Bacotan Online – Sabtu (26/9/2026) menjadi hari bersejarah bagi dunia e-sports Asia dan kontingen tuan rumah Jepang. Yuki Kurihara, seorang murid sekolah dasar berusia 11 tahun berkacamata, merebut medali emas Puyo Puyo Champions di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya setelah mengalahkan serangkaian lawan yang usianya hingga tiga kali lipat lebih tua darinya. Kemenangan ini secara resmi menjadikannya atlet termuda dalam sejarah partisipasi Jepang di Asian Games—ajang multi-olahraga terbesar di benua Asia yang sudah digelar sejak 1951.
Di babak final yang digelar di Aichi Sky Expo, Tokoname, Kurihara menundukkan Kang Dongshin dari Korea Selatan dengan skor telak 10-2. Sebelumnya, ia menghancurkan Tanarak Wongkitkun dari Thailand—yang berusia 28 tahun—dengan skor 10-1 di semifinal. Selama seluruh pertandingan, Kurihara tampak tenang tanpa ekspresi berlebihan, seolah sedang mengerjakan tugas sekolah biasa.
Malu di Podium, Tapi Bangga dengan Medali
Reaksi Kurihara usai meraih emas justru mengundang simpati. Alih-alih sorak kemenangan ala atlet profesional, bocah berkacamata itu mengaku malu berdiri di atas podium. “Kalau jujur, saya merasa agak malu, jadi saya tidak bisa banyak mengubah ekspresi wajah,” ujarnya dalam konferensi pers pasca pertandingan yang dilaporkan oleh AFP.
Di podium, Kurihara hanya membungkuk pelan saat menerima medali emasnya dan melambaikan tangan kecil ke penonton. “Saya sangat senang. Medali emasnya indah, berkilau, dan berat,” katanya. “Boneka maskotnya juga sangat lucu, dan keren sekali karena warnanya juga emas.”
Lawan finalnya, Kang Dongshin (24), justru memberi pujian tanpa syarat. “Sudah jelas lawan saya sangat terampil dan berada di atas level saya. Kemampuan teknis dan akurasinya luar biasa,” ujar Kang.
Dari TK Hingga Lisensi Profesional
Perjalanan Kurihara di dunia Puyo Puyo dimulai jauh sebelum ia memahami arti kompetisi. Ia mulai bermain game puzzle buatan SEGA ini sejak tahun pertama sekolah dasar dan segera menunjukkan bakat luar biasa dalam membangun rantai combo—elemen kunci kemenangan di Puyo Puyo, di mana pemain harus menyusun dan meledakkan gelembung berwarna secara berantai untuk membanjiri layar lawan.
Pada April 2026, Kurihara memperoleh lisensi profesional dari Japan Esports Union (JeSU), menjadikannya salah satu pro player berlisensi termuda di Jepang. Media Jepang melaporkan bahwa ia berlatih hingga delapan jam sehari, sambil tetap menjaga nilai akademisnya di sekolah. “Memang sulit menyeimbangkannya dengan sekolah dan cram school (bimbingan belajar), tapi sangat menyenangkan,” ungkapnya sebelum Asian Games dimulai.
Makanan favoritnya untuk menjaga stamina latihan? Belut (unagi)—sumber protein tinggi yang menjadi makanan tradisional Jepang untuk menambah energi.
Rekor Usia di Panggung Asian Games
Tidak ada catatan resmi yang komprehensif soal medalis termuda sepanjang sejarah Asian Games yang dimulai di New Delhi, India pada 1951. Namun, beberapa preseden tercatat: Bunga Nyimas dari Indonesia merebut perunggu skateboarding putri di usia 12 tahun pada Asian Games Jakarta 2018, sementara Cui Chenxi dari Tiongkok meraih emas street skateboarding putri di usia 13 tahun di Hangzhou 2022. Dengan usianya yang baru 11 tahun, Kurihara sangat mungkin merupakan peraih emas termuda dalam sejarah 75 tahun perhelatan ini.
