Bacotan Online – Pasar perkantoran premium Singapura sedang mengalami tekanan luar biasa. Para raksasa artificial intelligence dunia — OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, Mistral, hingga Databricks — berlomba-lomba membuka kantor besar di negara kota tersebut, mendorong tingkat kekosongan ruang kantor di kawasan pusat bisnis (Central Business District) turun ke 3,1 persen, angka terendah dalam 13 tahun terakhir menurut konsultan properti Savills.
Fenomena ini bukan sekadar ekspansi korporat biasa. Ini adalah perlombaan geopolitik dan industri untuk menguasai koridor AI Asia Pasifik, dan Singapura — berbekal regulasi pro-bisnis, infrastruktur digital kelas dunia, serta posisi netral di tengah rivalitas AS-Tiongkok — muncul sebagai pemenang terdepan.
OpenAI Paling Agresif: Lima Lantai Gedung Pusat Kota
OpenAI, pengembang ChatGPT, tercatat sebagai pemain paling agresif dalam ekspansi Singapura. Perusahaan ini tengah bernegosiasi untuk menyewa sekitar 9.000 meter persegi (hampir 100.000 kaki persegi) yang mencakup lima lantai di sebuah gedung pusat kota yang baru direnovasi, menurut Financial Times.
Lebih dari sekadar kantor perwakilan, OpenAI telah mendirikan lab AI terapan (applied AI lab) pertamanya di luar Amerika Serikat tepat di Singapura, disertai komitmen investasi lebih dari 300 juta dolar Singapura (sekitar 237 juta dolar AS). Perusahaan berencana merekrut lebih dari 200 karyawan di sana dalam beberapa tahun ke depan. Untuk memimpin operasional Asia Tenggara dan Australia, OpenAI merekrut Sandhya Devanathan, mantan eksekutif senior Meta.
Langkah ini sejalan dengan ambisi besar OpenAI memperluas jangkauan globalnya, meskipun perusahaan juga menghadapi tantangan tata kelola data dan privasi di berbagai pasar.
Anthropic, Google DeepMind, dan Gelombang Baru Pemain AI
Anthropic, pengembang chatbot Claude yang baru-baru ini mengunci kontrak cloud bernilai miliaran dolar bersama Akamai, berencana membuka kantor di pusat kota Singapura pada Oktober 2026. Halaman rekrutmen perusahaan ini sudah mencantumkan sejumlah posisi berbasis Singapura untuk mengawasi operasional di seluruh kawasan Asia Pasifik.
Google DeepMind tidak mau ketinggalan. Divisi riset AI Google ini sudah mendirikan lab penelitian di Singapura sejak akhir 2025, dengan fokus pada pengembangan model Gemini serta riset inklusivitas linguistik dan budaya untuk kawasan Asia Pasifik. Tim Google DeepMind di kawasan ini dilaporkan telah berlipat ganda dalam satu tahun terakhir.
Startup AI asal Prancis Mistral dan perusahaan hardware AI Plaud masing-masing menargetkan setidaknya 100 karyawan di Singapura pada akhir tahun ini. Nathan Xu, CEO Plaud, menyatakan kepada Fortune bahwa Singapura menawarkan peluang unik untuk memposisikan perusahaan secara agresif di mata pengguna global — dari nol karyawan setahun lalu menjadi hampir seratus orang saat ini.
Databricks Gelontorkan 350 Juta Dolar AS: Kantor Empat Kali Lipat
Databricks, perusahaan data dan AI yang melayani lebih dari 20.000 organisasi termasuk 70 persen perusahaan Fortune 500, mengumumkan investasi lebih dari 350 juta dolar AS di Singapura selama tiga tahun ke depan. Sebagai bagian dari komitmen ini, Databricks akan memperluas kantor Singapura menjadi empat kali lipat — dari ukuran sebelumnya menjadi 32.000 kaki persegi — serta menggandakan tenaga kerjanya menjadi lebih dari 500 orang.
