Bacotan Online – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,88 persen atau terpangkas lebih dari seratus poin ke posisi 6.031 pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia. Tekanan jual serempak melanda pasar modal domestik seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ke level tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Pelepasan aset berisiko di pasar modal domestik tercermin dari pergerakan saham harian. Sebanyak 518 saham berakhir melemah, 258 saham stagnan, dan 187 saham bertahan di zona hijau. Aktivitas transaksi membukukan volume 484,18 juta lot dengan nilai perputaran dana mencapai Rp36,20 triliun dari 1,53 juta kali frekuensi perdagangan.
Tekanan Sektor Infrastruktur dan Akumulasi Selektif Investor Asing
Koreksi IHSG dipimpin oleh penurunan sektor infrastruktur sebesar 5 persen, disusul sektor energi yang terkoreksi 2,7 persen dan sektor material dasar sebesar 2,6 persen. Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar menjadi penekan utama indeks, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), serta PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).
Pada saat yang sama, investor asing membukukan aksi jual bersih atau net foreign sell senilai Rp871,36 miliar di seluruh pasar. Meski mencatatkan aliran modal keluar secara agregat, pemodal institusi asing terpantau melakukan akumulasi selektif pada beberapa emiten berfundamental stabil. BBRI mencatatkan beli bersih asing sebesar Rp129,58 miliar, disusul PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) senilai Rp25,92 miliar dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp22,26 miliar.
Dinamika Imbal Hasil Global dan Uji Ketahanan Level Penopang
Koreksi pasar modal domestik sejalan dengan pengetatan likuiditas global. Risalah rapat bank sentral Amerika Serikat yang bernada hawkish mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi dalam periode lebih lama. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga menyentuh 5,365 persen di pasar sekunder, catatan tertinggi sejak April 2002, yang memicu pembalikan arus modal dari kawasan emerging markets.
Posisi penutupan IHSG di level 6.031 kini menguji area penopang atau support teknikal pada rentang 6.000 hingga 6.020. Pelaku pasar dan otoritas bursa terus memantau stabilitas nilai tukar serta pergerakan imbal hasil global guna mengantisipasi volatilitas lanjutan, sembari mencermati potensi pembentukan landasan teknikal atau technical rebound pada saham-saham berkinerja solid.

