Bacotan Online – PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) resmi mengakhiri peran operasionalnya di Bandara Internasional Dhoho Kediri per 31 Agustus 2026. Bandara berlandas pacu 3.300 meter yang dibangun dengan modal penuh swasta oleh konglomerasi rokok PT Gudang Garam Tbk melalui anak usahanya, PT Surya Dhoho Investama (SDHI), kini beralih sepenuhnya ke pengelolaan mandiri pemrakarsa. Di balik pengakhiran Kerja Sama Operasi (KSO) yang berjalan damai tersebut, tersingkap kenyataan keras mengenai rendahnya trafik penerbangan komersial dan tantangan berat industri aviasi nasional.
Direktur Operasi InJourney Airports Agus Haryadi menegaskan bahwa berakhirnya kerja sama ini murni atas kehendak pihak SDHI yang ingin mengelola dan mengembangkan aset infrastrukturnya secara mandiri. Langkah tersebut tidak dipicu oleh wanprestasi atau sengketa kontraktual apa pun. Kendati demikian, Agus tidak menampik bahwa realisasi trafik penumpang dan pergerakan pesawat di Bandara Dhoho selama periode operasional awal masih jauh dari target kapasitas maksimal.
Kementerian Perhubungan melalui Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa memastikan seluruh proses transisi hak operasional, pelimpahan dokumen keselamatan, serta pengalihan aset telah disepakati melalui koridor regulasi resmi. Namun, pertanyaan besar yang kini mencuat ke permukaan adalah bagaimana bandara megah berstandar internasional ini mampu bertahan dan mencapai titik impas di tengah lanskap industri penerbangan yang serba tertekan.
Tekanan Biaya Operasional Maskapai dan Lonjakan Harga Avtur
Salah satu hambatan terbesar dalam memacu frekuensi penerbangan di bandara sekunder seperti Kediri adalah struktur biaya maskapai yang kian rapuh. Ketegangan geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar telah mendorong lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) secara drastis dalam beberapa kuartal terakhir.
Komponen avtur kini memakan porsi hingga mendekati 60 persen dari total biaya operasional maskapai penerbangan. Dalam lanskap margin yang sangat tipis, operator maskapai komersial bersikap ekstra hati-hati dalam mempertahankan rute-rute penerbangan perintis atau rute sekunder yang memiliki tingkat keterisian (load factor) fluktuatif.
InJourney memproyeksikan trafik penerbangan domestik nasional berpotensi mengalami kontraksi sekitar 3 persen hingga penutupan tahun. Dalam situasi di mana maskapai lebih memprioritaskan rute gemuk antarkota metropolitan guna mengamankan arus kas, bandara regional di daerah penyangga seperti Kediri menghadapi tantangan ganda untuk mempertahankan jadwal penerbangan terjadwal reguler.
Dilema Aksesibilitas dan Bottleneck Konektivitas Multimoda
Sebagai proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) unsolicited pertama di sektor bandara komersial Indonesia, Bandara Dhoho dirancang dengan spesifikasi teknis kelas atas. Landasan pacunya sanggup didarati pesawat berbadan lebar (wide-body) sekelas Boeing 777-300ER, dengan terminal tahap pertama berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun.
Kendati demikian, potensi tangkapan pasar (catchment area) kawasan Mataraman yang meliputi Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Nganjuk, dan Madiun belum terkonversi optimal menjadi trafik riil. Penyebab utamanya adalah konektivitas moda darat yang belum tersambung secara utuh.
Jalan tol Kediri-Kertosono dan ruas tol pendukung Kediri-Tulungagung masih dalam tahap penyelesaian konstruksi. Tanpa akses jalan tol bebas hambatan yang memangkas waktu tempuh, sebagian besar calon penumpang dari wilayah hinterland Jawa Timur bagian barat dan selatan masih memilih perjalanan darat menuju Bandara Internasional Juanda di Surabaya yang menawarkan frekuensi dan pilihan rute jauh lebih variatif.
Pembangunan infrastruktur fisik bandara yang megah terbukti tidak otomatis mendatangkan pasar jika tidak dibarengi sinkronisasi transportasi antarmoda yang matang, senada dengan tantangan eksekusi dalam berbagai proyek infrastruktur strategis nasional lainnya.
Strategi Mandiri Surya Dhoho Investama: Dari Kargo hingga Hub Umrah
Pengambilalihan kendali penuh operasional oleh PT Surya Dhoho Investama membuka babak baru yang menuntut kelincahan strategi bisnis non-konvensional. Lepas dari payung BUMN pengelola bandara, SDHI memiliki keleluasaan dalam merancang struktur insentif komersial yang lebih fleksibel bagi maskapai.
Beberapa opsi taktis yang realistis untuk mengoptimalkan utilisasi aset miliaran rupiah tersebut meliputi:
- Insentif Biaya Pendaratan (Landing Fee) dan Ground Handling: Skema potongan tarif pendaratan dan parkir pesawat yang agresif dapat menarik minat maskapai berbiaya hemat (low-cost carrier) untuk membuka kembali rute penerbangan langsung ke Jakarta, Bali, dan kota-kota luar Jawa.
- Akselerasi Penerbangan Haji dan Umrah Regional: Dengan panjang landasan 3.300 meter, Dhoho dapat melayani penerbangan langsung jarak jauh (long-haul) ke Arab Saudi tanpa perlu transit. Populasi jamaah umrah yang masif dari eks-Karesidenan Kediri dan Madiun merupakan ceruk pasar captive yang sangat potensial.
- Pengembangan Hub Kargo Agrikultur dan Manufaktur: Kawasan Kediri dan sekitarnya adalah sentra produksi hasil bumi, perikanan darat, serta industri manufaktur rokok dan makanan olahan. Pemanfaatan fasilitas kargo udara dapat menjadi sumber pendapatan penopang ketika trafik penumpang komersial masih merangkak naik.
Langkah pengakhiran KSO ini menegaskan bahwa kepemilikan modal besar saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan operasional fasilitas aviasi. Di tengah dinamika penyesuaian regulasi dan kebijakan fiskal dan ekonomi nasional, kepiawaian manajemen swasta dalam mengintegrasikan ekosistem logistik, pariwisata regional, dan konektivitas darat akan menjadi penentu apakah Bandara Dhoho mampu bangkit menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru Jawa Timur atau tetap menjadi fasilitas megah yang sunyi.

