Bacotan Online – Libur panjang festival Chuseok 2026 kembali menjadi masa panen raya bagi industri bioskop Korea Selatan. Dua film lokal unggulan, film cerita seru politik The Assassin(s) dan babak keempat waralaba judi kriminal Tazza: The Song of Beelzebub, sukses menguasai puncak tangga film terlaris (box office) domestik selama akhir pekan periode 25 hingga 27 September 2026. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Korean Film Council (KOFIC) melalui sistem pelacakan KOBIS, dominasi film lokal menyapu bersih lebih dari 80 persen pangsa pasar bioskop di seluruh penjuru negeri ginseng.
Film The Assassin(s) arahan sutradara kenamaan Hur Jin-ho langsung melesat ke posisi puncak pada pekan pembukaannya. Film berlatar sejarah ini mengantongi pendapatan sebesar 8 juta dolar Amerika Serikat (sekitar Rp125 miliar) dari 1.119.156 penjualan tiket (admissions) hanya dalam rentang waktu tiga hari. Ditayangkan di 1.532 layar bioskop, karya Hur menguasai 40,9 persen pangsa pasar akhir pekan. Terhitung sejak resmi diputar pada 23 September menjelang puncak libur tradisional, total penerimaan kumulatifnya telah menembus 11,2 juta dolar AS dengan akumulasi penonton mencapai 1.566.222 orang.
Investigasi Balistik Tragedi 1974 dalam The Assassin(s)
Keberhasilan komersial The Assassin(s) tidak lepas dari materi cerita yang menggali salah satu luka politik paling sensitif dalam sejarah modern Korea Selatan. Film ini merekonstruksi peristiwa 15 Agustus 1974, ketika pria bersenjata bernama Mun Se-gwang melepaskan tembakan saat Presiden Park Chung-hee menyampaikan pidato peringatan Hari Pembebasan Nasional di National Theater of Korea, Seoul. Dalam tragedi bersejarah tersebut, Presiden Park selamat tanpa cedera, namun sang Ibu Negara, Yuk Young-soo, tewas akibat luka tembak di bagian kepala.
Alih-alih menyajikan dramatisasi biografi konvensional, sutradara Hur Jin-ho meramu alur cerita menjadi period investigation drama yang berfokus pada ketegangan penyelidikan di balik layar. Plot film mengikuti kolaborasi intens antara seorang detektif kepolisian yang diperankan Yu Hae-jin, kepala desk liputan kriminal surat kabar kawakan yang dimainkan Park Hae-il, serta seorang jurnalis investigasi muda yang diperankan Lee Min-ho. Ketiganya mencium kejanggalan dalam rekonstruksi perkara resmi rezim militer saat menemukan bukti balistik selongsong peluru yang raib dari berkas pengadilan. Temuan forensik independen mereka secara terang-terangan menentang kesimpulan resmi penguasa kala itu yang buru-buru menetapkan teori pelaku tunggal (lone gunman).
Keberhasilan film ini mempertegas tren minat penonton Korea Selatan terhadap sinema berbobot kritik sosial-politik masa lalu. Serupa dengan euforia film laris sebelumnya seperti 12.12: The Day dan The Man Standing Next, penonton domestik menunjukkan antusiasme luar biasa terhadap narasi sejarah yang membongkar intrik kekuasaan otoriter, sekaligus menyajikan adegan investigasi jurnalistik yang memicu diskursus publik di media sosial.
Tazza 4 Hadirkan Taruhan Kasino Online Internasional
Di posisi kedua tangga film, rilisan anyar Tazza: The Song of Beelzebub mengukuhkan posisi sebagai penantang terkuat dengan mengumpulkan pendapatan 4,1 juta dolar AS dari 566.526 penonton di 1.045 layar, menyumbang 21,3 persen dari total penerimaan pasar. Sejak rilis perdananya pada 23 September 2026, film garapan sutradara Choi Kook-hee ini telah membukukan pendapatan kumulatif sebesar 6,1 juta dolar AS dari 833.030 tiket terjual.
Sebagai instalasi keempat dari waralaba legendaris yang diadaptasi dari komik (manhwa) karya komikus tersohor Heo Young-man, Tazza 4 menghadirkan penyegaran latar yang signifikan. Jika tiga film pendahulunya kental dengan permainan kartu tradisional Korea, Hwatu, babak terbaru ini membawa tensi permainan ke ranah kasino daring (online casino) internasional dan turnamen poker berisiko tinggi. Dibintangi oleh jajaran aktor papan atas seperti Byun Yo-han, Noh Jae-won, serta aktris asal Jepang Ayaka Miyoshi, plot film mengisahkan aksi balas dendam mantan pengelola situs taruhan yang dikhianati rekan bisnisnya dan harus bertaruh nyawa di meja poker profesional.
