Teknologi & AI

Juri Santa Fe Putuskan Facebook Langgar Hukum Soal Cambridge Analytica, TikTok Sepakati Ganti Rugi USD 100M dengan Alabama

Ilustrasi platform media sosial menghadapi tuntutan hukum perlindungan privasi dan keselamatan anak

Bacotan Online – Hari Jumat, 25 September 2026, mencatatkan dua pukulan hukum signifikan terhadap industri media sosial di Amerika Serikat. Di Santa Fe, New Mexico, juri menyatakan Facebook bersalah melanggar undang-undang perlindungan konsumen terkait skandal Cambridge Analytica. Pada hari yang sama, TikTok menyepakati penyelesaian perkara senilai minimum USD 100 juta dengan negara bagian Alabama atas tuduhan membahayakan pengguna di bawah umur. Kedua putusan ini memperkuat arus besar akuntabilitas hukum yang kini mengejar platform digital raksasa dari berbagai arah sekaligus.

Facebook Dinyatakan Bersalah: 43 Juta Pelanggaran di New Mexico

Persidangan selama dua pekan di pengadilan Santa Fe berputar pada satu pertanyaan inti: apakah Facebook menipu penggunanya soal perlindungan data pribadi. Jawabannya tegas — juri memutuskan bahwa Meta Platforms (induk Facebook) melanggar Unfair Practices Act New Mexico melalui pernyataan-pernyataan menyesatkan tentang penanganan data pengguna, termasuk penyelidikan internal yang diklaim perusahaan pasca-skandal Cambridge Analytica.

Menurut laporan Associated Press, juri menemukan sekitar 43 juta pelanggaran yang berdampak pada seluruh populasi New Mexico — lebih dari dua juta penduduk. Inti kasusnya bermula dari kuis kepribadian pihak ketiga yang diam-diam menyedot data sekitar 87 juta profil Facebook secara global lalu menjualnya ke firma konsultan politik Cambridge Analytica. Firma yang kini sudah bubar itu menggunakan data tersebut untuk memproduksi iklan politik tertarget, termasuk untuk kampanye presiden Donald Trump pada 2016.

Besaran denda belum ditetapkan — hakim yang akan menentukan jumlahnya di sidang terpisah. Jaksa negara bagian meminta hukuman maksimum USD 5.000 per pelanggaran. Jika dikenakan penuh terhadap 43 juta pelanggaran, angkanya berpotensi mencapai ratusan miliar dolar, meski realisasinya hampir pasti akan jauh lebih rendah setelah proses negosiasi.

Mengapa New Mexico Berdiri Sendiri

Posisi New Mexico dalam konstelasi gugatan terhadap Meta sangat unik. Pada Agustus 2026, Meta menyepakati penyelesaian multistate senilai hingga USD 17 miliar dengan koalisi puluhan negara bagian AS atas gugatan terkait keselamatan anak di Instagram dan Facebook. Tersembunyi dalam dokumen perjanjian setebal 130 halaman terdapat klausul yang membebaskan Meta dari tanggung jawab masa depan terkait skandal Cambridge Analytica.

New Mexico menolak menandatangani perjanjian tersebut — menjadikannya, bersama Florida, satu dari hanya dua negara bagian yang tidak ikut. Keputusan itu terbukti strategis: New Mexico kini memegang putusan juri yang bisa menjadi preseden hukum mandiri. Sebelumnya, sepanjang tahun ini, New Mexico juga sudah memenangkan gugatan senilai USD 942 juta terhadap Meta dalam dua fase persidangan soal gagalnya perlindungan terhadap pengguna di bawah umur, plus perintah pengadilan agar perusahaan menerapkan teknologi verifikasi usia dan batas waktu penggunaan.

Secara kumulatif, satu negara bagian berpenduduk dua juta jiwa ini telah menghasilkan tiga putusan terpisah melawan Meta hanya dalam kurun beberapa bulan — sebuah tekanan hukum yang tidak proporsional jika diukur dari skala populasinya.

TikTok Bayar Minimum USD 100 Juta ke Alabama

Di sisi lain, pada tanggal yang sama, Jaksa Agung Alabama Steve Marshall mengumumkan penyelesaian perkara bersejarah dengan TikTok. Ini merupakan penyelesaian pertama di tingkat negara bagian terhadap platform milik ByteDance tersebut — kasus yang sejatinya dijadwalkan masuk persidangan pada Senin berikutnya.

