Ketua Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Michael S. Selig meminta pasar Amerika Serikat bersiap menghadapi mass tokenization. Dalam pidato di U.S. Treasury Market Conference pada 22 September 2026, ia menggambarkan sistem yang dapat memindahkan collateral secara real time dan menyelesaikan transaksi nyaris seketika.
Pernyataan itu datang lima hari setelah Securities and Exchange Commission (SEC) membuka jalur terbatas bagi perdagangan tokenized stocks. Namun, perkembangan tokenisasi aset CFTC SEC ini belum berarti semua saham, obligasi, atau real-world assets (RWA) segera bebas diperdagangkan di blockchain. Langkah SEC masih berupa pengecualian sementara dengan banyak syarat, sedangkan agenda aturan crypto CFTC masih berada pada tahap awal.
Apa yang sebenarnya dibuka SEC?
Pada 17 September, SEC menerbitkan Innovation Exemption untuk Tokenized Securities Venues (TSV). Venue ini dapat mempertemukan pembeli dan penjual tokenized NMS stock melalui permissioned automated market maker dan liquidity pool.
Cakupannya sengaja sempit. Jumlah simbol dan volume transaksi dibatasi. Pemegang token harus memperoleh hak dan privileges yang sama dengan pemegang saham tradisional dari kelas yang setara, termasuk hak atas dividen dan voting. Smart contract harus bersifat publik dan dapat diaudit, sementara perdagangan token wajib berhenti ketika bursa utama menghentikan saham acuannya.
Emiten juga diberi kesempatan menolak apabila pihak tak terafiliasi ingin menyediakan versi tokenized dari sahamnya. Relief tersebut akan berakhir lima tahun setelah publikasi dan SEC meminta komentar publik untuk menentukan langkah berikutnya. Ketentuan anti-fraud dan anti-manipulation tetap berlaku penuh, menurut pernyataan Ketua SEC Paul Atkins.
Artinya, ini lebih tepat dibaca sebagai regulatory sandbox terbatas daripada deregulasi menyeluruh. SEC ingin memperoleh data tentang bagaimana venue, liquidity provider, harga, dan perlindungan investor bekerja sebelum menyusun aturan yang lebih permanen.
Tokenisasi aset CFTC SEC bukan sekadar ticker crypto
Bank for International Settlements menjelaskan tokenisasi sebagai pembuatan representasi digital atas klaim terhadap aset pada programmable platform. Token membawa informasi tentang aset dan kepemilikannya, sementara service layer mengatur bagaimana token dapat dipindahkan atau digunakan.
Rantai tersebut setidaknya memiliki tiga bagian: aset dan hak hukum di dunia asal, token yang mencatat atau mewakili hak itu, serta settlement asset yang digunakan untuk membayar. Kecepatan blockchain tidak otomatis menyelesaikan masalah apabila salah satu bagian gagal. Token bisa berpindah dalam hitungan detik, tetapi sengketa custody, kesalahan pencatatan, atau ketidakjelasan hak atas aset acuan tetap harus diselesaikan melalui kerangka hukum.
Perbedaan desain juga penting. Token dapat menjadi saham yang diterbitkan emiten dan dicatat onchain, atau wrapped token yang dibuat pihak ketiga atas saham yang disimpan pada custodian. Investor Advisory Committee SEC memperingatkan bahwa wrapped token dapat tidak membawa voting rights atau bankruptcy rights yang sama. Karena itu, komite merekomendasikan disclosure yang jelas, oversight atas intermediaries, dan perlindungan eksekusi order.
Pasarnya tumbuh, tetapi masih jauh dari seluruh sistem keuangan
Contoh yang relatif matang adalah surat utang pemerintah AS dan money market fund berbasis Treasury. RWA.xyz mencatat nilai tokenized U.S. Treasuries sekitar US$15,03 miliar per 17 Juni 2026, tersebar pada 82 produk dan 66.054 holders. Angka ini hanya mencakup kategori Treasury yang dipantau dashboard tersebut, bukan seluruh pasar RWA dan bukan stablecoin.
