Bisnis & Finansial

Adaro AADI Rampungkan Divestasi Tambang Kestrel ke Yancoal Senilai US$814 Juta: Strategi Fokus Bisnis Domestik

Tambang batu bara Kestrel di Bowen Basin Queensland Australia

Bacotan Online – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) resmi menutup bab operasional mereka di Australia setelah merampungkan transaksi divestasi Tambang Kestrel kepada Yancoal Australia Limited. Kesepakatan yang bernilai US$814,12 juta atau setara Rp14,57 triliun (sebelum pajak) ini menandai langkah strategis grup Adaro untuk mengalihkan fokus sepenuhnya ke pengembangan bisnis domestik.

Detail Transaksi dan Struktur Kepemilikan

Transaksi dilaksanakan melalui Adaro Capital Limited (ACL), entitas anak yang 90 persen sahamnya dikuasai secara tidak langsung oleh AADI. Objek yang dijual adalah 720.385.220 saham biasa ACL di Kestrel Coal Group Pty Ltd, setara dengan kepemilikan 47,99 persen, beserta seluruh waran yang melekat. Penyelesaian (closing) terjadi pada 1 Oktober 2026 waktu Melbourne, setelah seluruh persyaratan pendahuluan dalam Sale and Purchase Agreement (SPA) tertanggal 14 April 2026 dipenuhi.

Setelah transaksi rampung, Yancoal kini menguasai 100 persen saham Kestrel. Dari sisi penerimaan bersih, ACL mengantongi US$734,83 juta atau sekitar Rp13,15 triliun setelah dikurangi pajak. Selain itu, ACL berpotensi menerima contingent cash consideration hingga maksimum US$550 juta atau setara Rp9,85 triliun, yang akan dibayarkan secara bertahap selama lima tahun ke depan. Pencairan komponen variabel ini bergantung pada apakah harga rata-rata indeks batu bara kokas metalurgi Platts Premium Low Vol Hard Coking Coal FOB Australia (PLVHA00) melampaui batas tertentu setiap tahunnya.

Kestrel: Tambang Bawah Tanah Strategis di Bowen Basin

Kestrel merupakan perusahaan induk yang melalui anak usahanya, Kestrel Coal Resources Pty Ltd, memegang 80 persen kepemilikan dalam joint venture yang mengoperasikan tambang batu bara metalurgi bawah tanah di Bowen Basin, Queensland tengah, Australia. Kawasan Bowen Basin sendiri dikenal sebagai salah satu zona produksi batu bara metalurgi terbesar di dunia, memasok kebutuhan industri baja global — terutama ke pasar Jepang, Korea Selatan, dan India.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, Kestrel mencatatkan total aset US$2,24 miliar (setara Rp40,05 triliun) dengan ekuitas US$1,53 miliar (Rp27,42 triliun). Pendapatan usaha tercatat US$410,49 juta (Rp7,35 triliun) untuk periode enam bulan pertama, dengan laba periode berjalan US$26,88 juta (Rp481,08 miliar). Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun aset bernilai besar, margin laba Kestrel relatif tipis di semester pertama 2026 — mungkin menjadi salah satu pertimbangan AADI untuk melepas aset tersebut.

Alasan Strategis dan Dampak Keuangan

Manajemen AADI menyebut tiga alasan utama di balik divestasi ini: pengembangan bisnis grup di Indonesia, pembayaran dividen kepada pemegang saham, serta penguatan struktur permodalan melalui pelunasan sebagian pinjaman grup. Secara proforma, transaksi ini mendongkrak laba usaha konsolidasian AADI untuk semester pertama 2026 dari US$666,54 juta (Rp11,93 triliun) menjadi US$744,95 juta (Rp13,33 triliun) setelah penyesuaian.

Keputusan ini sejalan dengan tren yang juga terjadi pada induk usaha Adaro, yang dalam beberapa tahun terakhir melakukan restrukturisasi portofolio untuk memfokuskan operasional pada aset domestik. Langkah ini dipandang strategis mengingat dinamika regulasi pertambangan di Australia yang semakin ketat, ditambah dengan tekanan transisi energi global yang mendorong investor keluar dari aset batu bara termal. Meski Kestrel memproduksi batu bara metalurgi — yang permintaannya masih kuat untuk industri baja — keputusan divestasi menunjukkan prioritas manajemen terhadap likuiditas dan pertumbuhan di pasar Indonesia.

Kepatuhan Regulasi dan Penilaian Independen

Dari sisi regulasi, transaksi ini tergolong sebagai Transaksi Material berdasarkan Peraturan OJK No. 17/POJK.04/2020 karena nilainya melebihi 20 persen namun tidak melebihi 50 persen dari ekuitas perseroan. Dengan klasifikasi tersebut, AADI tidak diwajibkan memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dewan Komisaris dan Direksi juga memastikan bahwa transaksi ini bukan Transaksi Afiliasi maupun Transaksi Benturan Kepentingan.

Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Desmar, Susanto, Salman dan Rekan ditunjuk sebagai penilai independen. Laporan mereka tertanggal 18 September 2026 menetapkan nilai pasar 100 persen ekuitas Kestrel sebesar US$1,62 miliar (Rp29,09 triliun) menggunakan pendekatan Adjusted Book Value (ABV). Sementara Laporan Pendapat Kewajaran tertanggal 25 September 2026 menyimpulkan bahwa transaksi ini wajar bagi kedua belah pihak.

Konteks Industri Batu Bara dan Prospek Adaro

Divestasi ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar batu bara global. Harga coking coal sempat melemah sepanjang paruh pertama 2026 akibat perlambatan produksi baja di China, meskipun permintaan dari India tetap tumbuh. Bagi Adaro, dana segar dari penjualan ini memberikan ruang untuk memperkuat posisi di pasar modal domestik dan mendanai ekspansi ke segmen energi bersih yang mulai digarap grup ini.

Yancoal sendiri, yang merupakan anak usaha Yanzhou Coal Mining (kini Yankuang Energy) milik konglomerat tambang China, dipandang sebagai pembeli strategis. Dengan menguasai 100 persen Kestrel, Yancoal mengonsolidasi posisinya sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Australia, memperkuat rantai pasok energi yang vital bagi operasional industri berat Asia.

Langkah AADI melepas Kestrel melengkapi gelombang divestasi aset tambang luar negeri oleh perusahaan tambang Indonesia dalam dua tahun terakhir. Sinyal ini menunjukkan bahwa korporasi tambang domestik semakin pragmatis: memilih likuiditas dan kedekatan operasional ketimbang diversifikasi geografis yang mahal dan penuh risiko regulasi.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

British Columbia gugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge
Bisnis & Finansial

British Columbia Gugat OpenAI atas Penembakan Sekolah

British Columbia menggugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge, menyoroti kewajiban platform AI saat mendeteksi ancaman kekerasan.
IHSG turun 1,69 persen ke level 6.277
Bisnis & Finansial

IHSG Turun 1,69 Persen, Ditutup di Level 6.277

IHSG turun 1,69 persen dan ditutup di level 6.277. Tekanan meluas sejak pagi, dengan sektor energi serta saham bank besar