Paus Leo XIV di Prancis: Peringatan Keras tentang AI dan Kunjungan Kepausan Pertama dalam 18 Tahun
Bacotan Online – Paus Leo XIV memulai kunjungan empat hari ke Prancis pada Jumat (25/9/2026) dengan peringatan keras: umat manusia berisiko kehilangan jati dirinya di tengah apa yang ia sebut sebagai paradise of machines — surga mesin yang menggerus kemanusiaan. Pidato di Istana Élysée di hadapan Presiden Emmanuel Macron dan hampir 500 undangan itu langsung menetapkan nada kunjungan kepausan resmi pertama ke Prancis sejak 18 tahun lalu.
“Jika kita ingin menghindari kehilangan kemanusiaan di tengah surga mesin yang menyerbu dan mengondisikan kehidupan sehari-hari kita, ada kebutuhan mendesak bagi manusia untuk dididik dalam ethical discernment — kemampuan melihat apa yang secara moral benar,” ucap Leo di Élysée.
Pernyataan itu bukan sekadar homili keagamaan. Ini adalah intervensi langsung seorang pemimpin spiritual 1,4 miliar umat Katolik ke dalam debat paling panas di dunia teknologi: sejauh mana artificial intelligence boleh menggantikan peran manusia?
Dua Pidato, Satu Pesan: Teknologi Harus Melayani, Bukan Mendominasi
Setelah pidato di Élysée, Leo melanjutkan ke markas besar UNESCO — organisasi pendidikan dan kebudayaan PBB — untuk memperdalam pesan yang sama. Di sana, paus berusia 71 tahun ini menyentuh inti paradoks artificial intelligence: sistem komputasi diberi nama “kecerdasan” yang seharusnya milik fakultas manusia, sementara hubungan dan gagasan manusia justru berisiko dimiskinkan oleh proses dehumanisasi.
“Setiap ilmu pengetahuan berisiko kehilangan maknanya jika dikejar tanpa etika,” tegas Leo. “Sementara kecerdasan diatribusikan kepada sistem komputasi, kita kesulitan mengakui martabat yang tak dapat dicabut dari pribadi manusia yang hidupnya dinilai berdasarkan kriteria efisiensi, dan ketika dianggap tidak lagi produktif — dibuang dan dicampakkan.”
Presiden Macron menyambut pesan tersebut dengan nada serupa: “Di hadapan kekuatan teknologi digital, manusia harus mempertahankan tempatnya yang semestinya. Artificial intelligence harus menjadi pelayan, bukan tuan. Revolusi digital harus membebaskan, bukan memperbudak.”
Pernyataan Macron ini menarik karena Prancis sendiri sedang aktif memposisikan diri sebagai hub AI Eropa. Paris menjadi tuan rumah forum-forum diplomasi AI tingkat tinggi, sementara regulasi AI Uni Eropa (AI Act) yang mulai berlaku penuh tahun ini menjadikan Eropa sebagai kawasan pertama di dunia dengan kerangka hukum komprehensif untuk teknologi tersebut.
Mengapa Prancis, Mengapa Sekarang?
Kunjungan Leo XIV ke Prancis membawa signifikansi diplomatik yang tidak bisa diremehkan. Paus Fransiskus — pendahulunya yang memimpin Vatikan selama 12 tahun — berulang kali menolak melakukan kunjungan kenegaraan resmi ke Prancis. Bahkan saat Notre-Dame diresmikan ulang setelah restorasi pada 2024, Fransiskus secara mencolok menolak hadir.
Bagi Macron, yang dilarang mencalonkan diri untuk periode ketiga dalam pemilu Mei mendatang, menjadi tuan rumah paus adalah semacam capstone jabatannya. Tingkat persetujuan publik terhadap Macron berada di titik terendah, ditekan oleh kenaikan biaya hidup, pertumbuhan utang negara, dan penurunan layanan publik. Kehadiran paus yang disambut lebih dari satu juta orang di sepanjang jalan Paris memberikan momen diplomatik yang langka.