Sebelum Innovation Exemption terbit, integrasi dengan infrastruktur bursa tradisional juga sudah berjalan. Reuters melaporkan pada Maret 2026 bahwa SEC menyetujui proposal Nasdaq agar saham dan exchange-traded fund tertentu dapat diperdagangkan dalam bentuk tradisional atau tokenized, dengan settlement melalui Depository Trust Company. Model itu berbeda dari AMM liquidity pool pada TSV, tetapi menunjukkan bahwa tokenisasi tidak selalu berarti mengganti seluruh infrastruktur pasar.
Manfaat settlement cepat membawa tuntutan baru
Near-instant settlement berpotensi mengurangi waktu rekonsiliasi dan membuat collateral lebih cepat digunakan di clearinghouse lain. Atomic settlement juga dapat memastikan aset dan pembayaran berpindah bersama, sehingga salah satu pihak tidak menyerahkan aset tanpa menerima pembayaran.
Namun, penyelesaian lebih cepat memperpendek waktu peserta untuk mencari pendanaan atau memperbaiki operational error. Pasar 24/7 menuntut surveillance, margin calculation, incident response, custody, dan staf yang juga siap sepanjang waktu. Selig sendiri mengatakan pendekatan 24/7 tidak boleh one-size-fits-all: crypto atau logam mulia mungkin lebih siap, sedangkan produk pertanian, energi, dan sebagian instrumen finansial belum tentu cocok.
Risiko lain datang dari bug smart contract, private-key failure, gangguan jaringan, bridge atau oracle, serta liquidity yang terpecah antara venue tradisional dan onchain. Settlement juga bergantung pada kualitas alat bayar. Stablecoin, tokenized deposit, dan uang bank sentral memiliki profil risiko yang berbeda.
Financial Stability Board pada 2024 menilai tokenisasi belum menimbulkan risiko material bagi stabilitas keuangan karena skalanya masih kecil. Meski demikian, FSB menandai liquidity dan maturity mismatch, leverage, kualitas aset, interconnectedness, serta operational fragilities sebagai kerentanan yang dapat membesar jika adopsi meningkat.
CLARITY Act belum tuntas, aturan CFTC juga belum final
Dorongan regulator berlangsung ketika jalur legislasi belum selesai. Catatan Congress.gov menunjukkan pemungutan suara cloture untuk melanjutkan CLARITY Act tidak berhasil pada 15 September 2026, disusul motion to reconsider. Jadi, RUU tersebut gagal maju pada pemungutan suara itu, bukan otomatis hilang selamanya.
Dua hari kemudian, agenda CFTC berjudul “Regulation Crypto Asset Transactions and Regulation Crypto Asset Markets” masuk review pemerintah. Catatan OIRA masih menempatkannya pada tahap prerule dan tidak memuat detail kewajiban yang akan diberlakukan.
Perubahan regulasi luar negeri ini hadir ketika pembaca Indonesia juga menghadapi dinamika domestik, dari dampak konflik global terhadap komoditas dan minyak sampai pembahasan belanja perpajakan 2026. Dalam konteks itu, tokenisasi aset lebih tepat dilihat sebagai perubahan infrastruktur pasar, bukan aset investasi baru yang otomatis cocok bagi semua orang.
Bagi pembaca Indonesia, perkembangan ini penting sebagai perubahan infrastruktur dan arah regulasi pasar AS, bukan sinyal harga suatu token. Ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya jumlah aset yang masuk blockchain, melainkan apakah hak pemilik tetap jelas, harga tidak terfragmentasi, settlement asset dapat diandalkan, dan sistem mampu bertahan ketika pasar sedang tertekan. Aspek akses juga perlu dinilai bersama keamanan operasional; prinsip serupa dibahas dalam checklist audit keamanan AI agent, meski teknologi dan jenis risikonya berbeda.

