Bacotan Online – Dunia kesusastraan global diguncang polemik integritas karya setelah dewan juri penghargaan sastra paling bergengsi di Prancis, Académie Goncourt, resmi mencoret novel unggulan karya Thélyson Orélien dari daftar nominasi Prix Goncourt. Keputusan tegas tersebut diambil menyusul mencuatnya tuduhan serius bahwa karya berjudul C’était ça ou mourir (Pilihan Itu atau Mati) sebagian besar diproduksi menggunakan bantuan teknologi generative artificial intelligence.
Langkah eliminasi ini menjadi preseden penting dalam sejarah sastra modern Prancis. Sebelumnya, novel yang diterbitkan oleh penerbit ternama Grasset pada Agustus lalu tersebut menuai pujian luas dari para kritikus, mencatatkan penjualan lebih dari 35.000 eksemplar, menyabet penghargaan Prix du roman Fnac, dan hak terjemahannya telah terjual ke lebih dari 20 negara. Kisah fiksi autobiografis itu mengangkat narasi menyentuh tentang seorang guru sejarah dan geografi yang melarikan diri dari kekerasan geng di Haiti, menempuh rute berbahaya melintasi 12 negara sebelum akhirnya menemukan suaka di Kanada.
Kronologi Tuduhan dan Investigasi Algoritma
Kegaduhan bermula dari jagat media sosial X ketika sebuah akun anonim bernama Balance ton Claude—sebuah sindiran terbuka terhadap agen artificial intelligence Claude besutan Anthropic—mengunggah laporan investigasi mandiri. Akun tersebut mengeklaim telah memindai teks lengkap novel menggunakan perangkat lunak detektor teks otomatis Pangram. Hasil analisis algoritma tersebut mengeklaim bahwa struktur kalimat, pilihan leksikal, dan ritme narasi novel tersebut menunjukkan indikasi kuat buatan mesin.
Tak lama berselang, identitas di balik akun anonim tersebut diungkap oleh surat kabar berhaluan kanan-tengah Le Figaro sebagai Samuel Fitoussi, salah satu kolumnis mereka. Fitoussi mengonfirmasi aksinya seraya menegaskan bahwa motivasinya didorong oleh kekhawatiran mendalam terhadap masa depan literatur manusia. Menurutnya, tanpa batasan etika yang tegas, penetrasi masif large language model berisiko mengikis keaslian daya cipta sastra serta tradisi membaca kritis masyarakat.
Isu etika pemanfaatan kecerdasan buatan ini selaras dengan sorotan regulasi teknologi terkini, sebagaimana tercermin dalam dorongan pengawasan etika AI dan tata kelola teknologi yang kian ketat di berbagai sektor. Ketika algoritma generatif makin mahir meniru sentuhan manusiawi, batas antara asistensi kreatif dan hilangnya orisinalitas semakin kabur.
Bantahan Penulis dan Problem False Positive Detektor AI
Menanggapi tuduhan tersebut, Thélyson Orélien yang kini berusia 38 tahun membantah keras seluruh tudingan. Orélien menegaskan bahwa gaya penulisan liris, pengulangan frasa berulang, serta ritme kalimat yang dicurigai mesin sebenarnya merupakan manifestasi murni dari tradisi lisan Karibia dan bahasa kreol Haiti. Dalam wawancaranya dengan harian Libération, ia menyatakan bahwa dirinya selalu mencintai proses menulis manual dan tidak melihat alasan untuk menyerahkan imajinasinya kepada sebuah sistem komputasi.
Kontroversi ini sekaligus menelanjangi kelemahan mendasar perangkat detektor AI komersial. Para peneliti komputasi bahasa berulang kali memperingatkan tingginya angka false positive pada alat semacam Pangram maupun pendeteksi teks lainnya. Beberapa pengujian independen yang dilakukan media Prancis menggunakan alat uji berbeda justru mengategorikan novel tersebut sebagai karya orisinal manusia. Tingkat akurasi detektor teks berbasis probabilitas kata terbukti kerap bias terhadap teks non-standar, pola retorika kuno, atau dialek bahasa asing yang tidak mengikuti norma distribusi data pelatihan mesin.
Meskipun demikian, posisi sang penulis semakin tersudut setelah laporan investigasi harian Libération mengungkap temuan lain di luar isu komputasi. Orélien dituding pernah melakukan plagiarisme klasik dalam cerpen lamanya yang meraih penghargaan, di mana sejumlah bagian identik dengan teks pembuka buku karya jurnalis Prancis Louis Pauwels bertajuk The Morning of the Magicians yang terbit pada tahun 1960.
Sikap Tegas Académie Goncourt Menjaga Marwah Sastra
Kombinasi bukti forensik digital dan temuan plagiarisme masa lalu akhirnya memicu perubahan drastis pada dewan juri Prix Goncourt. Presiden Académie Goncourt, Philippe Claudel, yang awalnya mengimbau publik untuk berhati-hati dan menahan diri dari spekulasi, akhirnya merilis pernyataan resmi mengenai pencoretan novel tersebut dari bursa penghargaan.
Dewan juri menggarisbawahi beberapa pertimbangan strategis yang melandasi langkah pemangkasan nominasi tersebut:
- Integritas Institusi dan Penulis: Menjaga mandat luhur akademi yang berdiri sejak 1903 untuk mempromosikan serta memuliakan karya murni yang ditulis oleh pemikiran otentik manusia.
- Konvergensi Analisis Independen: Merujuk pada hasil evaluasi silang oleh peneliti independen dan jurnalis tepercaya yang mengindikasikan kuatnya campur tangan pemrosesan bahasa mesin dalam naskah final.
- Penolakan Mutlak terhadap Konten Sintetis: Menegaskan pesan moral industri bahwa penghargaan sastra tertinggi tidak akan pernah mentoleransi atau melegitimasi karya yang diramu secara otomatis melalui prompt kecerdasan buatan.
- Konsistensi Jejak Rekam: Menimbang bukti temuan plagiarisme tekstual yang melanggar kode etik kepengarangan universal.
Dampak Jangka Panjang bagi Industri Kreatif Global
Keputusan Académie Goncourt ini diprediksi menjadi tonggak penting bagi rumah penerbitan global dalam memperketat proses peer review dan penandatanganan kontrak hak cipta. Selama ini, penetrasi kecerdasan buatan generatif dalam ekosistem digital telah meluas dari piranti lunak komersial hingga adopsi asisten digital personal yang digunakan jutaan orang setiap hari. Namun, ranah seni murni dan sastra naratif tetap menuntut batas demarkasi yang tegas antara alat bantu teknis dan proses kontemplasi artistik.
Kasus Thélyson Orélien menjadi sinyal peringatan keras bagi para kreator di seluruh dunia. Di era di mana mesin mampu memproduksi ribuan bait narasi dalam hitungan detik, nilai tertinggi sebuah karya bukan lagi sekadar keindahan kalimat atau efisiensi produksi, melainkan kejujuran intelektual, kedalaman rasa, dan orisinalitas proses kreatif manusia yang tak tergantikan.