Lonceng gereja berbunyi di seluruh Prancis saat pesawat charter Leo mendarat di bandara Orly, Paris — sebuah resepsi yang menggarisbawahi tingginya antusiasme publik terhadap kunjungan pertama paus sejak 2008.
Gereja Katolik di Persimpangan: Dari 43 Persen ke 25 Persen
Namun di balik sambutan meriah itu, Prancis adalah lapangan yang kompleks bagi Vatikan. Negara ini menganut prinsip laïcité — sekularisme ketat yang diatur dalam undang-undang sejak 1905 dan tercantum dalam konstitusi. Dalam satu dekade terakhir, identifikasi masyarakat Prancis sebagai Katolik anjlok drastis: data biro statistik nasional INSEE menunjukkan hanya 25 persen warga usia 18-49 tahun yang mengaku Katolik, turun tajam dari 43 persen satu dekade sebelumnya.
Secara legislatif, Prancis juga telah mengambil posisi yang bertentangan dengan ajaran Gereja. Hak atas aborsi dicantumkan dalam konstitusi pada 2024 — sebuah preseden dunia — dan parlemen baru-baru ini mengesahkan undang-undang yang melegalkan assisted dying bagi orang dewasa dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Leo secara eksplisit menyinggung hal ini di Élysée, menyatakan kekhawatiran atas tren masyarakat yang “mengubah sains dan teknologi menjadi usaha profit yang mempromosikan manipulasi genetik, surrogacy, perdagangan organ, atau pengaturan kematian sendiri.”
Lebih dari Sekadar AI: Doktrin Nuklir Juga Disorot
Leo tidak membatasi kritiknya pada teknologi digital. Di tengah perang yang masih berkecamuk di Eropa dan Timur Tengah, ia menegaskan ulang penolakan Vatikan terhadap senjata nuklir dan menyebut doktrin deterrence nuklir sebagai “keliru” karena hanya memicu perlombaan senjata baru.
“Perdamaian bukan keseimbangan kekuatan; melainkan dibangun hari demi hari melalui dialog dan keadilan,” katanya. Pernyataan ini memiliki ironi tersendiri mengingat Prancis adalah salah satu dari lima negara bersenjata nuklir yang diakui dan secara aktif mempertahankan force de frappe sebagai pilar pertahanan nasionalnya.
Kombinasi kritik terhadap AI, nuklir, dan isu bioetika menunjukkan bahwa Leo XIV sedang membangun narasi kepausan yang lebih luas: teknologi tanpa etika — apapun bentuknya — adalah ancaman eksistensial.
Agenda Empat Hari dan Sinyal ke Depan
Kunjungan Leo ke Prancis dijadwalkan berlangsung hingga 28 September. Setelah Élysée dan UNESCO, agenda berikutnya mencakup doa vesper di Katedral Notre-Dame — yang baru saja selesai direstorasi setelah kebakaran devastatif 2019 — serta serangkaian pertemuan dengan komunitas Katolik dan pemimpin masyarakat sipil.
Bagi dunia teknologi, pesan Leo patut dicatat serius. Vatikan bukan sekadar institusi keagamaan — ia adalah aktor soft power yang memengaruhi opini miliaran orang. Ketika paus menyebut AI sebagai ancaman terhadap kemanusiaan di forum sekaliber UNESCO, itu menjadi amunisi baru bagi gerakan regulasi AI yang semakin menguat di seluruh dunia.
Pertanyaan yang ditinggalkan Leo untuk dijawab dunia cukup sederhana namun fundamental: apakah manusia akan tetap menjadi subjek dalam revolusi teknologi ini, atau diam-diam bergeser menjadi objek yang dievaluasi berdasarkan seberapa efisien ia bisa digantikan oleh agen-agen digital yang semakin canggih?

