Tren & Pop Culture

Prancis vs Italia di UEFA Nations League Matchday 3: Era Zidane Diuji, Azzurri Kejar Ketertinggalan di Stade de France

Pertandingan sepak bola Italia melawan Prancis di Piala Dunia FIFA 2006

Bacotan Online – Duel klasik sepak bola Eropa tersaji malam ini saat Prancis menjamu Italia di Stade de France, Paris, dalam laga matchday 3 UEFA Nations League 2026/2027 Grup A1. Pertandingan yang dijadwalkan kick-off pukul 01.45 WIB dini hari Sabtu (3/10/2026) ini bukan sekadar laga persahabatan bergengsi—melainkan ujian nyata bagi era baru Les Bleus di bawah komando Zinédine Zidane, sekaligus misi pemulihan Italia yang butuh poin demi bertahan di zona atas klasemen.

Zidane dan Babak Baru Timnas Prancis

Penunjukan Zinédine Zidane sebagai pelatih kepala timnas Prancis pada 28 Juli 2026 mengakhiri salah satu penantian terpanjang dalam sejarah sepak bola modern. Setelah Didier Deschamps mundur usai FIFA World Cup 2026—di mana Prancis tersingkir di perempat final oleh Spanyol—Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) langsung menunjuk sang legenda. Zidane menandatangani kontrak empat tahun yang dirancang membawa Les Bleus hingga Piala Dunia 2030.

Langkah awal Zidane terbilang meyakinkan. Dalam dua laga pembuka Nations League, Prancis meraih enam poin sempurna—termasuk kemenangan atas Turki dan Belgia—dan kini bertengger di puncak Grup A1. Yang menarik, Zidane membawa perombakan signifikan pada skuad. Tidak ada lagi Kylian Mbappé maupun Antoine Griezmann—yang pensiun dari tim nasional setelah menorehkan 137 caps dan 44 gol. Generasi baru seperti Bradley Barcola, Maghnes Akliouche, dan Desire Doué mendapat kepercayaan penuh di lini depan.

Prediksi Line-up dan Formasi

Zidane diperkirakan menurunkan formasi 4-3-3 dengan Mike Maignan di bawah mistar. Lini belakang diisi Pierre Kalulu, Maxime Lacroix, Ethan Jacquet, dan Abdoulaye Diouf. Tiga gelandang—Akliouche, Joao Da Cunha, dan Eduardo Camavinga—menjadi motor build-up permainan. Trio penyerang dipercayakan kepada Barcola, Lepaul, dan Doué, dengan Ousmane Dembélé serta Michael Olise siap masuk dari bangku cadangan.

Di kubu Italia, Roberto Mancini menyiapkan formasi 4-1-2-3 yang agresif. Gianluigi Donnarumma tetap menjaga gawang, didukung lini belakang Michael Kayode, Giorgio Scalvini, Alessandro Bastoni, dan Matteo Ruggeri. Sandro Tonali berperan sebagai defensive midfielder, sementara Davide Frattesi dan Nicolò Fagioli mengisi posisi gelandang serang. Lini depan Italia mengandalkan Pio Esposito, Salvatore Esposito, dan Giacomo Raspadori, dengan Gianluca Scamacca dan Moise Kean di bangku cadangan.

Konteks Klasemen dan Taruhan Besar

Menjelang matchday 3, klasemen sementara Grup A1 menempatkan Prancis di puncak dengan enam poin, diikuti Belgia (tiga poin), Italia (tiga poin), dan Turki (nol poin). Bagi Italia, kekalahan di Stade de France bisa berarti tertinggal tiga poin dari Prancis sekaligus terancam turun ke peringkat empat jika Belgia meraih kemenangan atas Turki di laga yang berlangsung bersamaan di Liège.

Mancini tentu mengingat bahwa Italia sudah bangkit dari kekalahan 0-2 melawan Belgia pada matchday pembuka dengan kemenangan telak 4-1 atas Turki. Gol-gol dari Bastoni, Frattesi, Kayode, dan Pio Esposito di laga tersebut membuktikan bahwa Azzurri mampu meledak saat terdesak. Namun, bermain di markas Prancis yang baru saja menemukan identitas taktis baru di bawah Zidane jelas bukan tugas mudah.

Catatan Historis: Dominasi Prancis dalam Dekade Terakhir

Statistik head-to-head terbaru berpihak pada Prancis. Dalam lima pertemuan terakhir, Les Bleus memenangi empat laga dan hanya kalah sekali. Kemenangan terakhir Prancis di Nations League edisi sebelumnya bahkan tercatat di kedua leg: 3-1 di kandang Italia dan 3-1 di Paris. Kemenangan terakhir Italia atas Prancis dalam kompetisi resmi harus dirunut jauh ke belakang—hingga final Piala Dunia 2006 di Berlin, laga yang ironisnya menjadi panggung terakhir Zidane sebagai pemain, lengkap dengan insiden headbutt terhadap Marco Materazzi yang abadi dalam ingatan pecinta sepak bola.

Dua dekade kemudian, Zidane kini berdiri di sisi lapangan sebagai pelatih—menghadapi tim yang pernah merampas trofi terbesar dari tangannya. Narasi balas dendam mungkin terlalu dramatis, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa laga ini memuat lapisan emosional yang jarang ditemukan di ajang Nations League.

Apa yang Harus Dicermati

Pertama, efektivitas pressing tinggi Prancis tanpa figur sentral seperti Mbappé. Barcola dan Doué memiliki kecepatan luar biasa, tetapi belum teruji dalam laga bertekanan tinggi melawan pertahanan Italia yang terorganisir. Kedua, duel di lini tengah antara Camavinga-Akliouche melawan Tonali-Frattesi akan menjadi kunci siapa yang menguasai tempo permainan. Ketiga, performa Donnarumma sebagai benteng terakhir Italia—kiper yang selalu tampil terbaik di panggung besar—bisa menjadi pembeda tipis antara kemenangan dan kekalahan bagi Azzurri.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang ingin menonton, laga ini disiarkan langsung melalui RCTI dan Vision+ mulai pukul 01.45 WIB. Anda juga bisa mengikuti perkembangan terkini soal skandal finansial Manchester City di Premier League yang turut mengguncang lanskap sepak bola Eropa, serta membaca ulasan aksi Mitchell Baker yang membawa Timnas Indonesia ke Final ASEAN Cup 2026 sebagai perbandingan menarik antara sepak bola Eropa dan Asia Tenggara.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

Timnas eFootball Indonesia di Asian Games 2026
Tren & Pop Culture

Timnas eFootball Indonesia Lolos Perempat Final Asian Games 2026

Timnas eFootball Indonesia memastikan tiket perempat final Asian Games 2026 setelah menang atas Kirgistan dan Hong Kong di fase grup.
Robert Pattinson sebagai Batman dalam dunia Gotham garapan Matt Reeves
Tren & Pop Culture

The Batman Part II Disebut Ambisius, Apa Arti “Belok Tajam” Versi Robert Pattinson?

Robert Pattinson menyebut The Batman: Part II sebagai proyek ambisius yang mengambil “belok tajam” dari film pertama. Ini fakta terverifikasi,