Bisnis & Finansial

Rupiah Kembali Jebol Rp 17.900 per Dolar AS: Yield US Treasury Tertinggi Sejak 2007 dan Minyak Dunia Jadi Pemicu Utama

Rupiah melemah tembus Rp 17.900 per dolar AS akibat lonjakan yield US Treasury

Bacotan Online – Mata uang Garuda kembali tertekan di penghujung pekan ini. Pada pembukaan perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah terdepresiasi 0,08% dan langsung menyentuh level psikologis Rp 17.900 per dolar AS. Tekanan ini bukan peristiwa sesaat: sejak pertengahan September, rupiah sudah menunjukkan tren pelemahan konsisten yang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat.

Yang membuat pelemahan kali ini berbeda dan lebih mengkhawatirkan adalah pemicu utamanya — lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang menembus 5,11%, level tertinggi sejak Juli 2007. Artinya, dalam hampir dua dekade terakhir, biaya pinjaman jangka panjang pemerintah AS belum pernah setinggi ini. Fenomena tersebut memicu arus modal global kembali mengalir deras menuju aset berdenominasi dolar, menekan hampir seluruh mata uang emerging market — termasuk rupiah.

Mengapa Yield US Treasury Melonjak Drastis?

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS bukan terjadi dalam ruang hampa. Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorongnya naik secara agresif dalam sepekan terakhir.

Pertama, data ekonomi AS menunjukkan ketangguhan yang melampaui ekspektasi pasar. Klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) turun menjadi 197.000 pada pekan lalu, lebih rendah dari perkiraan konsensus 201.000. Ini menandakan pasar tenaga kerja AS masih sangat solid, yang berarti The Federal Reserve (The Fed) memiliki alasan kuat untuk mempertahankan — atau bahkan menaikkan — suku bunga acuan demi menjinakkan inflasi.

Kedua, data Purchasing Managers’ Index (PMI) komposit AS dari S&P Global untuk September melonjak ke 58,4 — level tertinggi dalam 62 bulan. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas ekonomi masih berekspansi dengan kuat, memperkuat narasi bahwa perekonomian AS belum menunjukkan tanda-tanda landing yang diharapkan oleh pasar.

Ketiga, sejumlah pejabat senior The Fed secara terbuka membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Presiden The Fed New York John Williams dan Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson sama-sama menyatakan bahwa pengetatan tambahan kemungkinan masih dibutuhkan. Menurut CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis points pada pertemuan The Fed Oktober telah mencapai 68,6% — naik signifikan dari 55,4% pada pekan sebelumnya. Ini adalah sinyal kuat bahwa rezim suku bunga tinggi AS belum usai.

Minyak Brent Tembus 100 Dolar AS: Api Kedua yang Menyulut Tekanan

Selain yield obligasi, lonjakan harga minyak mentah turut memperparah tekanan terhadap rupiah. Harga minyak jenis Brent kembali melampaui level 100 dolar AS per barel setelah serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran baru soal gangguan pasokan energi dunia.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pisau bermata dua. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga Brent secara langsung meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi. Ini memperbesar permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik dan semakin menekan rupiah.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga berimplikasi pada subsidi energi dalam APBN. Perlu dicatat, asumsi nilai tukar rupiah yang digunakan dalam APBN 2026 adalah Rp 16.500 per dolar AS — jauh di bawah level riil saat ini di Rp 17.900. Artinya, setiap hari rupiah bertahan di level ini, beban tambahan terhadap anggaran negara terus membengkak.

Tekanan Domestik: Importir dan Arus Keluar Portofolio

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengakui bahwa tekanan tidak hanya datang dari luar. Dari sisi internal, kebutuhan valuta asing dari importir meningkat signifikan menjelang penutupan kuartal III 2026 — periode di mana perusahaan biasanya menyelesaikan kewajiban pembayaran terkait kontrak impor dan settlement transaksi lintas negara.

Pada saat bersamaan, terjadi arus keluar portofolio (capital outflow) dari aset-aset di negara berkembang. Investor global memilih menarik dananya dari emerging market dan mengalihkannya ke instrumen dolar AS yang kini menawarkan yield sangat kompetitif. Ketika obligasi pemerintah AS menawarkan imbal hasil di atas 5%, daya tarik aset di negara berkembang — yang notabene memiliki risiko lebih tinggi — otomatis menurun.

