Teknologi & AI

Kota Bertenaga AI Senilai Rp 17,9 Triliun Mulai Dibangun di Uruguay: Ambisi Utopia Pasca-AGI

Masterplan arsitektur kawasan kota cerdas dan hunian berbasis AI di pesisir Colonia del Sacramento Uruguay

Bacotan Online – Wacana pembangunan permukiman masa depan yang sepenuhnya dirancang dan ditenagai oleh artificial intelligence kini memasuki babak realisasi nyata. Praxis, entitas pengembang berbasis komunitas digital yang disokong oleh modal ventura Lembah Silikon, resmi mengumumkan kesepakatan untuk mengucurkan investasi senilai USD 1 miliar atau sekitar Rp 17,9 triliun guna membangun kawasan perkotaan futuristik di pesisir Uruguay, Amerika Selatan. Proyek ambisius ini menandai pergeseran radikal dari konsep kota pintar konvensional menuju tata ruang perkotaan yang beradaptasi langsung dengan era artificial general intelligence (AGI).

Berbeda dari konsep utopia teknologi sebelumnya yang kerap terhenti di tahap sketsa digital, proyek ini menumpang pada pembangunan fisik kawasan terpadu tepi laut bernama +Colonia di dekat Colonia del Sacramento. Lokasi strategis ini terbentang di tepi perairan Río de la Plata, hanya berjarak sekitar 50 menit penyeberangan feri dari pusat perekonomian Buenos Aires, Argentina. Fase pertama yang dijuluki Distrito Génesis saat ini telah mencatatkan progres konstruksi infrastruktur fisik antara 60 hingga 70 persen, dengan kelompok penghuni perintis ditargetkan mulai menempati unit perumahan pada pertengahan 2027 mendatang.

Blueprint Kawasan +Colonia dan Sokongan Modal Lembah Silikon

Kemitraan strategis ini dipimpin langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Praxis, Dryden Brown. Sosok pengusaha muda berusia 30 tahun tersebut menggandeng Eduardo Bastitta Harriet, pendiri Plaza Logística sekaligus penasihat ekonomi Presiden Argentina Javier Milei, yang memegang hak kepemilikan atas lahan seluas 515 hektare di Colonia del Sacramento. Dari total area tersebut, sekitar 200 hektare dialokasikan khusus untuk rencana tata ruang perkotaan terencana, dengan porsi lebih dari 100 hektare didedikasikan secara permanen sebagai ruang publik hijau terbuka dan zona konservasi alami.

Dukungan finansial bagi Praxis tidak main-main. Komunitas yang beranggotakan lebih dari 150.000 penggiat teknologi ini didukung oleh dana ventura yang berafiliasi dengan Peter Thiel dan investor teknologi global terkemuka lainnya. Rencana investasi USD 1 miliar selama tiga tahun ke depan akan dialokasikan untuk pembangunan klaster residensial berdensitas rendah dan menengah, fasilitas riset, perhotelan, hingga infrastruktur komersial terintegrasi. Proyek ini melengkapi visi jangka panjang +Colonia yang diproyeksikan menyerap investasi total hingga USD 2 miliar dalam kurun waktu 20 tahun.

Desain kawasan tidak digarap sembarangan. Masterplan perkotaan ini dirancang oleh biro arsitektur Gómez Platero Arquitectos yang sempat menjadi finalis dalam ajang World Architecture Festival 2023. Selain itu, aspek keberlanjutan dan integrasi digital didampingi langsung oleh Fraunhofer Institute IAO asal Jerman—salah satu lembaga riset kota pintar terkemuka dunia—melalui dukungan pembiayaan inovasi dari Agencia Nacional de Investigación e Innovación (ANII) pemerintah Uruguay.

Menjawab Keraguan: Pelajaran dari Akon City hingga Realisme Regulasi

Gagasan pembangunan kota mandiri oleh tokoh teknologi kerap memicu skeptisisme tajam dari para pengamat tata kota global. Publik masih mengingat jelas kegagalan proyek Akon City di Mbodieno, Senegal. Megaproyek senilai USD 6 miliar yang digagas musisi Akon pada 2020 silam menjanjikan kota bernuansa Wakanda dengan basis transaksi cryptocurrency Akoin, namun setelah bertahun-tahun berlalu lahan seluas 800 hektare tersebut tetap telantar tanpa kejelasan konstruksi fisik.

Pelajaran serupa juga terlihat dari pemangkasan target proyek raksasa The Line di Neom, Arab Saudi, yang terbentur realitas pembengkakan biaya dan tantangan logistik konstruksi, serta pembatalan proyek Quayside milik Sidewalk Labs (anak usaha Alphabet) di Toronto akibat kekhawatiran regulasi privasi data. Serupa dengan kehati-hatian dalam mengelola privasi data sensitif pada sistem AI modern, pembangunan ruang fisik berbasis otomasi menuntut kejelasan batas hukum dan tata kelola transparansi.

