Bacotanonline

Type and hit Enter to search

  • Home
  • Bisnis & Finansial
  • Teknologi & AI
  • Gadget & Sains Terapan
  • Sport
Pedagang komoditas cabai merah keriting dan sayuran di pasar tradisional Indonesia
Bisnis & Finansial

Harga Pangan Nasional Bergejolak: Cabai Merah Keriting Melonjak Rp105.600 per Kilogram di Pasar Tradisional

Siti Rahma
03 November 2026 4 Mins Read
7 Views
0 Comments

Bacotan Online – Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatatkan lonjakan harga ekstrem pada sejumlah komoditas pangan pokok hortikultura di tingkat pedagang eceran pasar tradisional pada sesi perdagangan Selasa (3/11/2026), di mana harga komoditas cabai merah keriting melonjak drastis sebesar 24,09 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir hingga menembus level psikologis Rp105.600 per kilogram. Lonjakan harga pangan yang meluas ini tidak hanya melanda kelompok aneka cabai, melainkan juga merembet pada kelompok bumbu dapur dan bahan pangan pokok karbohidrat, ditandai dengan kenaikan harga bawang merah sebesar 9,96 persen menjadi Rp40.850 per kilogram serta bawang putih yang merangkak naik 2,74 persen menyentuh angka Rp39.350 per kilogram. Di sektor perberasan nasional, beras kualitas bawah I mengalami apresiasi harga 3,01 persen menjadi Rp15.490 per kilogram dan beras kualitas bawah II terkerek naik 2,70 persen ke level Rp15.200 per kilogram, menghadirkan tekanan inflasi pangan bergejolak (volatile food) yang signifikan terhadap daya beli masyarakat konsumen kelas menengah ke bawah menjelang penutupan kuartal keempat.

Disparitas Harga Antar-Wilayah dan Dampak Anomali Cuaca Terhadap Sentra Hortikultura

Kenaikan harga cabai yang menembus batas tiga digit per kilogram ini memperlihatkan disparitas struktural yang tajam dalam peta sirkulasi logistik pangan domestik. Berdasarkan pemantauan panel harga harian, variasi harga pada aneka varietas cabai bergerak sangat volatil. Sementara cabai merah keriting melesat ke Rp105.600 per kilogram dan cabai rawit merah terkerek naik 3,79 persen menuju level Rp104.150 per kilogram, varietas cabai merah besar justru terpantau mengalami koreksi teknis sebesar 25,09 persen ke posisi Rp54.500 per kilogram, serta cabai rawit hijau menyusut 3,51 persen ke angka Rp76.900 per kilogram. Divergensi pergerakan harga ini merefleksikan pergeseran preferensi konsumsi rumah tangga dan industri kuliner yang sangat bergantung pada pasokan cabai keriting sebagai bahan baku olahan utama.

Faktor fundamental yang memicu kelangkaan pasokan di pasar-pasar induk perkotaan berakar pada anomali cuaca hidrometeorologi basah yang melanda berbagai sentra produksi utama di Pulau Jawa dan Sumatera. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang turun berkepanjangan di kawasan lereng pegunungan sentra cabai seperti Kediri, Blitar, Magelang, Temanggung, dan Garut menyebabkan tingginya kelembapan tanah, yang memicu kerontokan massal pada bunga tanaman cabai serta ledakan serangan penyakit jamur antraknosa (patek). Akibatnya, produktivitas hasil panen petani di tingkat hulu merosot antara 35 hingga 40 persen, memaksa para petani membatasi pengiriman ke luar daerah guna memenuhi komitmen kontrak pedagang pengepul lokal terlebih dahulu.

Kondisi ini diperparah oleh kesenjangan margin keuntungan antara tingkat petani dan konsumen akhir akibat tingginya biaya distribusi transportasi darat antarpulau serta minimnya fasilitas rantai pendingin (cold storage) di pasar-pasar rakyat. Di wilayah metropolitan Jakarta dan Kepulauan Riau, harga eceran cabai merah keriting bahkan dilaporkan menyentuh angka Rp115.000 hingga Rp125.000 per kilogram di beberapa pasar pengecer mandiri, berbanding terbalik dengan harga di tingkat petani pedesaan yang berkisar antara Rp45.000 hingga Rp55.000 per kilogram. Dalam konteks makroekonomi yang lebih luas, tekanan harga komoditas pangan domestik ini menjadi indikator penting yang menguji ketahanan fiskal di samping dinamika stabilitas neraca perdagangan barang dan inflasi komoditas pangan yang tengah dimonitor ketat oleh otoritas fiskal dan moneter.

Intervensi Stabilisasi Pasokan Bapanas dan Skema Fasilitasi Distribusi Pangan

Menanggapi gejolak harga yang berpotensi memicu lonjakan indeks harga konsumen (IHK) pada komponen pangan bergejolak, Badan Pangan Nasional bersama Perum Bulog segera mengaktifkan skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) lintas provinsi. Mekanisme intervensi ini dirancang untuk menyerap kelebihan pasokan dari sentra-sentra produksi yang mengalami surplus relatif di luar Jawa, seperti beberapa kantong perkebunan di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat, kemudian menyubsidi seluruh biaya pengangkutan kargo udara dan penyeberangan kapal feri agar komoditas cabai dapat mendarat di pasar induk konsumsi Pulau Jawa dengan struktur harga yang terkendali.

