperlihatkan bagaimana konflik regional dapat memicu riak inflasi di negara-negara importir komoditas pangan dan energi.
Tantangan Menjaga Keamanan Navigasi Berkelanjutan
Keberhasilan pasukan pemerintah Yaman merebut kembali Dhubab dan wilayah sekitar selat memberikan angin segar bagi upaya pemulihan koridor pelayaran Laut Merah. Namun, keberlanjutan kendali keamanan di pesisir ini menghadapi tantangan geografis dan asimetris yang berat. Lanskap perbukitan terjal dan jaringan terowongan persembunyian memungkinkan milisi melancarkan taktik perang gerilya dengan unit persenjataan bergerak (mobile launcher).
Dalam lanskap makro, menjaga kestabilan selat ini merupakan prasyarat mutlak untuk mencegah timbulnya dampak pergeseran ekonomi internasional yang membebani daya beli masyarakat luas. Keberhasilan koalisi merebut kembali Dhubab menandai titik balik penting, namun pengamanan permanen Selat Bab el-Mandeb akan sangat bergantung pada kemampuan pasukan darat mematahkan pengepungan di Taiz serta kesepakatan geopolitik yang lebih luas antara kekuatan regional di kawasan Timur Tengah.

