Bacotan Online – Lanskap diplomasi teknologi global mendadak dihadapkan pada manuver semantik yang diinisiasi langsung dari Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Presiden China Xi Jinping telah menyepakati keputusannya untuk mengganti istilah artificial intelligence (AI) menjadi super intelligence (SI). Pernyataan kontroversial tersebut dilontarkan Trump melalui platform media sosial resminya tak lama setelah berakhirnya jamuan makan malam bilateral di Washington yang turut dihadiri sejumlah eksekutif papan atas industri teknologi dunia. Meski demikian, sikap resmi yang diperlihatkan Beijing justru memperlihatkan jurang pemisah yang lebar mengenai bagaimana kedua kekuatan komputasi terbesar dunia ini mendefinisikan dan mengatur masa depan teknologi masa depan.
Kronologi Manuver Gedung Putih dan Memo Internal Departemen Luar Negeri
Gagasan untuk menanggalkan frasa kecerdasan buatan bermula ketika Donald Trump berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum PBB di New York awal pekan ini. Dalam pidatonya, Trump secara terbuka mengeklaim bahwa penggunaan kata artificial memberikan kesan bahwa teknologi canggih tersebut bersifat palsu atau manipulatif. Menurutnya, pencapaian komputasi modern saat ini tidak lagi tepat disebut artifisial, melainkan jauh lebih tepat diklasifikasikan sebagai super intelligence. Trump menegaskan bahwa dokumen-dokumen resmi pemerintah federal Amerika Serikat selanjutnya akan secara sepihak mengadopsi nomenklatur baru tersebut.
Langkah politik tersebut dengan cepat diterjemahkan ke dalam instruksi birokrasi nyata. Melalui sebuah surel memo internal bertajuk Change in Nomenclature AI to SI yang diperoleh Associated Press, Deputi Asisten Sekretaris Negara untuk Biro Urusan Organisasi Internasional, Michael Drager, memerintahkan seluruh staf diplomatik AS untuk mengganti setiap penyebutan artificial intelligence menjadi super intelligence. Dalam instruksi operasional itu, para diplomat AS bahkan diminta memakai singkatan resmi SI dalam seluruh naskah pidato, resolusi, posisi tawar diplomatik, hingga rilis pers resmi di berbagai forum internasional, termasuk pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
Puncak dari klaim sepihak tersebut terjadi menyusul pertemuan bilateral antara Trump dan Xi Jinping di Washington. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menuliskan bahwa dalam sesi makan malam bersama pimpinan teknologi, Xi Jinping tampak menyukai perubahan nama tersebut dan menyepakati bahwa istilah super intelligence jauh lebih penting dan akurat ketimbang artificial intelligence. Namun, narasi yang dibangun Gedung Putih langsung menuai tanda tanya besar di kalangan analis kebijakan internasional.
Respons Berseberangan Beijing dan Kehati-hatian Multilateral
Klaim optimis Trump nyatanya tidak tercermin sedikit pun dalam rilis resmi maupun pernyataan langsung Presiden Xi Jinping. Di hadapan awak media di Rose Garden Gedung Putih, pemimpin tertinggi Tiongkok tersebut secara konsisten tetap menggunakan istilah artificial intelligence tanpa sekalipun menyinggung konsep kecerdasan super yang dipromosikan tuan rumah. Sikap berhati-hati ini menunjukkan keengganan Beijing untuk terperangkap dalam bingkai narasi glorifikasi teknologi yang didorong Gedung Putih.
Dalam pidatonya, Xi justru menekankan pentingnya mempertahankan kendali mutlak peradaban manusia atas algoritma komputasi. Beijing memandang teknologi cerdas sebagai instrumen pembangunan sosial dan produktivitas ekonomi yang wajib tunduk pada tata kelola etis internasional. Sikap defensif dan terukur dari delegasi Tiongkok ini sejalan dengan peta jalan negosiasi bilateral yang berlangsung sangat alot, sebagaimana telah dianalisis mendalam dalam ulasan gencatan perang dagang AS-China di Washington.
Distorsi Ilmiah: Menyamakan Model Generatif dengan Super Intelligence
Dari sudut pandang keilmuan komputer dan rekayasa perangkat lunak, manuver penamaan ulang ini dinilai sebagai distorsi konseptual yang fatal. Istilah artificial intelligence pertama kali digagas oleh matematikawan John McCarthy dalam konferensi bersejarah Dartmouth Summer Research Project pada tahun 1956 untuk menggambarkan mesin yang mampu meniru perilaku kognitif manusia. Selama tujuh dekade perkembangannya, sains membedakan secara tegas tingkatan kapabilitas mesin dari sistem otomatis sempit (narrow AI), kecerdasan umum buatan (artificial general intelligence atau AGI), hingga super intelligence (ASI).
