Prospek Global Menggelap, BI Sebut Ketegangan Geopolitik Tersangka Utama
Bacotan Online – Kepastian berakhirnya krisis ekonomi global tampaknya makin menjauh. Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) kembali mengeluarkan proyeksi suram terkait pertumbuhan ekonomi dunia yang diprediksi terus meredup setidaknya hingga tahun 2027. Ancaman ini bersumber pada serangkaian kebijakan ketat berbagai negara maju hingga efek rambatan konflik geopolitik global yang belum juga menemukan titik temu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan pandangan tegas bahwa arus proteksionisme yang dimotori oleh Amerika Serikat telah menjadi episentrum gejolak ekonomi internasional. Kebijakan tarif ketat tidak hanya menekan sirkulasi perdagangan lintas negara, melainkan juga merusak wajah multilateralisme, memicu lahirnya blok-blok kerja sama baru, dan memperlambat langkah laju ekonomi dua raksasa dunia, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok.
Imbas Konflik Timur Tengah dan Beban Utang Global
Destry Damayanti, anggota Dewan Gubernur BI lainnya, turut memperkuat pandangan tersebut usai rapat dewan gubernur pada September 2026. Menurutnya, pasar keuangan di hantui ketidakpastian tingkat tinggi akibat tensi perang yang masih membara terutama di kawasan Timur Tengah. Efek paling terasa menghantam sektor komoditas dengan pergerakan harga minyak dunia yang sangat tidak stabil, bahkan sempat menyentuh level kritis USD 132 per barel sebelum menukik kembali ke bawah USD 100 per barel.
Kondisi ini makin dipersulit oleh beban fiskal yang sedang menggunung di berbagai negara maju. Tingginya angka utang pemerintah yang dibarengi dengan kebijakan suku bunga tinggi telah menciptakan perlambatan penurunan inflasi. Beban tambahan inilah yang pada akhirnya harus ditanggung oleh negara-negara berkembang akibat memicu potensi kaburnya modal atau beralihnya minat investasi modal ke negara yang menawarkan suku bunga acuan lebih tinggi.
Posisi Strategis Ekonomi Indonesia
Di balik selubung ekonomi dunia yang suram, perekonomian domestik tanah air justru menampakkan ketangguhannya. Bank Indonesia sejauh ini memproyeksikan bahwa lintasan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 akan aman di kisaran angka 4,9 hingga 5,7 persen. Fundamental positif ini tentu saja bukan tanpa pijakan; permintaan dari dalam negeri di samping serapan konsumsi rumah tangga dan intervensi belanja pemerintah dinilai merupakan motor utama keselamatan ekonomi Indonesia dari efek kejut dunia.
Meningkatnya tren realisasi program prioritas, termasuk pemberian gaji bagi aparatur sipil dan penyaluran bantuan sosial, turut menjaga mesin daya beli masyarakat menengah. Kendati demikian, BI menegaskan perlunya partisipasi modal investasi riil dari pihak swasta untuk mempercepat akselerasi dan tidak semata bergantung dari pendorong domestik. Kombinasi kebijakan bauran penguatan fiskal, penyaluran bantuan tepat sasaran, hingga sinergi makroprudensial dinilai krusial untuk memacu perketahanan pasar Tanah Air saat badai perlambatan diprediksi kembali datang dari negara-negara adidaya.

