Bacotan Online – Setelah hampir satu abad tersimpan rapi dari ruang publik, karya-karya orisinal perintis seni rupa dan sastra suku Sami, Johan Turi, akhirnya kembali dipamerkan secara terbuka di Kin Museum of Contemporary Art di Kiruna, Swedia utara. Pameran bertajuk “On the Ugly and the Beautiful” ini menandai momentum penting dalam sejarah budaya Nordik. Kehadiran pameran tersebut bertepatan dengan momen bersejarah penyerahan laporan investigasi menyeluruh oleh Komisi Kebenaran untuk Suku Sami (Sanningskommissionen för det samiska folket) kepada pemerintah Swedia pada akhir September 2026, yang membongkar rekam jejak diskriminasi sistematis dan perampasan hak wilayah adat selama berabad-abad.
Pameran ini menempatkan karya Johan Turi (1854–1936) bersanding dengan instalasi kontemporer dari dua seniman modern Sápmi, Outi Pieski dan Johanna Minde. Bagi masyarakat Sami—satu-satunya kelompok indigenous people yang diakui secara resmi oleh Uni Eropa—karya Turi bukan sekadar artefak seni bernilai estetika tinggi, melainkan bukti dokumenter awal yang melawan narasi kolonialisme Eropa di wilayah Lingkar Arktik.
Melawan Kolonialisme Lewat Goresan Kuas dan Bahasa Ibu
Johan Turi mencatatkan namanya dalam sejarah ketika menerbitkan buku bertajuk Muitalus sámiid birra (Kisah tentang Orang Sami) pada tahun 1910. Buku tersebut menjadi karya literatur pertama yang ditulis langsung oleh orang Sami menggunakan bahasa ibu mereka sendiri. Melalui kombinasi teks reflektif, narasi mitologi, catatan tradisi kelahiran, serta gambar perspektif mendalam mengenai pola migrasi kawanan rusa kutub, Turi berusaha menjembatani jurang pemahaman antara komunitas adat dan pemerintah pusat di Stockholm.
Direktur Kin Museum, Maria Lind, mengungkapkan bahwa karya Turi lahir dari kegelisahan mendalam atas gelombang industrialisasi awal abad ke-20 yang mulai merangsek masuk ke tanah leluhur suku Sami. Saat jaringan rel kereta api bijih besi dan tambang Kiruna pertama kali dibuka, pola hidup penggembala rusa kutub tradisional langsung terancam tercerabut. Turi berharap bukunya dibaca oleh Raja Swedia saat itu agar penguasa monarki memahami penderitaan riil warganya di utara.
Pameran ini juga menampilkan rekonstruksi ládjogahpir, penutup kepala tradisional khas perempuan Sami yang dieksplorasi oleh seniman Outi Pieski bersama peneliti Eeva-Kristiina Nylander. Simbol kultural yang sempat dihilangkan oleh asimilasi paksa gereja dan otoritas kolonial ini kini dihidupkan kembali sebagai ikon kebangkitan gerakan decolonial feminism di kawasan Nordik.
Paradoks Transisi Energi Hijau dan Ancaman Tambang Modern
Meski seabad telah berlalu sejak Turi melahirkan karya monumentalnya, ancaman eksistensial yang dihadapi masyarakat Sami saat ini justru kian kompleks dan berlipat ganda. Wilayah Kiruna kini menjadi episentrum dari ambisi green transition Uni Eropa setelah penemuan cadangan deposit rare earth minerals Per Geijer—yang tercatat sebagai formasi mineral tanah jarang terbesar di daratan Eropa. Penemuan material penting untuk motor kendaraan listrik dan turbin angin ini memicu perlombaan pembukaan tambang raksasa (open-pit mining) baru.
Di atas kertas, proyek ini digadang-gadang sebagai pilar dekarbonisasi demi memutus ketergantungan pasokan mineral kritis Eropa dari negara luar. Namun di lapangan, konsesi pertambangan skala besar bersama koridor jaringan transmisi tegangan tinggi dan ladang turbin angin justru memotong rute migrasi musiman kawanan ternak rusa kutub. Fragmentasi lanskap alam ini mempersempit padang rumput tundra yang menjadi ruang hidup utama suku Sami.
Tekanan industrialisasi ini diperparah oleh laju perubahan iklim yang menghantam kawasan Arktik empat kali lebih cepat dibanding rata-rata pemanasan global. Fluktuasi suhu ekstrem memicu fenomena rain-on-snow, di mana hujan musim dingin yang membeku di permukaan tanah menciptakan lapisan es tebal kedap udara yang mencegah rusa kutub mencium dan menggali lumut kerak (lichen) untuk bertahan hidup.
Rekonsiliasi Sejarah dan Ujian Nyata Komisi Kebenaran Skandinavia
Pelaksanaan investigasi oleh Sanningskommissionen yang dibentuk sejak tahun 2021 menjadi langkah resmi Swedia untuk menyusul Norwegia dan Finlandia dalam memeriksa dosa sejarah negara terhadap masyarakat adat. Penyelidikan independen ini mendokumentasikan penderitaan akibat kebijakan asimilasi paksa di masa lampau, pemisahan anak-anak Sami ke sekolah asrama khusus (nomadskolor), hingga praktik rasial pseudosilimiah seperti pengukuran tengkorak yang diprakarsai oleh State Institute for Racial Biology di Uppsala pada dekade 1920-an.
Laporan setebal ribuan halaman yang diserahkan di Mittuniversitetet, Östersund, memuat ratusan kesaksian langsung para tetua adat Sami. Dokumen ini menjadi dasar formal bagi tuntutan ganti rugi, pengakuan wilayah adat, serta reformasi legislasi nasional. Isu perlindungan hak asasi dan pengakuan ruang hidup kaum minoritas ini memiliki resonansi mendalam dengan dinamika hukum internasional seputar kebebasan sipil dan hak advokasi masyarakat di panggung internasional yang kerap berbenturan dengan kebijakan keamanan negara.
Namun, tantangan terbesar bagi proses rekonsiliasi ini adalah kesenjangan antara janji politik di parlemen dan implementasi di lapangan. Gelombang politik sayap kanan di berbagai negara Eropa, sebagaimana terlihat dalam pergeseran peta kekuatan politik di kawasan Eropa, belakangan kerap memicu kenaikan retorika anti-Sami di ruang publik. Sebagian kelompok politik menentang pemberian hak istimewa atas pengelolaan tanah dan hak veto adat terhadap izin eksplorasi industri.
Menata Ulang Relasi Hak Ulayat dan Masa Depan Sápmi
Pameran karya Johan Turi di Kiruna menjadi cermin tajam bahwa perjuangan mempertahankan tanah dan identitas bukanlah masa lalu, melainkan pergulatan harian yang belum tuntas. Komunitas internasional kini menyoroti apakah pemerintah Swedia akan benar-benar mengadopsi prinsip free, prior, and informed consent (FPIC) sesuai Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP), atau sekadar menjadikan komisi kebenaran sebagai formalitas simbolis.
Tanpa pengakuan hukum yang mengikat atas hak pengelolaan tanah ulayat, transisi energi hijau berisiko melanggengkan pola lama dalam kemasan baru: pengorbanan masyarakat adat demi kemakmuran industri perkotaan. Melalui goresan kuas Turi dan keberanian ratusan kesaksian dalam laporan komisi kebenaran, suku Sami menegaskan pesan tegas kepada dunia bahwa kelestarian alam Arktik tidak dapat dipisahkan dari kelangsungan hidup manusia yang merawatnya sejak ribuan tahun silam.