Fenomena atlet muda mendominasi di Aichi-Nagoya 2026 bukan hanya monopoli e-sports. Kamus Wong (12 tahun) bertanding mewakili Hong Kong di skateboarding, Yu Zidi (13 tahun) dari Tiongkok meraih tiga emas renang, sementara perenang Jepang Shin Ohashi (17 tahun) memecahkan rekor dunia 200 meter gaya dada pada Kamis lalu. Tren ini menunjukkan bahwa batas usia dalam olahraga kompetitif semakin kabur, terutama di cabang-cabang yang mengandalkan refleks dan kreativitas di atas pengalaman fisik.
E-Sports di Asian Games: Dari Demonstrasi ke Medali Resmi
Prestasi Kurihara tidak bisa dilepaskan dari evolusi e-sports di pentas multi-olahraga Asia. E-sports pertama kali tampil sebagai cabang demonstrasi di Asian Games Jakarta 2018 dengan enam judul game termasuk League of Legends dan Arena of Valor. Pada Hangzhou 2022, statusnya naik menjadi cabang bermedali resmi—tiket pertandingannya bahkan harus diundi melalui lotere karena tingginya permintaan penonton.
Di Aichi-Nagoya 2026, panitia menggelar 11 disiplin dan 13 judul game, termasuk Street Fighter 6, Tekken 8, League of Legends, PUBG Mobile, Mobile Legends: Bang Bang, Gran Turismo 7, dan tentu saja Puyo Puyo Champions. Keputusan menyertakan Puyo Puyo Champions—sebuah game puzzle yang sudah ada sejak 1991—di antara deretan judul action dan MOBA raksasa menunjukkan pengakuan Olympic Council of Asia (OCA) bahwa e-sports kompetitif tidak melulu soal first-person shooter atau arena pertarungan, melainkan juga soal ketajaman strategi dan kecepatan berpikir.
Bagi yang belum familiar, Puyo Puyo adalah franchise game puzzle milik SEGA di mana pemain harus mencocokkan empat atau lebih gelembung berwarna (disebut “puyo”) untuk meledakkannya. Pemain mahir membangun rantai reaksi berantai (chain) yang mengirimkan gelembung “sampah” ke layar lawan, memaksa lawan kehabisan ruang. Meski terlihat sederhana, level kompetitif Puyo Puyo menuntut kalkulasi cepat, perencanaan beberapa langkah ke depan, dan refleks yang tajam—kombinasi yang Kurihara kuasai jauh melampaui usianya.
Dampak dan Makna yang Lebih Besar
Kemenangan Kurihara membawa beberapa implikasi penting. Pertama, ia memperkuat narasi bahwa e-sports adalah arena di mana usia bukan penghalang—bahkan bisa menjadi keunggulan, karena otak muda memiliki neuroplastisitas dan kecepatan reaksi yang sering kali melampaui orang dewasa. Kedua, prestasinya menjadi validasi bagi program pembinaan e-sports di Jepang yang semakin terstruktur, di mana JeSU telah memberikan lisensi profesional kepada ratusan pemain sejak didirikan pada 2018.
Ketiga, di tengah perdebatan global soal masa depan industri gaming, kisah Kurihara mengingatkan bahwa esensi permainan video tetap soal keterampilan, dedikasi, dan kesenangan murni—terlepas dari format distribusi atau platform yang digunakan. Ia juga memberi wajah baru bagi e-sports yang selama ini kerap diidentikkan dengan game kekerasan, padahal cabang seperti Puyo Puyo dan Gran Turismo membuktikan bahwa kompetisi digital bisa sama elegannya dengan catur atau Go.
Sementara industri game terus bergulat dengan isu pembajakan dan monetisasi, seorang anak berusia 11 tahun dari Jepang justru menunjukkan bahwa panggung terbesar masih bisa diraih dengan cara paling fundamental: berlatih keras, tetap rendah hati, dan mencintai permainan itu sendiri. Asian Games 2026 boleh jadi akan dikenang karena banyak momen, tetapi senyum malu-malu Yuki Kurihara di podium kemungkinan besar akan menjadi salah satu yang paling ikonik.

