Bacotan Online – Keputusan Lionel Messi untuk menutup pengabdian panjangnya bersama tim nasional Argentina menandai akhir dari era paling gemilang dalam sejarah sepak bola modern. Setelah mengumumkan rencana gantung sepatu dari panggung internasional pasca-turnamen besar, laga persahabatan melawan Benin dipersiapkan sebagai panggung perpisahan emosional bagi sang kapten berusia 39 tahun. Namun, di balik purna tugasnya berseragam La Albiceleste, Messi telah merancang cetak biru yang jauh lebih ambisius di luar garis lapangan: membangun dinasti kepemilikan klub sepak bola dan imperium bisnis bernilai miliaran dolar.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, secara terbuka menyatakan pintu timnas akan selalu terbuka jika sang maestro berubah pikiran. Kendati demikian, lingkaran terdekat Messi mengonfirmasi bahwa babak internasionalnya telah tuntas secara permanen. Fokus sang megabintang kini beralih sepenuhnya pada pengelolaan karier senja di Inter Miami hingga musim 2028, sembari mengonsolidasikan portofolio investasi olahraga yang telah ia susun secara senyap selama dua tahun terakhir.
Memilih Menjadi Pemilik Ketimbang Berdiri di Pinggir Lapangan
Berbeda dengan banyak legenda sepak bola yang beralih menjadi juru taktik setelah pensiun, Messi secara tegas menolak gagasan menjadi pelatih kepala (head coach). Dalam berbagai kesempatan diskusi internal, peraih delapan trofi Ballon d’Or tersebut menilai rutinitas manajerial mingguan terlalu menguras energi mental dan emosional. Baginya, posisi pemilik klub (club owner) memberikan ruang strategis yang ideal untuk mengarahkan visi organisasi tanpa harus terbebani tekanan taktik dari pinggir lapangan setiap akhir pekan.
Manuver kepemilikan tersebut dimulai dari Spanyol. Pada April lalu, Messi merampungkan akuisisi UE Cornellà, klub divisi lima yang berbasis di pinggiran Barcelona, untuk difungsikan sebagai kawah candradimuka pembinaan talenta muda. Langkah agresif berlanjut pada awal Oktober 2026 ketika klub kasta kedua Spanyol, CD Eldense, secara resmi mengumumkan Messi sebagai pemilik baru mereka. Manajemen anyar langsung menunjuk mantan pelatih Villarreal, Javi Calleja, guna menjaga stabilitas tim di kompetisi La Liga Hypermotion.
Dampak magnetis nama besar Messi langsung terasa di ruang negosiasi komersial. Hanya dalam hitungan hari setelah kabar akuisisi Eldense tersiar, belasan sponsor korporasi mengantre untuk menyepakati kontrak kemitraan komersial baru. Di belahan Amerika Latin, Messi bersama sahabat karibnya Luis Suárez telah lebih dulu mendirikan Deportivo LSM di Uruguay pada Mei 2025, yang sukses mengamankan tiket promosi ke divisi tiga pada musim perdananya.
Ekosistem Bisnis Rp 17 Triliun: Dari Perhotelan hingga Ekuitas Waralaba
Laporan kekayaan majalah Forbes menaksir total kekayaan bersih (net worth) Lionel Messi kini menembus angka 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp 17,2 triliun, dengan akumulasi pemasukan tahunan mencapai 140 juta dolar AS yang terbagi seimbang antara gaji lapangan dan dividen korporasi. Strategi finansial Messi merefleksikan pergeseran paradigma atlet modern, selaras dengan bagaimana kekuatan kepemilikan ekuitas atlet terkaya dunia mampu melipatgandakan aset jauh melampaui masa aktif bertanding.
Portofolio non-olahraga Messi ditopang oleh pilar-pilar aset berwujud yang solid:
- Jaringan Perhotelan MiM Hotels: Memiliki enam properti butik premium (boutique hotel) di destinasi wisata elite Eropa mulai dari Ibiza, Sitges, Baqueira, Mallorca, Andorra, hingga Sotogrande, yang dikelola di bawah bendera Meliá Collection.
- Sektor Properti dan Residensial: Melalui perusahaan keluarga di Rosario, Messi mendanai proyek hunian mewah tepi sungai Carrasco M, menggandeng agensi properti milik rekannya di timnas, Ángel Di María.
- Kuliner dan Gaya Hidup: Kepemilikan saham di jaringan restoran El Club de la Milanesa yang tengah berekspansi ke kawasan Catalunya, serta kemitraan global produk drinkware bersama Stanley dan kontrak seumur hidup dengan raksasa apparel Adidas.
- Kepemilikan Saham Inter Miami: Klausul kontrak di Major League Soccer (MLS) menjamin pemberian porsi saham ekuitas (equity stake) resmi di Inter Miami saat ia memutuskan gantung sepatu.
Fondasi korporasi keluarga ini awalnya dirintis oleh mendiang ayahnya, Jorge Messi, yang wafat pada Agustus lalu di usia 68 tahun. Sebelum berpulang, sang ayah telah mentransformasikan entitas bisnis keluarga menjadi struktur korporasi modern yang mencakup divisi produksi media, agensi pemasaran digital, dan manajemen hak citra komersial independen.
Redefinisi Karier Pasca-Atlet: Belajar Mengendalikan Pasar Modal dan Industri
Kehadiran Messi di panggung bisnis global menegaskan bahwa era ketergantungan atlet pada kontrak gaji semata telah usang. Saat berbicara di forum bisnis Amerika di Miami, Messi secara rendah hati mengakui bahwa dirinya masih terus belajar mendalami seluk-beluk manajemen modal dan industri korporasi. Kendati demikian, insting bisnis yang ditopang oleh jejaring penasihat profesional terpercaya menjadikannya figur sentral dalam ekosistem ekonomi olahraga dunia.
Di tengah gairah global ketika antusiasme masyarakat terhadap sepak bola terus menjadi magnet komersial raksasa, Messi mengambil pendekatan struktural. Melalui penyelenggaraan turnamen bergengsi Messi Cup yang mempertemukan 16 akademi sepak bola elite dunia—termasuk Chelsea, Arsenal, Inter Milan, dan Atletico Madrid—ia tidak sekadar menjaga gairahnya terhadap sepak bola usia dini, melainkan juga membangun jaringan pemandu bakat dan kanal suplai pemain lintas benua. Langkah Messi memperlihatkan bahwa seorang megabintang dapat mentransformasikan pengaruh kultural menjadi kekuatan ekonomi mandiri, membuktikan kedewasaan seorang legenda yang siap memimpin industri sepak bola dari balik meja direksi.

