Bacotan Online – Ketika matahari tergelincir di balik punggungan cadas pegunungan Lesotho, Kabelo Mohai dan Lepeli Maapesa baru saja memulai rute harian yang melelahkan. Sembari membebat tubuh mereka dengan selimut wol tebal guna menepis terpaan angin beku, dua pemuda ini menuruni lereng berbatu di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Sekitar satu setengah jam kemudian, kerlip lampu kota kecil Semonkong menyambut langkah mereka. Di tengah kegelapan malam, puluhan siluet berselimut serupa melangkah riang menuju sebuah bangunan sederhana dengan penerangan lampu neon: Good Shepherd School, tempat para penggembala pegunungan berkumpul setiap malam untuk mengenal huruf dan angka.
Mohai yang kini berusia 20 tahun dan rekannya Lepeli, 23 tahun, merupakan potret nyata dari puluhan ribu anak laki-laki di Lesotho yang terikat profesi penggembala ternak. Di negara kecil yang terkurung sepenuhnya di tengah daratan Afrika Selatan ini, peternakan adalah urat nadi ekonomi nasional. Wol dan serat bulu kambing mohair menyumbang hampir 60 persen dari seluruh ekspor komoditas pertanian serta menopang nafkah seperempat populasi pedesaan. Namun, roda ekonomi agraris tersebut berputar di atas pengorbanan masa kecil anak-anak laki-laki yang terpaksa memutus bangku sekolah formal demi menjaga kawanan domba di puncak bukit terpencil.
Anomali Ketimpangan Gender dan Beban Tradisi Agraris
Kondisi di Lesotho menampilkan anomali demografis yang sangat kontras jika dibandingkan dengan tren pendidikan di sebagian besar negara berkembang. Di saat banyak negara menghadapi tantangan kesetaraan gender akibat rendahnya partisipasi anak perempuan di sekolah, Lesotho justru mencatatkan disparitas pendidikan terbalik yang sangat mencolok. Data Bank Dunia dan UNICEF mengonfirmasi bahwa hampir separuh anak laki-laki usia sekolah di Lesotho terserap ke dalam aktivitas penggembalaan hewan ternak.
Statistik resmi menunjukkan bahwa hanya 69 persen anak laki-laki yang berhasil menuntaskan pendidikan tingkat sekolah dasar, berbanding jauh dengan 92 persen anak perempuan. Ketimpangan ini kian melebar di jenjang pendidikan menengah pertama dan atas, di mana hanya 22 persen remaja putra yang mampu melanjutkan sekolah. Akibatnya, Lesotho mencatatkan rasio 1,6 siswi perempuan untuk setiap satu siswa laki-laki di bangku sekolah lanjutan—salah satu angka ketimpangan gender terbalik paling ekstrem di dunia. Fenomena krisis pendidikan berbasis gender akibat tuntutan nafkah keluarga ini kerap memiliki kemiripan dinamika dengan tekanan sosial pekerja sektor informal di belahan dunia lain, seperti yang sempat diulas dalam sorotan kerapuhan sektor riil dan ketenagakerjaan di negara berkembang.
Isolasi Ekstrem di Atas Ketinggian ‘Negeri di Balik Awan’
Sebagai satu-satunya negara di dunia yang seluruh wilayah daratannya berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, Lesotho kerap dijuluki sebagai Kingdom in the Sky. Wilayah dataran tinggi ini menyuguhkan iklim yang sangat keras: badai salju lebat di musim dingin serta panas menyengat saat musim kemarau. Di punggung-punggung bukit terjal inilah para penggembala tinggal selama berbulan-bulan di dalam gubuk batu darurat yang dikenal sebagai cattle posts.
Di tempat penampungan berdinding batu dan beratap ranting jerami tersebut, kehidupan berlangsung sangat minim fasilitas. Kabelo Mohai, yang mulai menggembala penuh waktu sejak usia 15 tahun untuk menjaga 155 domba dan kambing milik keluarganya, tidur beralaskan lempengan batu datar bertutup kain tipis. Satu-satunya teman setianya selama berbulan-bulan di puncak tebing adalah anjing gembalanya yang diberi nama Balireng. Isolasi sosial yang ekstrem di kawasan terjal tanpa infrastruktur dasar menuntut ketahanan fisik luar biasa, sekaligus memutus interaksi sosial normal yang seharusnya dinikmati anak-anak seusianya. Pola hidup berat di alam liar yang terisolasi ini membuktikan betapa faktor geografis dan kontur alam memainkan peran krusial dalam membentuk nasib manusia, serupa dengan pembahasan geologis mengenai interaksi ekosistem daratan dan kontur bumi.
