Teknologi & AI

Kontroversi AI di Kompetisi Nikon Small World in Motion: Watermark SynthID Terbaca pada Video Pemenang

Citra mikroskop elektron silia saluran pernapasan manusia dalam pembesaran tinggi

Bacotan Online – Dunia fotografi sains sedang diguncang kontroversi besar. Nikon, raksasa optik asal Jepang yang menyelenggarakan kompetisi tahunan Small World in Motion, tengah melakukan peninjauan ulang terhadap karya pemenang edisi ke-16 setelah sejumlah pakar menemukan indikasi kuat bahwa video yang menyabet juara mengandung elemen yang dihasilkan oleh artificial intelligence.

Video Silia Saluran Pernapasan yang Memukau Juri

Karya yang menjadi sorotan adalah video pendek karya Ning Xu, peneliti asal Tsinghua University di China yang kini berafiliasi dengan National University of Singapore. Video tersebut menampilkan pergerakan abnormal silia saluran pernapasan — struktur mikroskopik menyerupai rambut yang menonjol dari permukaan sel di dalam tubuh manusia — pada anak yang mengidap primary ciliary dyskinesia (PCD), sebuah kelainan genetik langka yang menyebabkan silia tidak bergerak normal.

Pada September lalu, Nikon mengumumkan video tersebut sebagai pemenang kompetisi yang sudah berjalan selama 16 tahun ini. Kompetisi Small World in Motion sendiri merupakan cabang dari Nikon Small World, ajang fotografi mikrografi paling bergengsi di dunia yang telah berlangsung sejak 1975 dan rutin menghasilkan karya-karya visual sains yang memukau.

Watermark SynthID: Bukti Digital yang Mengundang Keraguan

Masalah bermula ketika komunitas ilmuwan dan fotografer mikroskopi mulai meneliti video pemenang secara detail. Ian Donovan, mahasiswa S3 di UT Southwestern Medical Center, menemukan bahwa video tersebut memiliki watermark SynthID yang tersemat di dalamnya. SynthID adalah teknologi penanda digital buatan Google DeepMind yang secara otomatis ditanamkan ke konten sintetis atau konten yang dihasilkan oleh generative AI.

Penemuan ini langsung memicu gelombang kritik. Edward Phelps, lektor kepala di University of Florida, turut angkat bicara dengan menyebutkan ada banyak masalah serius pada video tersebut. Menurut Phelps, beberapa struktur biologis yang ditampilkan dalam rekaman tidak bergerak sesuai pola alamiah yang seharusnya terjadi secara fisiologis. “Komunitas mikroskop patut mendapat penjelasan dari Nikon,” tegasnya.

Pembelaan Ning Xu dan Respons Nikon

Menanggapi kritik yang membanjir, Ning Xu memberikan penjelasan melalui kolom komentar di unggahan LinkedIn milik Nikon. Xu menyatakan bahwa AI tidak digunakan untuk merekayasa video eksperimen, bentuk silia, maupun pola pergerakannya. Menurut Xu, AI baru diterapkan setelah proses perekaman selesai, khususnya pada data grayscale (hitam-putih) yang direkonstruksi, dengan tujuan membedakan dan mewarnai struktur-struktur yang memiliki morfologi serupa.

“Deskripsi lebih terperinci mengenai sistem optik dan analisis kuantitatif dari pergerakan silia tersebut saat ini tengah disiapkan untuk dipublikasikan dan kami berharap dapat segera merilisnya,” ujar Xu. Nikon sendiri menyatakan bahwa Xu bersikap kooperatif dan telah menyerahkan dokumentasi teknis terperinci yang menguraikan peralatan mikroskop, metode pencitraan, serta teknik pemrosesan yang digunakan.

Dilema Etika AI dalam Fotografi Sains

Kontroversi ini menyentuh isu fundamental yang semakin relevan di era generative AI: di mana batas antara pemrosesan gambar yang sah dan manipulasi yang menyesatkan? Dalam tradisi fotografi ilmiah, post-processing seperti penyesuaian kontras, deconvolution, dan pewarnaan palsu (false coloring) sudah lazim dilakukan dan dianggap etis selama tidak mengubah data ilmiah yang mendasarinya. Namun penggunaan AI untuk merekonstruksi atau mempercantik visual membawa tantangan baru, terutama ketika teknologi seperti SynthID mendeteksi jejak sintetis pada hasil akhirnya.

Kasus serupa pernah terjadi di ajang Sony World Photography Awards 2023, ketika fotografer Boris Eldagsen secara sukarela menolak penghargaan setelah mengungkapkan bahwa karyanya sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Insiden tersebut memicu perdebatan luas tentang perlunya regulasi ketat terkait penggunaan AI di kompetisi seni visual dan fotografi profesional. Peristiwa Nikon Small World kali ini menambah tekanan bagi penyelenggara kompetisi untuk menyusun pedoman yang lebih tegas, terutama terkait adopsi teknologi AI di ranah ilmiah.

Implikasi untuk Kompetisi Sains ke Depan

Terlepas dari hasil investigasi Nikon, kasus ini menyoroti kebutuhan mendesak akan transparansi metodologi dalam setiap kompetisi berbasis sains. Standar pelaporan imaging pipeline — mulai dari jenis mikroskop, parameter akuisisi, hingga algoritma post-processing yang digunakan — perlu ditetapkan sebagai syarat wajib submisi, bukan sekadar opsional.

Keberadaan watermark otomatis seperti SynthID juga membuka diskusi tentang peran teknologi penanda digital sebagai mekanisme verifikasi independen. Jika alat deteksi AI semakin canggih, kompetisi fotografi di masa depan mungkin perlu mengintegrasikan proses screening otomatis sebelum tahap penjurian. Langkah ini sejalan dengan kekhawatiran global soal eskalasi AI yang kini merambah berbagai sektor, termasuk komunitas akademik dan riset.

Dunia sains dan fotografi kini menanti hasil tinjauan resmi Nikon. Hasilnya tidak hanya menentukan nasib satu karya, tetapi juga akan membentuk preseden penting bagi seluruh industri pencitraan ilmiah dalam menyikapi kehadiran AI yang semakin tak terhindarkan.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

data center AI Meta bakteri
Teknologi & AI

Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Data center yang terkait Meta diduga mencemari saluran air Cheyenne dengan bakteri langka. Pemerintah kota memperketat pembuangan limbah fasilitas.
sungai tertua di dunia Finke
Teknologi & AI

Sungai Tertua di Dunia Diduga Sudah Ada Sebelum Pangaea

Finke River di Australia diduga berusia 300–400 juta tahun dan sudah mengalir sebelum Pangaea. Simak bukti geologi dan cara usianya