Bacotan Online – Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan, memicu kepulan kabut asap tebal serta mengancam keselamatan kawasan permukiman penduduk secara langsung. Dalam sepekan terakhir, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan ketika titik api tidak lagi terbatas di kawasan hutan primer yang terpencil, melainkan telah merembet mendekati sentra permukiman padat dan fasilitas pendidikan. Fenomena ini memicu ledakan keprihatinan di ruang digital, di mana tagar #PrayforKalimantan mendadak memuncaki daftar topik terpopuler sebagai wujud solidaritas publik sekaligus sinyal peringatan atas krisis ekologis yang kembali berulang.
Ancaman Nyata di Garis Depan: Handil Bakti hingga Palangka Raya
Laporan dari lapangan mencatat titik rawan kebakaran yang mendesak permukiman warga terpantau nyata di wilayah Kalimantan Selatan. Kebakaran lahan di kawasan Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala, sempat berkobar sangat dekat dengan area kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari serta merayap menuju kompleks hunian warga. Kawasan seperti Kompleks Handil Bakti Indah, Griya Permata Persada Baru 2, dan Griya Noor dilaporkan berada dalam jangkauan ancaman lidah api, memaksa tim pemadam kebakaran bersama barisan relawan bekerja tanpa henti mendirikan barikade basah guna mencegah si jago merah melahap rumah-rumah warga.
Kondisi tidak kalah genting terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Paparan kabut asap pekat yang menyelimuti kota telah memangkas jarak pandang horizontal hingga tersisa sekitar 100 meter pada jam-jam sibuk. Parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa stasiun pemantau setempat bergerak menembus level tidak sehat hingga berbahaya bagi kesehatan. Keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata perih, dan tenggorokan gatal mulai meningkat tajam, menghantam anak-anak usia sekolah dan kelompok rentan yang terpaksa mengurangi aktivitas luar ruang.
Anatomi Kebakaran Gambut: Mengapa Bara di Bawah Tanah Begitu Sulit Dijinakkan?
Untuk memahami mengapa karhutla di Kalimantan selalu menjadi momok tahunan yang luar biasa menantang bagi petugas, publik perlu membedah karakteristik unik dari lahan gambut (peatland). Berbeda dengan kebakaran hutan vegetasi kering biasa yang didominasi oleh kobaran api di atas tajuk pohon (flaming combustion), kebakaran di lahan gambut didominasi oleh fenomena pembakaran membara lambat tanpa nyala api di bawah permukaan (smoldering combustion).
Lahan gambut terbentuk dari tumpukan material organik tanaman yang belum terdekomposisi sempurna selama ribuan tahun, membentuk lapisan bahan bakar padat berpori yang bisa mencapai kedalaman 2 hingga lebih dari 5 meter. Saat musim kemarau mengeringkan kubah gambut akibat saluran drainase yang tidak tertutup, lapisan gambut ini berubah menjadi spons bahan bakar raksasa. Api dapat merambat merayap di bawah tanah secara tak kasatmata, melahap akar dan serat gambut jauh dari jangkauan mata manusia.
- Ilusi Permukaan Padam: Petugas pemadam kebakaran kerap mendapati kobaran api di permukaan rumput dan semak telah berhasil dipadamkan sepenuhnya dengan siraman air bertekanan tinggi. Namun, hanya beberapa jam atau hari kemudian, titik api kembali menyala di lokasi yang sama karena bara di kedalaman 1 meter masih menyala aktif dan mencari oksigen.
- Konsumsi Air Masif: Memadamkan satu hektare lahan gambut yang membara membutuhkan ratusan ribu liter air yang disuntikkan langsung melalui pipa tancap (nozzle gambut) ke dalam tanah, sebuah prosedur teknis yang menuntut waktu panjang, logistik berat, dan pasokan air permukaan yang sering kali sudah mengering di musim kemarau.
- Keterbatasan Operasi Udara: Operasi pengeboman air dari udara (water bombing) menggunakan helikopter patroli sangat efektif untuk menekan kecepatan rambatan api permukaan, namun tetesan air dari ketinggian jarang mampu menembus lapisan kerak gambut untuk mematikan inti bara di bawah tanah.
Refleksi Historis dan Disrupsi Multidimensi
Krisis asap yang melanda Kalimantan bukanlah peristiwa isolasi baru. Jika menilik catatan historis bencana ekologis Indonesia pada tahun 2015 dan 2019, karhutla skala besar selalu meninggalkan kerugian ekonomi hingga ratusan triliun rupiah, memicu friksi diplomatik kabut asap lintas batas (transboundary haze), serta melumpuhkan ritme kehidupan jutaan masyarakat. Ketika langit tertutup partikel aerosol berbahaya PM2.5, seluruh sendi mobilitas dan ekonomi regional mengalami hambatan signifikan.
Sektor logistik lokal dan pengiriman kebutuhan pokok antarwilayah menghadapi penurunan kecepatan armada akibat jarak pandang terbatas, situasi yang menuntut koordinasi ketat di lapangan sebagaimana perhatian pemerintah terhadap stabilitas mobilitas pada regulasi transportasi dan logistik yang terus diperketat demi menjaga denyut ekonomi harian. Tidak hanya jalur darat, industri penerbangan regional juga rentan terhambat; penundaan penerbangan akibat jarak pandang di bawah batas aman penerbangan langsung mengganggu rantai pasok aviasi dan operasional bandara di kawasan tengah dan timur Indonesia.
Selain kerugian ekonomi makro, ekspansi permukiman warga yang semakin mendekati batas kantong gambut terdegradasi menyoroti pentingnya perencanaan tata ruang permukiman warga yang tangguh bencana lingkungan. Tanpa zona penyangga yang memadai, kompleks hunian pinggiran kota akan terus berada dalam risiko terpapar panas ekstrem, racun karbon monoksida, dan ancaman kobaran api langsung setiap kali siklus cuaca kering ekstrem melanda kawasan tersebut.
Menatap Mitigasi Permanen: Restorasi Hidrologis dan Penegakan Regulasi
Ketergantungan pada pemadaman darurat saat titik panas (hotspot) telah membara terbukti menjadi strategi yang sangat mahal dan menguras energi relawan maupun aparat gabungan TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni di garis depan. Kunci penyelesaian jangka panjang karhutla Kalimantan terletak pada pencegahan struktural di lanskap ekosistem gambut.
Pembangunan sekat kanal (canal blocking) untuk menaikkan muka air tanah dan membasahi kembali (rewetting) kubah gambut yang telah terlanjur dikeringkan harus terus dikawal secara konsisten sepanjang tahun, bukan hanya saat musim kemarau tiba. Bersamaan dengan itu, pemantauan berbasis satelit dan verifikasi lapangan cepat (ground check) terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar wajib diiringi penegakan sanksi tegas tanpa pandang bulu.
Tagar #PrayforKalimantan yang hari ini menggema di jagat maya adalah teriakan moral dari masyarakat yang mendambakan udara bersih untuk anak-anak mereka. Doa dan dukungan publik tentu menjadi energi berharga bagi para petugas pemadam yang tengah bertaruh nyawa di tengah kepungan asap pekat Handil Bakti dan Palangka Raya. Namun di atas segalanya, aksi nyata pemulihan hidrologis gambut dan komitmen perlindungan lingkungan yang berkelanjutan adalah satu-satunya jaminan agar langit Kalimantan tidak kembali padam ditelan pekatnya kabut asap di masa depan.

