Bisnis & Finansial

Indonesia Jajaki Kerja Sama Energi Terbarukan dengan AS, Norwegia, Jepang, dan Prancis: Hidrogen dan PLTA Jadi Pilar Utama

Bendungan Jatiluhur di Jawa Barat, salah satu infrastruktur PLTA terbesar di Indonesia

Bacotan Online – Indonesia membuka babak baru dalam diplomasi energi global. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah menjajaki kerja sama strategis pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dengan empat negara sekaligus: Amerika Serikat, Norwegia, Jepang, dan Prancis. Langkah ini diambil usai rangkaian pertemuan bilateral di sela G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, pada pertengahan September 2026.

Bukan sekadar basa-basi diplomatik, inisiatif ini menyasar dua sektor spesifik yang selama ini belum digarap maksimal oleh Indonesia: energi hidrogen dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Keduanya dianggap krusial untuk mengejar target bauran energi nasional 23 persen EBT yang sempat meleset dari tenggat awal.

Hidrogen: Cadangan Besar yang Belum Tersentuh

Yuliot mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki indikasi cadangan hidrogen alam (natural hydrogen) yang cukup besar, namun belum pernah dieksploitasi secara komersial. Untuk itu, pemerintah membidik kolaborasi langsung dengan perusahaan-perusahaan energi AS yang sudah lebih dahulu mengembangkan teknologi ekstraksi dan pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi bersih.

Langkah ini sejalan dengan tren global. Berdasarkan data International Renewable Energy Agency (IRENA), pasar green hydrogen dan natural hydrogen diproyeksikan melonjak signifikan menjelang 2030, dengan investasi kumulatif yang telah melampaui US$ 300 miliar di seluruh dunia. AS sendiri tengah gencar mendorong pengembangan hydrogen hub melalui dana Bipartisan Infrastructure Law senilai US$ 8 miliar yang dialokasikan khusus untuk tujuh klaster hidrogen regional.

Tidak hanya AS, kolaborasi hidrogen Indonesia juga sudah mulai terwujud di level korporasi. Pada September 2026, HDF Energy asal Prancis dan Pertamina NRE menandatangani kerja sama eksklusif untuk mengembangkan proyek energi berbasis hidrogen di sejumlah kabupaten terpilih di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa peluang investasi di sektor hidrogen nasional mulai dilirik serius oleh pemain global.

PLTA: Belajar dari Norwegia yang 90 Persen Listriknya dari Air

Sisi lain yang tak kalah menarik adalah ambisi Indonesia memanfaatkan teknologi PLTA dari Norwegia. Yuliot menekankan bahwa sekitar 90 persen pasokan listrik Norwegia berasal dari pembangkit tenaga air, menjadikan negara Skandinavia itu sebagai salah satu benchmark global untuk hydropower.

Indonesia, dengan jaringan sungai besar yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, sebenarnya menyimpan potensi hydropower luar biasa. Data PLN menunjukkan bahwa per Agustus 2026, sebanyak 9,2 GW proyek PLTA dan PLTM sudah masuk tahapan eksekusi melalui program akselerasi hydropower nasional. Namun, realisasinya masih jauh di bawah potensi teknis yang diperkirakan mencapai 75 GW.

Dengan asistensi teknologi Norwegia, pemerintah berharap bisa mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan bendungan, efisiensi turbin, dan mitigasi dampak lingkungan yang selama ini menjadi tantangan utama proyek PLTA di Indonesia. Salah satu contoh infrastruktur PLTA terbesar yang sudah beroperasi adalah Bendungan Jatiluhur di Jawa Barat, yang kapasitasnya masih bisa ditingkatkan dengan modernisasi teknologi.

Jepang dan Prancis: Komitmen Teknologi di Balik Layar

Selain AS dan Norwegia, Yuliot juga menyebut adanya kesepakatan awal dengan Jepang dan Prancis untuk transfer teknologi EBT. Meskipun detail spesifiknya belum diungkap, kedua negara ini memiliki rekam jejak kuat di bidang energi bersih.

Jepang, misalnya, adalah pionir teknologi fuel cell hidrogen dan memiliki roadmap nasional untuk menjadi “hydrogen society” pertama di dunia. Sementara Prancis, selain dominan di sektor nuklir, juga aktif mengembangkan energi surya dan angin melalui program France 2030 yang mengalokasikan 30 miliar euro untuk transisi energi.

Kolaborasi multi-negara ini juga mencerminkan pergeseran strategi diplomasi energi Indonesia. Jika sebelumnya fokus utama tertuju pada menarik investasi asing untuk eksploitasi batu bara dan migas, kini pemerintah mulai memutar haluan ke arah teknologi bersih yang memiliki nilai tambah jangka panjang.

ExxonMobil dan Agenda Ganda: EBT Sekaligus Efisiensi Migas

Di luar agenda EBT, Yuliot juga menyinggung kolaborasi dengan ExxonMobil di sektor minyak dan gas. Perusahaan raksasa asal AS itu dikenal memiliki teknologi supercomputing canggih yang mampu mendongkrak produksi minyak hingga 4,8 juta barel per hari, dengan target 5,6 juta barel per hari pada 2029-2030.

Agenda ganda ini, yakni mengejar EBT sembari memperkuat efisiensi produksi fosil, memang menimbulkan pertanyaan soal konsistensi arah kebijakan energi nasional. Namun dalam konteks perencanaan jangka panjang Indonesia 2026-2030, pendekatan transisi bertahap ini dianggap lebih realistis ketimbang memutus total ketergantungan pada energi fosil secara tiba-tiba.

Tinjauan: Peluang Besar, Eksekusi Menentukan

Langkah Indonesia menjajaki kerja sama EBT dengan empat negara maju sekaligus bukan tanpa risiko. Tantangan utamanya terletak pada kecepatan implementasi, kejelasan kerangka regulasi investasi asing di sektor energi, dan kemampuan industri dalam negeri menyerap transfer teknologi.

Namun jika dieksekusi dengan baik, inisiatif ini bisa menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil, menekan emisi karbon, dan membangun industri energi bersih yang kompetitif secara global. Dengan cadangan hidrogen alam yang belum tergarap dan potensi hydropower 75 GW yang baru terealisasi sebagian kecil, Indonesia sesungguhnya duduk di atas tambang emas energi terbarukan yang menunggu untuk dimanfaatkan.

Diplomasi energi di Houston bulan lalu mungkin baru langkah awal. Namun bagi negara yang selama puluhan tahun identik dengan ekspor batu bara dan kelapa sawit, pergeseran fokus ke hidrogen dan PLTA adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan. Tinggal menunggu apakah komitmen di meja perundingan bisa diterjemahkan menjadi kenyataan di lapangan.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

British Columbia gugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge
Bisnis & Finansial

British Columbia Gugat OpenAI atas Penembakan Sekolah

British Columbia menggugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge, menyoroti kewajiban platform AI saat mendeteksi ancaman kekerasan.
IHSG turun 1,69 persen ke level 6.277
Bisnis & Finansial

IHSG Turun 1,69 Persen, Ditutup di Level 6.277

IHSG turun 1,69 persen dan ditutup di level 6.277. Tekanan meluas sejak pagi, dengan sektor energi serta saham bank besar