Opini & Wawasan

Ketika St Andrews Berubah Menjadi ‘Scottish Upper East Side’: Badai Klasisme dan Jurang Sosial di Balik Gemerlap Kampus Elit Skotlandia

Mahasiswa beraktivitas di pelataran kampus bersejarah University of St Andrews di pesisir Skotlandia.

Bacotan Online – Lanskap University of St Andrews, kampus tertua di Skotlandia yang telah berdiri sejak abad ke-15, selama berabad-abad identik dengan aristokrasi, tradisi intelektual klasik, dan lorong-lorong batu kuno yang menghadap ke Laut Utara. Tempat bertemunya Pangeran William dan Kate Middleton ini kerap dipandang sebagai puncak pencapaian akademis Inggris Raya. Namun, di balik dinding batu megah dan pantai berbatu yang indah tersebut, badai ketegangan sosial kini pecah ke permukaan.

Pemicunya adalah pengakuan terbuka Sophie Rose Jenkins, mahasiswi program studi sastra komparatif dan studi klasik. Melalui unggahan mendalam di jejaring profesional LinkedIn, Jenkins mengumumkan keputusannya untuk tidak lagi kembali ke St Andrews pada tahun akademik ini. Keputusan pahit tersebut bukan lahir dari ketidakmampuan intelektual, melainkan rasa terasing dan intimidasi sosial yang tak tertahankan akibat diskriminasi kelas atau classism yang merajalela di lingkungan kampus.

“Mahasiswa dari latar belakang kelas pekerja (working class) terus-menerus dibuat merasa malu dengan asal-usul keluarga dan kehidupan rumah mereka di universitas ini,” ungkap Jenkins. Ia menegaskan bahwa kendati berhasil menembus salah satu kampus dengan peringkat tertinggi di Inggris, ada jurang pemisah tak kasat mata antara hak istimewa untuk sekadar diterima kuliah dan hak istimewa menikmati proses belajar tanpa hambatan finansial maupun cemoohan sosial.

Eskalasi Budaya ‘Scottish Upper East Side’

Kisah Jenkins ternyata bukan insiden terisolasi, melainkan pemantik yang membuka luka lama ratusan mahasiswa lainnya. Banyak mahasiswa mengakui bahwa dinamika sosial di kota kecil berpenduduk sekitar 18.000 jiwa tersebut kini telah bergeser drastis menyerupai mikrokosmos elit Manhattan, layaknya serial fiksi televisi, hingga memunculkan julukan Scottish Upper East Side.

Pergeseran ini didorong oleh membanjirnya mahasiswa internasional berkantong tebal, terutama dari Amerika Serikat. Data penerimaan mahasiswa menunjukkan bahwa mahasiswa asal Amerika Serikat kini mencakup sekitar seperlima atau 20 persen dari seluruh mahasiswa program sarjana (undergraduate) di St Andrews. Angka proporsi ini merupakan yang tertinggi di antara seluruh perguruan tinggi di seantero Inggris Raya.

Kehadiran mereka membawa benturan kultural yang sangat mencolok. Tradisi aristokratik kuno Inggris yang biasanya berpusat pada makan malam resmi berbusana rapi (black-tie dinner) dan pesta dansa formal kini bertransformasi menjadi panggung peragaan busana mewah, perhimpunan eksklusif bergaya fraternity dan sorority Amerika Serikat, hingga ajang kompetisi gaya hidup (lifestyle) sehari-hari.

Sejumlah mahasiswa lokal menceritakan bagaimana suasana ruang kuliah kini kerap diwarnai penampilan rekan-rekan mereka yang mengenakan busana perancang kenamaan seolah hendak pergi ke pesta malam eksklusif. Komentar meremehkan barang bawaan, perdebatan tentang merek tas mewah, hingga asumsi bahwa siapa pun yang belum pernah berkeliling dunia tidak layak berbicara tentang isu global, menjadi makanan sehari-hari yang meremukkan rasa percaya diri mahasiswa berpenghasilan pas-pasan.

Paradoks Kebijakan Subsidi dan Ketergantungan Dana Asing

Untuk memahami mengapa fenomena ini begitu akut di St Andrews, publik tidak bisa hanya melihatnya sebagai persoalan perilaku individu yang arogan. Di balik benturan sosial ini, terdapat krisis struktural dalam model pendanaan pendidikan tinggi di Skotlandia.

Pemerintah Skotlandia memberlakukan kebijakan populis di mana biaya kuliah bagi mahasiswa berdomisili lokal digratiskan sepenuhnya. Namun, anggaran negara yang terbatas memaksa pemerintah membatasi ketat kuota penerimaan mahasiswa lokal (cap), yang saat ini hanya mencakup sekitar 30 persen dari total populasi mahasiswa di St Andrews. Sementara itu, bantuan biaya hidup (maintenance loan) dan beasiswa lokal (bursary) yang diterima mahasiswa kelas bawah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar paling mendasar.

Di sisi lain, universitas-universitas di Skotlandia mengalami tekanan defisit operasional yang berat pasca-pandemi dan inflasi tinggi. Jalan keluar paling instan bagi pihak manajemen kampus adalah merekrut mahasiswa internasional non-Uni Eropa yang dikenakan tarif komersial tanpa batas regulasi. Pada tahun akademik ini, seorang mahasiswa sarjana asal Amerika Serikat membayar uang kuliah hingga £33.250 atau setara lebih dari Rp 680 juta per tahun—tiga kali lipat lebih tinggi dari tarif standar mahasiswa domestik asal wilayah Inggris lainnya.