Di sisi lain, pergerakan harga beras yang menjadi komoditas pangan paling sensitif secara politik dan sosial memperlihatkan dinamika yang beragam. Sementara beras kualitas bawah mengalami kenaikan terbatas, beras medium I terpantau stabil di angka Rp16.650 per kilogram, dan beras medium II justru mencatatkan penurunan tipis 1,22 persen ke posisi Rp16.250 per kilogram. Untuk segmen beras premium, beras kualitas super I dan kualitas super II masing-masing mengalami penurunan harga sebesar 1,39 persen dan 2,01 persen menjadi Rp17.750 dan Rp17.100 per kilogram. Penurunan pada segmen beras kualitas menengah dan atas ini didorong oleh kontinuitas operasi pasar melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta perluasan gelaran Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan serentak oleh dinas ketahanan pangan daerah di ratusan titik pemukiman padat penduduk.

Bank Indonesia melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menegaskan bahwa sinergi gerakan nasional pengendalian inflasi pangan (GNPIP) akan terus diintensifkan sepanjang bulan November 2026. Target utamanya adalah menjaga agar laju inflasi umum tahunan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Penguatan infrastruktur pascapanen, optimalisasi teknologi pengering cabai (chili dryer), serta penguatan cadangan pangan pemerintah daerah diproyeksikan menjadi pilar pertahanan krusial guna mengikis ketergantungan musiman pasar tradisional terhadap fluktuasi iklim yang kian ekstrem.

Pertanyaan yang Kerap Diajukan (FAQ) Terkait Gejolak Harga Pangan Nasional

1. Berapa besaran kenaikan harga cabai merah keriting dan bawang merah menurut data PIHPS Bank Indonesia per 3 November 2026?
Menurut data PIHPS Bank Indonesia, harga cabai merah keriting melonjak drastis sebesar 24,09 persen dalam sehari menjadi Rp105.600 per kilogram. Sementara itu, komoditas bawang merah mengalami lonjakan sebesar 9,96 persen menjadi Rp40.850 per kilogram, dan bawang putih naik 2,74 persen menjadi Rp39.350 per kilogram.

2. Faktor apa yang menjadi pemicu utama meroketnya harga cabai merah keriting menembus Rp100.000 per kilogram?
Faktor utamanya adalah anomali cuaca dengan curah hujan tinggi yang berkepanjangan di kawasan sentra produksi utama Pulau Jawa (Kediri, Blitar, Magelang, Temanggung, dan Garut). Kondisi ini menyebabkan tanaman terserang penyakit jamur antraknosa (patek) dan kerontokan bunga, yang memangkas hasil panen petani hingga 35-40 persen serta memperlebar kesenjangan pasokan di pasar induk perkotaan.

3. Bagaimana strategi pemerintah dan Bapanas untuk meredam lonjakan inflasi pada kelompok pangan bergejolak?
Pemerintah melalui Bapanas dan Bulog mengaktifkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dengan menyubsidi ongkos angkut komoditas dari wilayah surplus ke wilayah defisit, memperluas Gerakan Pangan Murah (GPM) di kawasan pemukiman, serta mengintensifkan penyaluran beras program SPHP guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi nasional.

Share Article

Follow Me Written By

Siti Rahma

Reporter desk ekonomi digital dengan spesialisasi peliputan ekosistem pembayaran nontunai, regulasi perbankan digital, infrastruktur fintech, serta integrasi teknologi blockchain pada sektor korporasi komersial.

Other Articles

Wafer silikon semikonduktor mikroprosesor di fasilitas litografi
Previous

Startup Fabless Tachyum Ajukan Permohonan Pailit di Slovakia: Pupusnya Ekspektasi Prosesor Hibrida Prodigy 192-Core

Antarmuka model kecerdasan buatan otonom Claude dari Anthropic yang mempercepat riset model neural generasi baru
Next

Dokumen Keterbukaan SEC Beberkan Fenomena Recursive Self-Improvement: Otomasi Mandiri Frontier Model Pacu Kecepatan R&D

Next
Antarmuka model kecerdasan buatan otonom Claude dari Anthropic yang mempercepat riset model neural generasi baru
03 November 2026

Dokumen Keterbukaan SEC Beberkan Fenomena Recursive Self-Improvement: Otomasi Mandiri Frontier Model Pacu Kecepatan R&D

Previous
03 November 2026

Startup Fabless Tachyum Ajukan Permohonan Pailit di Slovakia: Pupusnya Ekspektasi Prosesor Hibrida Prodigy 192-Core

Wafer silikon semikonduktor mikroprosesor di fasilitas litografi

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacotan Online

Bacotan Online adalah portal media informasi dan riset independen yang menyajikan jurnalisme berbasis fakta lapangan, transparansi peliputan, dan analisis kritis mendalam pada sektor Bisnis & Finansial, Teknologi & AI, Gadget & Sains Terapan, serta Sport.

Surel Redaksi: [email protected]

Kategori Berita

  • Bisnis & Finansial
  • Teknologi & AI
  • Gadget & Sains Terapan
  • Sport

Informasi & Legalitas

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan

© 2026 Bacotan Online. All Rights Reserved.

  • Home
  • Bisnis & Finansial
  • Teknologi & AI
  • Gadget & Sains Terapan
  • Sport