Bacotan Online – Samsung kembali memperbarui lini smartwatch unggulannya yang ditujukan bagi ekosistem Android. Seri terbaru Galaxy Watch ini hadir dengan pembaruan pada sektor sensor biometrik serta integrasi kecerdasan buatan (AI) yang kian matang. Namun, di balik segudang fitur pelacak kesehatan canggih yang dibawanya, ada satu kelemahan klasik yang masih membayangi pengalaman penggunaan harian: daya tahan baterai yang tertinggal.
Ecosystem Lock-in dan Sensor Kebugaran Kelas Atas
Daya tarik utama perangkat ini terletak pada kemampuan pemantauan kesehatan yang sangat komprehensif. Bagi pengguna yang aktif berolahraga di luar ruangan, kehadiran modul dual-frequency GPS memberikan akurasi pemetaan rute yang presisi, bahkan di kawasan urban bergedung tinggi maupun jalur hutan rimbun. Perangkat ini juga dibekali sensor biometrik mutakhir yang mendukung pemantauan elektrokardiogram (ECG), estimasi saturasi oksigen darah (SpO2), hingga deteksi gangguan tidur apnea (sleep apnea detection) berlisensi medis.
Sayangnya, potensi maksimal jam tangan pintar ini terbentur oleh dinding ekosistem yang ketat (ecosystem lock-in). Sederet fitur kesehatan tingkat lanjut tersebut hanya dapat beroperasi penuh jika perangkat dipasangkan dengan smartphone Samsung Galaxy melalui aplikasi Samsung Health Monitor. Jika dihubungkan ke ponsel Android merek lain, sejumlah fitur penting seperti sinkronisasi mode Do Not Disturb, pengukuran ECG, dan deteksi apnea secara otomatis dinonaktifkan—sebuah kompromi yang cukup mengecewakan untuk perangkat di kelas harga premium.
Uji Performa: Daya Tahan Baterai Masih Jadi Titik Lemah
Masalah paling mencolok muncul pada efisiensi daya. Pada varian 40mm yang dibekali baterai berkapasitas sekitar 300-390mAh, peningkatan kapasitas dari generasi terdahulu belum mampu menghasilkan lompatan masa pakai yang signifikan di dunia nyata. Dengan pola penggunaan aktif—meliputi pemantauan detak jantung berkelanjutan, pelacakan tidur, notifikasi harian, dan sesekali aktivitas GPS—perangkat ini kesulitan bertahan lebih dari 24 jam.
Pengguna yang melepas pengisian daya di pagi hari kemungkinan besar sudah harus kembali mencari kabel charger pada sore hari berikutnya. Pola konsumsi daya yang boros ini memaksa pengguna melakukan rutinitas pengisian daya setiap hari jika tidak ingin jam tangan pintar mereka mati mendadak atau terpaksa beralih ke watch-only mode yang hanya menampilkan waktu dasar tanpa fungsi pintar.
Kecepatan Charging yang Perlu Ditingkatkan
Dengan masa pakai baterai yang relatif singkat, kecepatan pengisian daya seharusnya menjadi penyelamat utama. Namun, fitur fast charging yang diusung masih terasa lambat untuk standar jam tangan pintar modern. Pengisian dari kondisi baterai kritis hingga penuh 100 persen membutuhkan waktu berkisar antara 80 hingga 90 menit.
Durasi pengisian yang mencapai 1,5 jam ini kerap mengganggu kontinuitas pelacakan kesehatan, terutama bagi pengguna yang mengandalkan analisis tidur pada malam hari. Samsung dinilai perlu melakukan perombakan arsitektur daya dan efisiensi chipset pada generasi mendatang jika ingin bersaing dengan perangkat wearable rival yang mampu bertahan berhari-hari dalam sekali pengisian daya.