Data terbaru menunjukkan turbulensi pasar modal Indonesia juga terdampak. IHSG pada perdagangan 25 September 2026 ditutup anjlok 0,90% ke level 6.241,89, melanjutkan tren koreksi yang sudah berlangsung sejak awal pekan.

Senjata Bank Indonesia: Intervensi dan Instrumen Hedging

Menghadapi tekanan berjenjang ini, Bank Indonesia memastikan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI menegaskan strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus memperkuat efektivitas stabilisasi.

BI juga meningkatkan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sebagai instrumen lindung nilai bagi pelaku pasar. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi volatilitas dan memberikan kepastian bagi pelaku bisnis yang bergantung pada transaksi valuta asing.

Dari sisi cadangan, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Agustus 2026 tercatat di level 146,5 miliar dolar AS, naik dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli 2026. Meskipun angka ini memberikan buffer yang cukup, tekanan berkepanjangan terhadap rupiah berpotensi menggerus cadangan tersebut jika BI harus terus melakukan intervensi agresif di pasar spot.

Pandangan Ekonom: Tekanan Berlanjut Hingga Akhir Tahun

Para ekonom sepakat bahwa tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum berakhir dalam waktu dekat. Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menekankan bahwa pelemahan ini bukan fenomena tunggal Indonesia. Seluruh mata uang emerging market mengalami tekanan serupa seiring penguatan dollar index yang telah melampaui angka 101.

David memproyeksikan Bank Indonesia masih memiliki ruang menaikkan suku bunga acuan (BI rate) pada kuartal IV 2026 sebesar 25 hingga 50 basis points. Kenaikan ini dianggap perlu seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat dampak El Nino dan kenaikan harga energi global.

Sementara itu, Teuku Riefky dari LPEM FEB UI menilai bahwa keputusan BI mempertahankan suku bunga justru turut menekan rupiah karena spread dengan Fed Fund Rate semakin mengecil. Riefky memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir tahun.

Konteks Historis: Seberapa Mengkhawatirkan Level Rp 17.900?

Untuk menempatkan pelemahan ini dalam perspektif yang lebih luas, rupiah pernah menyentuh level Rp 16.500 pada awal 2026 — sesuai asumsi APBN — sebelum secara bertahap tergerus hingga level saat ini. Pelemahan total sekitar 8,5% sepanjang tahun berjalan ini merupakan salah satu depresiasi tahunan terbesar dalam satu dekade terakhir.

Yang perlu diwaspadai, level Rp 18.000 dianggap sebagai batas psikologis kritis. Jika rupiah menembus level tersebut, potensi panic selling bisa memperburuk pelemahan secara spiral. Ekonom dari LPEM FEB UI sendiri memproyeksikan kemungkinan tersebut tidak bisa dikesampingkan, terutama jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada Oktober.

Bagi pelaku usaha dan masyarakat, pelemahan rupiah berimplikasi langsung terhadap kenaikan harga barang impor — mulai dari komponen elektronik, bahan baku industri, hingga aset digital yang diperdagangkan dalam denominasi dolar. Pelemahan ini juga berpotensi mendorong inflasi imported yang pada gilirannya mempersempit daya beli konsumen domestik.

Pekan depan akan menjadi momen krusial bagi pasar keuangan Indonesia. Dengan yield US Treasury yang masih bertengger di level tertinggi hampir dua dekade dan harga minyak yang belum menunjukkan tanda-tanda koreksi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda. Respons Bank Indonesia — baik melalui intervensi pasar maupun keputusan suku bunga — akan menjadi kunci apakah mata uang Garuda mampu bertahan di atas garis Rp 18.000.

Kang Bakso

About Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like

British Columbia gugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge
Bisnis & Finansial

British Columbia Gugat OpenAI atas Penembakan Sekolah

British Columbia menggugat OpenAI terkait penembakan sekolah Tumbler Ridge, menyoroti kewajiban platform AI saat mendeteksi ancaman kekerasan.
IHSG turun 1,69 persen ke level 6.277
Bisnis & Finansial

IHSG Turun 1,69 Persen, Ditutup di Level 6.277

IHSG turun 1,69 persen dan ditutup di level 6.277. Tekanan meluas sejak pagi, dengan sektor energi serta saham bank besar