Ketergantungan finansial yang sangat masif ini menciptakan paradoks kelembagaan: kampus membutuhkan dana segar dari keluarga ultra-kaya luar negeri agar operasional tetap berjalan, namun arus modal tersebut secara langsung mengimpor kesenjangan ekonomi luar biasa ke dalam ekosistem kampus yang relatif terisolasi.

Gentrifikasi Kota Pesisir dan Pengasingan Spasial

Dampak kesenjangan ini tidak berhenti di dalam ruang seminar. Kota St Andrews mengalami proses gentrifikasi (gentrification) yang sangat cepat. Di sepanjang jalan berbatu yang sempit, toko-toko lokal yang dulunya melayani kebutuhan warga biasa perlahan tergusur oleh butik desain interior yang menawarkan sprei mewah bagi mahasiswa kaya, gerai busana desainer, hingga kedai kopi spesialisasi yang menjual aneka minuman mahal.

Lonjakan mahasiswa berduit juga memicu krisis pasar properti sewa lokal. Mahasiswa dari keluarga mapan sanggup membayar sewa hunian dengan harga premium di atas harga wajar, memaksa mahasiswa lokal dari keluarga pekerja bersaing dalam perebutan tempat tinggal yang kian tidak terjangkau. Situasi ini mencerminkan realitas finansial dan pergeseran sosiologis global, di mana tekanan biaya hidup kerap mendikte pilihan-pilihan hidup paling personal dari generasi muda.

Akibatnya, tercipta segregasi sosial yang nyaris tanpa interaksi silang. Mahasiswa asal Inggris cenderung bergaul sesama mereka melalui klub olahraga elit seperti hoki, mahasiswa Amerika berkumpul dalam lingkaran eksklusif mereka, sedangkan mahasiswa lokal penerima bantuan kerap merasa tersisih dan tak terlihat. Seorang mahasiswa asal Denmark bahkan berkomentar bahwa ia membutuhkan waktu hingga dua pekan berada di St Andrews hanya untuk bisa bertemu dan berbincang dengan seorang warga asli Skotlandia.

Beban Mental dan Retaknya Ilusi Mobilitas Sosial

Respons pihak pimpinan universitas terhadap pengakuan Jenkins mencerminkan kerumitan masalah ini. Wakil Rektor St Andrews, Niall Scott, menyatakan bahwa perilaku diskriminatif berbasis kelas bukanlah cerminan dari kebijakan institusi, melainkan masalah sosiologis yang dibawa mahasiswa dari lingkungan rumah atau sekolah asal mereka sebelum tiba di universitas. Pihak kampus mengklaim memiliki mekanisme pelaporan yang ketat, kendati laporan resmi yang masuk dalam lima tahun terakhir tercatat sangat minim.

Namun, minimnya laporan resmi justru menunjukkan adanya rasa malu struktural (class shame). Mahasiswa kelas pekerja kerap merasa bahwa melaporkan intimidasi sosial halus atau komentar merendahkan hanya akan menegaskan posisi mereka sebagai pihak luar yang tidak pantas berada di lingkaran elit tersebut. Fenomena ini bermuara pada tekanan sosial dan krisis kecemasan generasi muda yang kini melanda berbagai institusi pendidikan bergengsi di seluruh dunia, ketika ruang akademik tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi pengembangan diri.

Ketika akses pendidikan tinggi yang digadang-gadang sebagai eskalator mobilitas sosial (social mobility) justru mempertebal dinding pemisah kelas, institusi pendidikan berada di persimpangan jalan krusial. Perguruan tinggi elit seperti St Andrews tidak bisa lagi sekadar bersembunyi di balik narasi inklusi abstrak sementara ekosistem harian mahasiswanya dikuasai oleh budaya pamer kekayaan dan perputaran modal tanpa kendali, mirip dengan riak yang terlihat pada perputaran modal korporasi dan jasa keuangan di Inggris.

Jika jurang ini terus dibiarkan tanpa intervensi nyata—mulai dari pemerataan subsidi biaya hidup hingga dekonstruksi budaya eksklusivisme kampus—gelar dari universitas ternama berisiko kehilangan martabat akademisnya, berubah menjadi sekadar bukti kepemilikan modal bagi mereka yang mampu membayar mahal untuk status sosial.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Benua Afrika terbelah
Opini & Wawasan

Afrika Perlahan Terbelah, Lautan Baru Bisa Muncul Jutaan Tahun Lagi

Afrika Timur perlahan terbelah akibat proses geologi. Penelitian menjelaskan bagaimana lautan baru dapat terbentuk jutaan tahun mendatang.
spektrum 700 MHz Komdigi
Opini & Wawasan

Nasib Sisa Spektrum 700 MHz Terungkap, Komdigi Siapkan untuk Pertahanan

Komdigi mengusulkan sisa spektrum 700 MHz untuk telekomunikasi pertahanan. Simak pembagian frekuensi dan dampaknya bagi jaringan seluler.