Bacotan Online – Otoritas pendidikan tinggi di Amerika Serikat kembali diguncang oleh skandal kekerasan perpeloncoan kampus yang membahayakan nyawa mahasiswa. Universitas Arizona (University of Arizona) secara resmi menjatuhkan sanksi pembekuan total terhadap cabang organisasi fraternitas mahasiswa Sigma Tau Gamma. Keputusan disipliner tegas ini diambil setelah investigasi internal memvalidasi serangkaian praktik perpeloncoan ekstrem (hazing) terhadap para mahasiswa baru yang mencakup pemaksaan konsumsi minuman beralkohol dalam takaran masif hingga paksaan menelan ikan mas hidup (live goldfish).
Sanksi pembekuan operasional tersebut disampaikan secara formal melalui surat resmi dari Jasmin Hayes, Koordinator Senior Hak dan Tanggung Jawab Mahasiswa Universitas Arizona. Dalam dokumen investigasi tersebut, kampus menyatakan bahwa babak penerimaan anggota baru fraternitas pada semester musim gugur terbukti melanggar kode etik kemahasiswaan (student code of conduct) secara berat, khususnya pasal mengenai tindakan membahayakan, mengancam, serta mencederai fisik anggota komunitas kampus.
Detail Ritual Pelonco: Dari Intimidasi Mental hingga Bahaya Biologis
Temuan pihak rektorat menguraikan bagaimana calon anggota baru Sigma Tau Gamma diwajibkan menjalani ritual inisiasi tertutup yang sarat dengan kekerasan verbal dan degradasi martabat. Anggota senior secara bergantian melontarkan teriakan intimidatif, ancaman pengucilan sosial, serta memaksakan konsumsi minuman keras berkadar alkohol tinggi dalam tempo singkat tanpa henti. Puncak dari kebrutalan ritual tersebut adalah pemaksaan menelan ikan mas hidup mentah-mentah ke tenggorokan para calon anggota.
Tindakan menelan ikan hidup bukan sekadar bentuk perpeloncoan konyol, melainkan ancaman medis serius. Para pakar kesehatan masyarakat di Amerika Serikat telah berulang kali memperingatkan bahwa konsumsi ikan air tawar hidup membawa risiko transmisi bakteri berbahaya seperti Salmonella, infeksi parasit Mycobacterium marinum, serta ancaman asfiksia akibat penyumbatan saluran pernapasan. Ditambah dengan intoksikasi alkohol akut (acute alcohol poisoning), praktik semacam ini berpotensi fatal memicu henti jantung atau gagal napas akut pada korban.
Akibat temuan pelanggaran berat ini, cabang Sigma Tau Gamma dilarang menggelar segala bentuk aktivitas sosial, program rekrutmen, maupun pertemuan tatap muka di lingkungan kampus, kecuali rapat koordinasi administratif terbatas bersama komite etik universitas. Otoritas kampus juga menegaskan peringatan keras bahwa segala bentuk kontak intimidasi terhadap saksi pelapor akan berujung pada pencabutan izin organisasi secara permanen dan pelaporan pidana ke aparat kepolisian setempat.
Epidemi Perpeloncoan Berulang di Lingkungan Kampus Amerika Serikat
Kasus di Universitas Arizona ini menjadi potret nyata mandeknya reformasi kultural di tubuh organisasi persaudaraan mahasiswa (fraternities and sororities) di Amerika Serikat. Ironisnya, di situs web resminya, Sigma Tau Gamma menggembar-gemborkan prinsip kebajikan moral luhur seperti integritas, keunggulan akademis, dan kepemimpinan warga (integrity, excellence, and citizenship). Namun, di balik pintu tertutup asrama mahasiswa, prinsip tersebut kerap terdegradasi menjadi ajang unjuk maskulinitas toksik (toxic masculinity) dan tekanan kelompok sebaya (peer pressure) yang destruktif.
Berdasarkan laporan media lokal Tucson KOLD, insiden Sigma Tau Gamma hanyalah satu dari serangkaian kasus di Universitas Arizona. Sepanjang tahun 2026, tercatat enam cabang fraternitas di kampus tersebut telah diperiksa intensif atas pelanggaran serupa. Pada Mei lalu, cabang fraternitas Sigma Phi Epsilon dijatuhi hukuman masa percobaan (probation) selama 12 bulan dan denda sebesar USD 4.000 setelah insiden perpeloncoan beralkohol dan narkotika menyebabkan sejumlah mahasiswa dilarikan ke instalasi gawat darurat.
Fenomena ini serupa dengan problem sistemik penegakan hukum di berbagai institusi publik, di mana proses evaluasi internal kerap terganjal oleh solidaritas korps yang tertutup, mirip dengan problematika transparansi dalam penyelidikan independen laporan pelanggaran etik institusional.
Tekanan Regulasi Nasional dan Urgensi Penegakan Hukum Pidana
Di tingkat federal, Kongres AS kini semakin didorong untuk mempercepat pengesahan rancangan undang-undang Stop Campus Hazing Act. Regulasi ini dirancang untuk mewajibkan seluruh perguruan tinggi yang menerima dana federal mempublikasikan basis data transparan mengenai seluruh insiden perpeloncoan di situs resmi mereka setiap tahun, sekaligus menetapkan sanksi hukum pidana federal bagi pelaku inisiasi berbahaya.
Kematian mahasiswa akibat hazing telah menjadi duka nasional yang berulang selama dua dekade terakhir di AS, merenggut nyawa lebih dari 50 mahasiswa sejak tahun 2000. Rekam jejak Sigma Tau Gamma sendiri mencatat noda hitam, di mana pada tahun 2020 pimpinan nasional fraternitas bersama Pennsylvania State University terpaksa menutup permanen cabang Alpha Psi menyusul insiden kekerasan berat.
Sama halnya dengan berbagai sektor yang membutuhkan reformasi tata kelola regulasi yang adil sebagaimana perdebatan dalam kebijakan standarisasi publik dan regulasi kepatuhan, dunia pendidikan tinggi kini dihadapkan pada tuntutan moral untuk menghapus impunitas tradisi purba. Tanpa penegakan hukum pidana yang menjerat individu senior yang terlibat, sanksi administratif kampus seperti masa percobaan dinilai para aktivis hanya sekadar plester di atas luka struktural yang terus bernanah.