Menyadari jebakan utopis tersebut, Praxis memilih jalur kompromi pragmatis. Brown yang mulanya sempat mewacanakan pembentukan city-state berdaulat penuh di luar yurisdiksi negara konvensional—terinspirasi oleh konsep network state—kini melunakkan pendekatannya. Praxis menyepakati bahwa kawasan ini akan beroperasi sepenuhnya di bawah kerangka hukum, perpajakan, dan sistem peradilan resmi negara Uruguay. Realisme regulasi ini membuat proses perizinan kawasan berjalan mulus tanpa risiko benturan kedaulatan wilayah.

Integrasi Infrastruktur: Kendaraan Otonom, Drone, dan Tata Kelola Digital

Fondasi utama kota ini dirancang untuk memaksimalkan efisiensi komputasi cerdas dan keberlanjutan lingkungan. Berbeda dari kota metropolitan padat yang harus melakukan retrofit rumit pada infrastruktur lama, kawasan +Colonia dibangun dari nol dengan jalan khusus bagi autonomous vehicles (kendaraan tanpa awak), koridor udara untuk armada drone delivery logistik, serta stasiun pengisian daya kendaraan listrik terdistribusi. Konsep tata ruang ini mengingatkan pada integrasi kawasan transit terpadu modern berorientasi pejalan kaki yang mengeliminasi dominasi kendaraan berbahan bakar fosil.

Di sektor tata kelola sipil dan transaksi mikro antarpengembang, manajemen kota berencana memanfaatkan teknologi blockchain dan smart contract untuk pencatatan hak guna properti, layanan fasilitas bersama, dan pemungutan iuran pemeliharaan lingkungan yang transparan. Kebutuhan energi kawasan ini juga ditopang oleh keunggulan nasional Uruguay, di mana sekitar 98 persen pasokan listrik nasional telah dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan seperti tenaga angin dan hidroelektrik.

Kendati demikian, tantangan teknis tetap membayangi. Lonjakan efisiensi kerja yang dijanjikan sistem AI sering kali tidak berjalan linier di lapangan, sebagaimana dibuktikan oleh fenomena paradoks produktivitas sistem coding berbasis AI yang justru menuntut pengawasan manusia lebih intensif. Memastikan seluruh algoritma otomasi perkotaan berfungsi tanpa cela tanpa menciptakan ketergantungan teknologi berlebih menjadi ujian terberat bagi para insinyur Praxis di masa mendatang.

Daya Tarik Uruguay dan Eksperimen Pasca-Otomasi Tenaga Kerja

Pemilihan Uruguay sebagai tuan rumah kota AI bukan sebuah kebetulan. Negara kecil berjuluk ‘Swiss di Amerika Selatan’ ini dikenal memiliki stabilitas politik dan indeks demokrasi tertinggi di Amerika Latin. Uruguay menawarkan stabilitas moneter, kepastian hukum atas kepemilikan aset asing, serta insentif perpajakan menarik bagi pekerja profesional sektor teknologi dan pemodal ventura lintas batas.

Unit residensial tahap awal di Distrito Génesis ditawarkan mulai dari harga USD 70.000 dengan skema pembiayaan perbankan jangka panjang hingga 22 tahun. Pengembang mengklaim bahwa lebih dari 95 persen unit fase pertama telah dipesan oleh pembeli dari berbagai belahan dunia, termasuk profesional dari Argentina, Amerika Serikat, Brasil, dan kawasan Eropa. Hal ini membantah anggapan bahwa proyek ini sekadar permukiman eksklusif untuk kalangan miliarder tertentu.

Filosofi utama yang diusung Dryden Brown berpusat pada pertanyaan eksistensial: bagaimana peradaban manusia menata kehidupan ketika sistem artificial intelligence dan AGI secara bertahap mengambil alih beban pekerjaan kognitif maupun teknis. Melalui proyek di pesisir Colonia del Sacramento ini, Praxis ingin menciptakan laboratorium perkotaan hidup untuk membuktikan bahwa disrupsi otomasi dapat dikonversi menjadi kemakmuran fisik dan komunitas berkualitas tinggi, bukan sekadar berakhir menjadi wacana utopis di atas kertas.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

data center AI Meta bakteri
Teknologi & AI

Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Data center yang terkait Meta diduga mencemari saluran air Cheyenne dengan bakteri langka. Pemerintah kota memperketat pembuangan limbah fasilitas.
sungai tertua di dunia Finke
Teknologi & AI

Sungai Tertua di Dunia Diduga Sudah Ada Sebelum Pangaea

Finke River di Australia diduga berusia 300–400 juta tahun dan sudah mengalir sebelum Pangaea. Simak bukti geologi dan cara usianya