The Odyssey Tembus Klub 10 Juta Penonton
Di tengah kepungan film-film baru pembuka libur Chuseok, film epik fiksi ilmiah domestik The Odyssey tetap mempertahankan daya tariknya di posisi ketiga pada pekan kedelapannya. Film ini menambah pendapatan sebesar 3,2 juta dolar AS dari 364.763 penonton di 843 layar bioskop, mengamankan 16,6 persen pangsa pasar akhir pekan. Capaian spektakuler tersebut secara resmi mengantarkan The Odyssey menembus angka fantastis 96,3 juta dolar AS dengan total 11.783.301 penonton sejak diluncurkan pada 5 Agustus 2026.
Dengan melampaui ambang batas 10 juta tiket, The Odyssey mengukuhkan statusnya ke dalam jajaran prestisius 10-million admissions club—sebuah tolak ukur keberhasilan mahakarya komersial tertinggi di industri perfilman Korea Selatan. Angka ini menegaskan bahwa film layar lebar beranggaran besar dengan produksi visual kelas dunia masih memiliki magnet sangat kuat untuk menarik penonton dari berbagai generasi berbondong-bondong ke gedung bioskop fisik.
Sementara itu, posisi keempat ditempati oleh drama komedi The Intern garapan sutradara Kim Do-young. Film remake berlisensi resmi dari Warner Bros Korea yang dibintangi aktor veteran berkelas Choi Min-sik bersama bintang kenamaan Han So-hee ini meraup 1,5 juta dolar AS dari 206.347 tiket di 722 layar, mengangkat pemasukan totalnya menjadi 5,3 juta dolar AS dari 756.057 penonton pada pekan kedua pemutarannya.
Film Festival Venice dan Tekanan Terhadap Rilisan Hollywood
Kejutan menarik di daftar lima besar datang dari film drama sosial arahan sutradara auteur ternama Lee Chang-dong berjudul Possible Love. Film yang baru saja dianugerahi penghargaan bergengsi Grand Jury Prize di ajang Festival Film Venice 2026 dan terpilih sebagai perwakilan resmi Korea Selatan di ajang Academy Awards (Oscar) ini memulai debut di posisi kelima dengan raihan 557.981 dolar AS dari 72.022 penonton di 195 layar terbatas. Menampilkan ansambel pemeran kelas satu—Jeon Do-yeon, Sul Kyung-gu, Cho Yeo-jeong, dan Zo In-sung—film ini mengangkat friksi kelas pekerja dan pasangan sineas kaya raya pasca-mogok kerja pabrik, membuktikan tingginya apresiasi penonton Korea terhadap sinema independen berkualitas festival.
Dominasi mutlak film lokal pada libur Chuseok kali ini sekaligus membuat film-film impor Hollywood harus puas berebut sisa penonton di papan bawah. Rilisan ulang Marvel Studios bertajuk Avengers: Endgame Encore bertengger di posisi ketujuh dengan pendapatan 550.939 dolar AS dari 63.273 penonton di 178 layar. Walaupun strategi re-release Avengers: Endgame Encore terbukti berhasil mencetak puluhan juta dolar di pasar global, daya cengkeramnya di Korea Selatan harus tunduk di hadapan gelombang film cerita lokal.
Kondisi serupa dialami oleh film reboot horor Resident Evil di urutan kedelapan dengan 291.213 dolar AS, serta Spider-Man: Brand New Day di posisi kesembilan yang menambah 154.701 dolar AS dengan raihan kumulatif domestik mencapai 67,4 juta dolar AS dari 9 juta tiket.
Konteks Industri: Pulihnya Daya Tarik Sinema di Tengah Platform OTT
Perputaran ekonomi bioskop Korea Selatan pada libur Chuseok 2026 memberikan pesan strategis yang sangat jelas bagi lanskap hiburan Asia. Di saat layanan streaming digital seperti Netflix, Disney+, dan platform lokal TVING terus menggelontorkan serial berbiaya tinggi, pengalaman menonton komunal di layar lebar tetap tidak tergantikan ketika studio film menyajikan konten bermutu tinggi dengan penulisan naskah yang matang.
Sinergi antara tema investigasi sejarah yang memicu rasa ingin tahu, penyegaran waralaba aksi legendaris, serta keberhasilan distribusi film festival menegaskan kematangan ekosistem sinema Korea. Sama seperti kiprah industri hiburan Korea Selatan yang menembus panggung global, pasar domestik mereka memiliki basis penonton loyal yang menuntut standar produksi berkelas dunia. Dengan perolehan ratusan miliar rupiah hanya dalam satu akhir pekan festival, libur Chuseok kembali membuktikan perannya sebagai barometer kekuatan industri sinema Asia kontemporer.