Alabama akan menerima minimum USD 100 juta dalam 45 hari, dengan potensi total hingga USD 300 juta jika syarat-syarat tertentu terpenuhi. Namun yang lebih substansial dari kompensasi finansial adalah serangkaian perubahan operasional wajib yang harus diterapkan TikTok:

  • Batas waktu penggunaan harian dua jam untuk pengguna di bawah umur, dengan kontrol orangtua yang bisa memperketat batasan tersebut.
  • Productive pauses — jeda otomatis setelah 15 menit penggunaan berturut-turut, lalu kembali pada menit ke-60 dan ke-90 — untuk memotong kebiasaan endless scrolling.
  • Pembatasan akses malam hari dari pukul 00.00 hingga 06.00, ditambah pemblokiran notifikasi dan pesan selama jam sekolah.
  • Larangan total penggunaan cosmetic filters oleh pengguna remaja.
  • Feed non-personalisasi sebagai pengaturan bawaan bagi pengguna di bawah umur — artinya algoritma rekomendasi tidak aktif secara default.
  • Langkah verifikasi usia yang lebih ketat dan moderasi konten yang membatasi jangkauan akun remaja terhadap pengguna dewasa.

Kesepakatan ini menutup gugatan Alabama yang menuduh TikTok merancang platformnya dengan fitur-fitur adiktif, secara sadar mengekspos pengguna muda pada risiko kesehatan mental, dan menyesatkan publik soal keamanan platformnya.

Gelombang Regulasi yang Semakin Besar

Kedua putusan ini tidak berdiri sendiri. Mereka adalah bagian dari gelombang akuntabilitas hukum yang kini melanda seluruh ekosistem teknologi digital. Dalam penyelesaian multistate Meta senilai USD 17 miliar pada Agustus lalu, sejumlah ketentuan menarik patut diperhatikan: batas waktu penggunaan dua jam yang menjadi default untuk pengguna di bawah 18 tahun, pemblokiran malam hari, penghapusan tampilan jumlah likes pada pos milik anak di bawah umur, larangan cosmetic surgery filters, serta opsi non-personalized feed tanpa algoritma.

Angka USD 17 miliar terdengar besar, tapi konteksnya penting. Meta melaporkan laba bersih sekitar USD 16 miliar pada kuartal terakhir saja. Artinya, penyelesaian yang dibayar dalam rentang 10 tahun itu setara dengan sedikit lebih dari satu kuartal keuntungan perusahaan. Profesor hukum Stanford, Nora Freeman Engstrom, menyebutnya bukan pocket change tapi juga bukan body blow.

Namun efek beruntun dari penyelesaian-penyelesaian ini berpotensi lebih berat dari angka nominalnya. Meta sendiri dalam pernyataan resminya meminta TikTok, YouTube, dan Snapchat untuk mengadopsi kerangka proteksi yang sama — sebuah langkah yang jika terjadi, akan memperketat batasan lebih jauh: misalnya, batas waktu harian akan turun dari dua jam menjadi satu jam.

Apa Artinya bagi Pengguna

Bagi pengguna media sosial — khususnya orangtua — rangkaian putusan ini membawa konsekuensi praktis. Platform-platform besar kini secara hukum terikat untuk mengubah arsitektur produk mereka, bukan sekadar menyediakan opsi pengaturan yang terkubur di menu berlapis. Feed non-personalisasi sebagai default, batas waktu otomatis, dan jeda berkala bukan lagi fitur opsional tetapi kewajiban hukum.

Di sisi lain, putusan juri Cambridge Analytica di New Mexico mengirimkan sinyal bahwa pelanggaran privasi data — meskipun terjadi hampir satu dekade lalu — tetap bisa dikejar secara hukum. Taktik Meta yang kini menyediakan sakelar privasi di perangkat seperti Ray-Ban bisa dilihat sebagai respons adaptif terhadap lanskap regulasi yang semakin menggenggat.

Satu hal yang jelas: era di mana platform media sosial beroperasi dengan kekebalan hukum nyaris absolut mulai berakhir. Yang tersisa kini adalah pertanyaan seberapa besar dan seberapa cepat industri ini harus berubah — bukan lagi apakah mereka harus berubah.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

data center AI Meta bakteri
Teknologi & AI

Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Data center yang terkait Meta diduga mencemari saluran air Cheyenne dengan bakteri langka. Pemerintah kota memperketat pembuangan limbah fasilitas.
sungai tertua di dunia Finke
Teknologi & AI

Sungai Tertua di Dunia Diduga Sudah Ada Sebelum Pangaea

Finke River di Australia diduga berusia 300–400 juta tahun dan sudah mengalir sebelum Pangaea. Simak bukti geologi dan cara usianya