Lingkaran Setan Eksploitasi Akibat Ketiadaan Literasi Dasar
Kerentanan terbesar yang dialami para penggembala bukanlah sekadar dinginnya malam di pegunungan, melainkan ancaman eksploitasi yang timbul akibat buta huruf dan buta angka. Tanpa kemampuan berhitung dasar, para penggembala tidak mampu menghitung jumlah hewan ternak secara akurat, tidak memahami nilai uang tunai yang mereka terima, serta tidak bisa membaca klausul kontrak kerja yang disodorkan para pemilik ternak. Akibatnya, upah yang tidak dibayarkan penuh dan pemotongan sepihak menjadi santapan sehari-hari yang harus mereka telan tanpa perlawanan hukum.
Potret kepedihan ini dialami langsung oleh Motlatsi Monoana, seorang pria paruh baya yang baru pertama kali menyentuh bangku belajar pada tahun ini. Sejak usia anak-anak, orang tuanya melarangnya bersekolah demi menjaga ternak. Selama puluhan tahun hidup tanpa kemampuan membaca, ia kerap diperdaya oleh majikan dan menandatangani dokumen sepihak yang merugikannya. Ketiadaan literasi dasar juga membuat para penggembala rentan terhadap masalah kesehatan akut, termasuk ketidakmampuan membaca aturan pakai obat-obatan, serta keterbatasan akses terhadap program pencegahan penyakit menular seperti tuberkulosis dan HIV yang menjadi isu kesehatan krusial di Lesotho pedesaan.
Inisiatif Akar Rumput Melawan Keterbatasan Fasilitas
Melihat kondisi kelam tersebut, gerakan pendidikan nonformal mulai bermunculan atas dedikasi para sukarelawan lokal. Diperkirakan terdapat sekitar 155 sekolah malam yang beroperasi di pelosok desa di seluruh penjuru Lesotho. Salah satunya adalah Good Shepherd Night School di Semonkong, yang didirikan sejak tahun 2003 oleh biara suster lokal. Di bawah asuhan Suster Rosemary Mokebe, lebih dari 40 penggembala berusia 15 hingga 55 tahun tekun mengeja huruf abjad dan memecahkan soal matematika sederhana setiap malam setelah seharian penuh memeras keringat di padang rumput.
Di distrik Thaba-Tseka, Mampho Makha mengelola sekolah serupa di sebuah gubuk seng sempit di tepi tebing curam. Tanpa pasokan listrik PLN, Makha dan para siswanya mengandalkan lampu senter ponsel genggam untuk membaca papan tulis dan lembar latihan. Makha tergerak mengajar setelah ayahnya, seorang kepala desa buta huruf, sempat dipenjara hanya karena menolak menandatangani dokumen pengadilan yang tidak dapat dipahaminya. Dedikasi tanpa pamrih ini membuktikan pentingnya penguatan modal manusia di level akar rumput, sejalan dengan visi program peningkatan kapasitas nutrisi dan tata kelola masyarakat seperti pada proyek percontohan manajemen edukasi publik dan pemberdayaan generasi muda.
Tantangan Birokrasi dan Harapan Memutus Keterisolasian
Kendati peran sekolah malam ini terbukti menjadi penyelamat literasi, masa depan program pendidikan nonformal masih dibayangi ketidakpastian administratif. Upaya Kementerian Pendidikan Lesotho untuk melembagakan sekolah-sekolah sukarela ini dan menyalurkan tunjangan operasional bagi para pengajar kerap terhambat oleh lambatnya birokrasi di Non-Formal Education Department. Banyak pengajar yang harus mengabdi berbulan-bulan tanpa kejelasan perpanjangan kontrak kerja, sementara fasilitas belajar tetap bergantung pada sumbangan komunitas lokal.
Bagi para penggembala, kehadiran ruang kelas malam bukan semata urusan mengejar ijazah formal. Tempat ini menjadi wadah pemulihan sosial untuk membangun kemampuan komunikasi, mengasah empati, serta melarikan diri sejenak dari rasa sepi yang mencekam di pegunungan. Ketso Mokoena, seorang pemuda 18 tahun yang sempat menjadi penggembala, berhasil membuktikan bahwa pintu harapan tetap terbuka. Berkat dorongan para pengajar sekolah malam yang mengumpulkan dana untuk biaya pendidikannya, kini Mokoena berhasil menembus kelas 11 di sekolah reguler dengan mimpi besar menjadi seorang apoteker. Langkah kecil menuruni lereng gunung di tengah kegelapan malam membuktikan bahwa pendidikan tetap menjadi senjata paling ampuh untuk membebaskan manusia dari takdir keterisolasian.

