Bisnis & Finansial

GMF AeroAsia Borong 4 Kemitraan Strategis di MRO Asia-Pacific 2026: Dari Mesin CFM56 Hingga Taksi Terbang eVTOL

Pesawat Garuda Indonesia ATR 72-600 di dalam hangar GMF AeroAsia, Bandara Soekarno-Hatta

Bacotan Online – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), anak usaha Grup Garuda Indonesia yang bergerak di sektor maintenance, repair, and overhaul (MRO), menunjukkan ambisi besar di panggung internasional. Dalam ajang MRO Asia-Pacific 2026 yang berlangsung 22-24 September di Singapore Expo, perusahaan ini mengukuhkan empat kerja sama strategis sekaligus, plus meraih sederet kontrak perawatan pesawat baru dari maskapai Asia Pasifik. Langkah ini menegaskan posisi GMF sebagai pemain MRO kelas regional yang tak mau sekadar jadi bengkel lokal.

Empat Kemitraan Sekaligus: Mesin Jet Sampai Pesawat Terbang Listrik

Kerja sama pertama dan paling strategis dijalin bersama FTAI Aviation Ltd., perusahaan yang terdaftar di Nasdaq (ticker: FTAI), untuk mengembangkan bisnis perawatan engine dan Auxiliary Power Unit (APU) di Asia Pasifik. Kesepakatan ini menjamin alokasi kapasitas bagi FTAI selama lima tahun ke depan, dimulai dari mesin CFM56-5B dan CFM56-7B serta APU seri GTCP131-9. Lebih menarik lagi, kolaborasi ini membuka pintu untuk ekspansi ke mesin generasi berikutnya, termasuk CFM LEAP yang menjadi tulang punggung armada narrow-body terbaru di seluruh dunia.

Mesin CFM56 sendiri merupakan salah satu jet engine paling sukses dalam sejarah aviasi komersial, dengan lebih dari 30.000 unit terproduksi dan menjadi penggerak utama pesawat Airbus A320 classic serta Boeing 737 NG. Di kawasan Asia Pasifik, ribuan unit masih aktif beroperasi dan membutuhkan perawatan berkala. Dengan mengamankan kontrak lima tahun untuk mesin seri ini, GMF praktis mengunci aliran pendapatan yang stabil dari segmen engine maintenance yang dikenal bernilai tinggi dalam rantai bisnis MRO.

Kemitraan kedua tidak kalah ambisius. GMF menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT VELA Prima Nusantara untuk menjajaki pengembangan GMF sebagai MRO Approved Facility bagi Vela Alpha, pesawat taksi terbang buatan Indonesia yang mengusung teknologi electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dan hybrid Vertical Take-Off and Landing (hVTOL). Vela Alpha dijadwalkan memasuki fase operasional pada 2029, dan GMF berpotensi terlibat sejak tahap pengembangan hingga produksi serial lewat skema Production Certificate (PC) Holder dan Right of First Refusal (ROFR).

Kerja sama ketiga melibatkan AerOne Techniques Pte Ltd asal Singapura, fokus pada eksplorasi pengembangan Parts Manufacturer Approval (PMA) untuk memproduksi komponen pesawat. Jika berjalan mulus, ini bisa memperluas portofolio GMF dari sekadar perawatan menjadi manufaktur komponen, sebuah lompatan yang signifikan dalam rantai nilai aviasi. Sementara kemitraan keempat dengan PDQ Aerospares asal Inggris menyasar penguatan perdagangan trading material pesawat dan perluasan jaringan bisnis aftermarket.

Lima Kontrak Perawatan Baru dari Maskapai Regional

Selain empat kemitraan strategis, GMF juga membawa pulang lima kontrak perawatan pesawat dari pelanggan di kawasan Asia Pasifik. Thai VietJet mempercayakan proyek perawatan Airbus A320, sementara Cebu Pacific menyerahkan perawatan 43 unit pesawat Airbus A320 dan A330 untuk periode 2027-2028, ditambah perawatan pesawat ATR. AirZeta menggandeng GMF untuk perawatan Boeing B747-400 periode 2027-2030, Air Navigator untuk perawatan ATR 2026-2027, dan Japan Airlines untuk layanan Line Maintenance serta Ground Handling di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kontrak dari Cebu Pacific patut dicermati karena melibatkan 43 pesawat sekaligus, jumlah yang menunjukkan kepercayaan tinggi dari maskapai low-cost carrier Filipina terhadap kapabilitas GMF. Japan Airlines di sisi lain memberi sinyal bahwa maskapai full-service Jepang pun percaya pada standar GMF untuk operasional di hub utama Indonesia.