Investasi ini menjadikan Singapura sebagai hub regional Databricks untuk seluruh kawasan Asia Pasifik dan Jepang, sekaligus mendukung ambisi National AI Strategy pemerintah Singapura.
Mengapa Singapura? Netralitas dan Dana Publik Miliaran Dolar
Daya tarik Singapura bagi perusahaan AI bukan kebetulan. Negara ini menawarkan kombinasi yang sulit ditandingi di kawasan Asia: netralitas geopolitik, regulasi yang jelas, infrastruktur telekomunikasi canggih, serta ekosistem talenta dari universitas-universitas riset ternama.
Menurut laporan Fortune, baik perusahaan AI asal Amerika Serikat maupun Tiongkok — termasuk Tencent — sama-sama memilih Singapura sebagai hub operasional Asia mereka. Gunja Gargeshwari dari Bright Data menyebut bahwa semua perusahaan AI yang ia tangani, entah dari Tiongkok, Korea, atau Jepang, semuanya menggunakan Singapura sebagai pusat.
Di sisi pendanaan publik, pemerintah Singapura telah mengalokasikan 1 miliar dolar Singapura untuk periode 2025-2030 demi riset AI, sebagaimana diumumkan Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Josephine Teo. Alokasi ini melanjutkan investasi sebelumnya yang melampaui 500 juta dolar Singapura selama 2019-2023. Dana tersebut mencakup riset fundamental dan terapan, pendirian pusat riset baru, serta pelatihan dan perekrutan peneliti kelas dunia.
Singapura juga tengah membangun AI campus di Ayer Rajah yang dijadwalkan beroperasi pada 2028, lengkap dengan ruang kerja dan fasilitas hunian khusus untuk startup AI.
Dampak: Sewa Kantor Terancam Naik 10 Persen
Konsekuensi langsung dari serbuan ini terasa di pasar properti komersial. Financial Times melaporkan harga sewa perkantoran di pusat kota Singapura berpotensi melonjak hingga 10 persen pada tahun depan. Alan Cheong dari Savills Singapura mengatakan bahwa banyak perusahaan AI menyewa ruang jauh lebih besar dari kebutuhan saat ini sebagai antisipasi ekspansi cepat.
“Mereka punya banyak dana segar dan tidak segan menghamburkannya,” kata Cheong kepada Financial Times.
Ironisnya, tren ini kontras dengan perilaku perusahaan tradisional di pasar yang sama. Menurut konsultan properti global Knight Frank, mayoritas penyewa kantor Singapura justru memilih memperpanjang sewa ketimbang pindah ke lokasi baru karena besarnya biaya relokasi. Tridiana Ong dari Knight Frank menyebut minimnya anggaran relokasi membuat korporat konvensional tidak terburu-buru berganti gedung.
Pasokan gedung perkantoran baru di Singapura juga sangat terbatas hingga 2027, sehingga tekanan harga sewa diperkirakan akan terus berlanjut.
Pelajaran bagi Indonesia dan ASEAN
Ekspansi masif perusahaan AI ke Singapura memberikan sinyal penting bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia sendiri tengah menjajaki pembentukan sovereign AI fund untuk mendorong pengembangan AI domestik, menurut laporan Reuters. Namun infrastruktur data center, kejelasan regulasi, dan ketersediaan talenta masih menjadi tantangan utama yang membedakan Indonesia dari Singapura dalam persaingan menarik investasi AI.
Dengan semakin padatnya Singapura sebagai hub AI, ada peluang bagi negara-negara tetangga untuk menawarkan diri sebagai alternatif — khususnya untuk operasional yang membutuhkan biaya lebih rendah dan akses ke pasar konsumen yang lebih besar. Dinamika rivalitas geopolitik AS-Tiongkok di ranah AI juga turut membentuk lanskap investasi di kawasan ini.
Satu hal yang pasti: perlombaan AI di Asia Pasifik bukan lagi soal teknologi semata — ini adalah pertarungan real estat, talenta, dan pengaruh geopolitik yang sedang berlangsung di depan mata.