Secara akademis, istilah super intelligence yang dipopulerkan oleh filsuf Nick Bostrom secara spesifik merujuk pada entitas kecerdasan hipotetis yang melampaui kemampuan kognitif terbaik seluruh otak manusia dalam hampir seluruh ranah praktis, mulai dari kreativitas saintifik hingga kebijaksanaan sosial. Menyamakan arsitektur komputasi saat ini—yang bertumpu pada large language model berbasis probabilitas statistik token—dengan super intelligence dinilai sebagai pembodohan publik yang mencampuradukkan ekspektasi fiksi ilmiah dengan realitas teknis rekayasa piranti lunak.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa model komputasi tercanggih saat ini masih kerap menghasilkan halusinasi data, penalaran logika rapuh, serta ketidakmampuan beroperasi di luar batas data latih. Batasan objektif dan fenomena produktivitas semu dari penerapan teknologi otomasi ini juga terbukti secara nyata dalam riset produktivitas model AI, di mana percepatan yang dirasakan pengembang kerap tidak berbanding lurus dengan kualitas keluaran kode yang sesungguhnya.
Motif Geopolitik: Deregulasi Total Demi Perlombaan Industri
Di balik pergeseran istilah semantik ini, tersimpan kalkulasi geopolitik dan ekonomi yang sangat agresif. Kebijakan pemerintahan Trump selama ini konsisten menolak pembatasan regulasi terhadap korporasi komputasi domestik. Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak boleh memperlambat ekspansi pusat data dan infrastruktur komputasi demi mengejar ketertinggalan regulasi, karena hal tersebut dianggap bakal melemahkan dominasi industri AS dalam menghadapi persaingan dengan China.
Dengan mengemas teknologi ini sebagai super intelligence yang sedang diperebutkan dalam arena pertaruhan global ‘pemenang mengambil segalanya’, Gedung Putih secara sadar melegitimasi pembongkaran berbagai batasan regulasi keselamatan. Trump secara tegas menolak kerangka tata kelola PBB yang ia tuding sebagai skema kontrol globalis, sembari menyatakan bahwa satu-satunya batas kendali hukum adalah Departemen Kehakiman (DOJ) domestik. Paradigma ini memberi keleluasaan penuh bagi konglomerasi teknologi untuk terus menggelontorkan belanja modal masif demi melatih model komputasi generasi berikutnya.
Namun, akselerasi industri tanpa kendali etis juga memicu ancaman nyata terhadap tata kelola informasi dan privasi korporasi. Ketiadaan regulasi ketat memperbesar celah kebocoran kerahasiaan bisnis dan kedaulatan data sensitif, sebuah kerentanan kritis yang telah diuraikan dalam panduan pencegahan keamanan data dan risiko privasi komputasi cerdas.
Dilema Standardisasi dan Kebingungan Diplomatik Global
Manuver sepihak Washington ini berpotensi memicu kekacauan pada standardisasi hukum dan tata kelola internasional. Lembaga standardisasi global seperti International Organization for Standardization (ISO), International Electrotechnical Commission (IEC), hingga Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) telah mengodifikasi ratusan standar keselamatan komputasi dengan fondasi terminologi artificial intelligence. Apabila delegasi diplomatik AS memaksakan nomenklatur SI dalam setiap draf resolusi multilateral, kesenjangan linguistik ini hanya akan memperlambat kesepakatan mitigasi risiko siber dan senjata otonom di panggung internasional.
Pada akhirnya, perdebatan nama tidak akan mengubah hukum fisika dan matematika di balik arsitektur silikon. Mengganti akronim AI menjadi super intelligence melalui dekrit eksekutif mungkin efektif sebagai bahan bakar kampanye politik dan pemanis pasar saham, tetapi tidak menyelesaikan problem fundamental seperti efisiensi energi komputasi, keandalan inferensi, maupun penyelarasan keselamatan (safety alignment). Komunitas global dan pemangku kepentingan industri tetap membutuhkan regulasi yang matang, bukan sekadar pergantian label yang melompat melampaui batas kapabilitas teknologinya.