Konteks Pasar: Asia Pasifik Jadi Arena MRO Paling Panas

Agresivitas GMF bukan tanpa alasan. Pasar MRO di Asia Pasifik saat ini bernilai sekitar USD 23,7 miliar pada 2026 dan diproyeksikan tumbuh menjadi USD 30,29 miliar pada 2031, dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 5,03 persen menurut riset Mordor Intelligence. Boeing sendiri memperkirakan kawasan ini akan membutuhkan lebih dari 40 persen teknisi perawatan penerbangan baru di seluruh dunia hingga 2045. Permintaan yang besar ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemain regional seperti GMF yang harus bersaing dengan raksasa MRO global seperti ST Aerospace (Singapura), HAECO (Hong Kong), dan SIA Engineering Company.

“Kami melihat Asia Pasifik sebagai pasar yang terus berkembang dan ingin memastikan GMF tumbuh bersama kebutuhan tersebut. Dengan pengalaman lebih dari 75 tahun di industri MRO dan rekam jejak melayani pelanggan di kawasan Asia Pasifik, kami memiliki fondasi yang kuat untuk terus mengembangkan kapabilitas dan memperluas kemitraan,” ujar Direktur Utama GMF, Andi Fahrurrozi.

Kinerja Keuangan yang Mendukung Ekspansi

Langkah ekspansif GMF ditopang oleh kinerja keuangan yang terus membaik. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD 33,9 juta atau sekitar Rp 570 miliar. Di kuartal pertama 2026, laba bersih melonjak 78,36 persen secara tahunan menjadi USD 6,76 juta, sementara pendapatan naik 20,57 persen menjadi USD 114,94 juta. Angka-angka ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi layanan dan perluasan basis pelanggan mulai membuahkan hasil nyata di laporan keuangan.

Perlu dicatat bahwa GMF sempat menghadapi masa sulit. Perusahaan baru saja menghapus defisit senilai Rp 9 triliun yang menjadi warisan krisis pandemi. Pemulihan ini menjadikan langkah agresif di MRO Asia-Pacific 2026 bukan sekadar ambisi, tapi juga bukti bahwa perusahaan sudah melewati fase survival dan siap masuk fase pertumbuhan.

Pada Mei 2026, GMF juga meresmikan fasilitas perawatan pesawat baru di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Fasilitas ini dikerjakan khusus untuk pesawat turboprop seperti ATR 72-212A dan ATR 42, sehingga hangar utama di Cengkareng bisa fokus menangani pesawat jet. Pemisahan kapasitas ini menjadi sinyal bahwa GMF serius menata infrastrukturnya agar bisa menangani volume perawatan yang lebih besar.

Langkah Berani ke Dunia eVTOL dan Manufaktur Komponen

Di antara keempat kemitraan yang diumumkan, kolaborasi dengan VELA dan AerOne Techniques mungkin paling mencerminkan visi jangka panjang GMF. Industri Advanced Air Mobility (AAM) memang masih dalam tahap awal, tapi dengan masuk sejak fase pengembangan Vela Alpha, GMF memposisikan diri sebagai first mover di segmen perawatan kendaraan udara listrik di Indonesia. Jika sertifikasi dan produksi berjalan sesuai rencana, GMF bisa menjadi satu-satunya entitas di Indonesia yang memiliki kapabilitas MRO untuk eVTOL sekaligus pesawat konvensional.

Sementara itu, eksplorasi PMA bersama AerOne membuka potensi baru yang selama ini jarang disentuh pemain MRO Indonesia: manufaktur komponen pesawat bersertifikasi. Jika berhasil memperoleh PMA, GMF tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan spare parts dari Original Equipment Manufacturer (OEM) luar negeri, dan bisa menawarkan opsi komponen alternatif yang lebih kompetitif bagi rantai pasok domestik.

Secara keseluruhan, rentetan kemitraan dan kontrak yang diraih di Singapura menunjukkan bahwa GMF tengah bertransformasi dari bengkel pesawat ke ekosistem MRO terintegrasi. Untuk pasar aviasi Asia Pasifik yang nilainya terus membesar, ambisi ini bukan sekadar retorika di pameran industri, tapi langkah konkret yang sudah mulai terukur dari kinerja keuangan dan portofolio pelanggan.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

British Columbia gugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge
Bisnis & Finansial

British Columbia Gugat OpenAI atas Penembakan Sekolah

British Columbia menggugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge, menyoroti kewajiban platform AI saat mendeteksi ancaman kekerasan.
IHSG turun 1,69 persen ke level 6.277
Bisnis & Finansial

IHSG Turun 1,69 Persen, Ditutup di Level 6.277

IHSG turun 1,69 persen dan ditutup di level 6.277. Tekanan meluas sejak pagi, dengan sektor energi serta saham bank besar