Bacotan Online – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengambil langkah radikal untuk merapikan struktur konglomerasi bisnis telekomunikasinya. Emiten pelat merah berkode saham TLKM tersebut kini mempercepat program streamlining portofolio dengan sasaran memangkas 50 anak dan cucu usaha. Dari total 68 entitas yang sebelumnya beroperasi di bawah payung Telkom Group, manajemen menargetkan perampingan agresif hingga hanya menyisakan 18 perusahaan inti yang berfokus penuh pada penguatan konektivitas digital dan infrastruktur data.
Hingga akhir September 2026, Telkom tercatat telah berhasil menyelesaikan perampingan 24 perusahaan atau hampir 50 persen dari total sasaran. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Indonesia Seno Soemadji menegaskan bahwa sisa target restrukturisasi akan dikebut pada periode akhir tahun berjalan. Manajemen membidik sebanyak 19 perusahaan lainnya bakal dituntaskan penutupannya maupun peleburannya sepanjang kuartal IV 2026.
Langkah percepatan konsolidasi internal ini sekaligus merespons dinamika pasar modal nasional, terutama saat gerak IHSG tergelincir akibat aksi lepas investor asing yang menuntut emiten berkapitalisasi besar menjaga efisiensi neraca keuangan dan meningkatkan margin keuntungan bersih.
Struktur Ramping dari 68 Menjadi 18 Perusahaan Inti
Ekspansi agresif Telkom Group selama satu dekade terakhir sempat melahirkan puluhan anak usaha dengan portofolio yang sangat tersebar, mulai dari penyedia konten, logistik digital, periklanan, hingga layanan konsultasi teknologi skala kecil. Namun, kompleksitas struktur horizontal tersebut perlahan menimbulkan duplikasi biaya operasional (operational expenditure) serta membebani alokasi belanja modal (capital expenditure) grup.
Berdasarkan cetak biru transformasi terbaru, perampingan dari 68 menjadi 18 perusahaan ditujukan untuk meniadakan friksi internal dan tumpang tindih layanan. Sebanyak 24 perusahaan yang telah ditutup atau diintegrasikan sebelumnya mencakup entitas dengan skala profitabilitas rendah serta anak usaha yang lini bisnisnya dapat diserap langsung oleh unit bisnis utama Telkom.
Target menutup 19 entitas pada kuartal IV 2026 menjadi fase terpadat dalam kalender restrukturisasi perseroan. Proses ini ditempuh melalui mekanisme likuidasi sukarela (voluntary liquidation), merger horizontal antar-anak usaha, hingga penghentian operasional bagi entitas cangkang yang sudah tidak memiliki kontrak aktif dengan klien pihak ketiga.
Divestasi Tujuh Entitas Tersisa Digeser ke Tahun 2027
Meskipun mayoritas target streamlining rampung sebelum pergantian tahun, manajemen mengonfirmasi bahwa tujuh entitas lainnya baru akan diselesaikan pada tahun 2027 mendatang. Keterlambatan jadwal untuk tujuh entitas ini bukan disebabkan oleh kendala regulasi birokrasi, melainkan murni keputusan finansial strategis menyangkut proses divestasi aset.
Seno Soemadji memaparkan bahwa tujuh perusahaan tersebut memiliki aset komersial yang bernilai ekonomi signifikan serta masih mengantongi kemitraan dengan investor eksternal. Oleh karena itu, Telkom memilih untuk tidak membubarkan entitas tersebut secara terburu-buru demi mempertahankan valuasi pasar.
“Dan sisanya tujuh itu kemungkinan akan bergeser di 2027 karena melibatkan aktivitas divestasi. Divestasi ini juga kami lakukan agar memastikan optimisasi dari value sebelum kita streamline,” ungkap Seno dalam pemaparannya di Jakarta.
Melalui proses due diligence yang terukur, Telkom ingin memastikan pelepasan saham atau penjualan aset ke pihak ketiga dapat menghasilkan penerimaan kas segar optimal sekaligus mencegah potensi kerugian penurunan nilai (impairment loss) yang dapat menggerus laporan laba rugi konsolidasian.
Mandat Danantara dan Percepatan Cetak Biru TLKM 30
Akselerasi restrukturisasi korporasi ini tidak lepas dari restu pemegang saham pengendali, menyusul pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) yang kini membina entitas BUMN strategis. Sebagaimana arah kebijakan fiskal dan korporasi negara yang kini diperketat pasca pelantikan wakil menteri keuangan baru, setiap badan usaha milik negara diwajibkan melakukan konsolidasi lini usaha agar tidak saling kanibal dan membebani dividen negara.
Direktur Utama Telkom Indonesia yang baru, Nanang Hendarno, menegaskan komitmen jajaran direksi untuk menuntaskan empat pilar strategis dalam agenda TLKM 30:
- Operational and Service Excellence: Meningkatkan keandalan jaringan fixed broadband IndiHome dan seluler Telkomsel melalui modernisasi infrastruktur kabel optik bawah laut serta ekspansi menara BTS.
- Streamlining: Merampingkan struktur entitas hukum, memangkas rantai birokrasi anak perusahaan, serta menghapus operasional yang tidak menguntungkan.
- Unlock Value: Memonetisasi aset non-inti, termasuk penguatan unit data center NeutraDC dan penyelesaian tahapan spin-off entitas pengelola infrastruktur fiber InfraCo (PT Telkom Infrastruktur Indonesia).
- Modus-Operandi Shift: Mengubah model kerja tradisional menjadi organisasi berbasis agile yang berorientasi pada komputasi awan dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Nanang menegaskan bahwa instruksi dari BP Danantara dan Kementerian BUMN sangat tegas menuntut eksekusi cepat. “Target yang diberikan oleh Danantara dan pemerintah akan kita coba upayakan semaksimal mungkin untuk bisa kita selesaikan streamlining ini di tahun ini dan mungkin berlanjut ke tahun depan,” jelasnya.
Katalis Positif bagi Laba Bersih dan Portofolio B2B
Bagi pelaku pasar modal dan pemegang saham publik, keputusan Telkom menutup puluhan anak perusahaan dinilai sebagai katalis positif jangka panjang. Berkurangnya beban overhead, dewan direksi, dan staf administratif dari 50 anak usaha akan secara bertahap menekan rasio beban operasional terhadap pendapatan (operating ratio).
Fokus Telkom ke depan akan terbagi jelas ke dalam dua pilar utama: segmen konsumen (business-to-consumer atau B2C) yang dikendalikan oleh Telkomsel, serta segmen korporasi dan infrastruktur (business-to-business atau B2B) yang menaungi cloud, konektivitas serat optik melalui InfraCo, serta pusat data berstandar global. Dengan portofolio yang terkonsolidasi pada 18 perusahaan, alokasi permodalan perseroan menjadi jauh lebih terarah guna menghadapi kompetisi layanan satelit orbit rendah dan penetrasi operator swasta.

